Aku Bukan Muzamil

image

Siapa yang tidak kenal dengan Muzamil Hasbalah? Mahasiswa lulusan Institut Teknologi Bandung tersebut sudah menjadi celebgram. Pemuda asal Aceh yang menjadi perhatian dikalangan aktivis dakwah, terutama kaum hawa.

Apalagi ketika melantunkan ayat suci Al Quran. Sungguh sangat merdu dan menyejukkan hati. Pemuda yang stylish ini tergabung dengan SHIFT, salah satu komunitas pemuda di masjid Al Lathief Bandung, menjadi trend bagi kalangan muda. Gaul, sholeh, dan cerdas. Siapa kaum hawa yang tidak inginkan suami seperti Muzamil?

Mengidolakan seseorang itu wajar. Apalagi sebagai motivasi untuk lebih baik lagi. Muzamil sebagai icon pemuda yang baik, bisa mengajak seluruh pemuda di Indonesia untuk belajar Al Quran dengan baik dan benar. Bacaan, tajwid, makhorijul huruf, sampai dengan menghafalkan Al Quran.

Ketika pembicaraan jodoh selalu menyenangkan dan sekaligus bisa jadi meresahkan. Setiap diri selalu menginginkan pasangan yang baik. Menyenangkan karena selalu berandai-andai untuk mengabadikan cintanya bersama pasangannya. Dan meresahkan jika sampai detik ini pun pertanyaan “kapan nikah?” lebih banyak dibandingkan pertanyaan lainnya.

Hanya saja berharap adalah salah satu bagian dari do’a. Sehingga tidak ada salah sedikit pun ketika berharap untuk diberi pasangan yang sholeh. Namun, perbaikan diri juga merupakan bagian dari doa. Ketika harapan dan perbaikan tidak sinkron, bisa jadi muara doa pun tidak akan menyatu.

Lingkungan yang nyaman, islami, dan penuh dengan kebersamaan adalah surga bagi para pencari ilmu. Mendapati jodoh dalam lingkungan seperti itu pun surga bagi para pencari pasangan hidup. Karena karakter seseorang rata-rata terbentuk karena faktor lingkungannya. Jadi, mencari jodoh pun harus di lingkungan baik dan islami.

Jika dibandingkan dengan Muzamil, secara jujur aku sudah kalah jauh. Terbentuk dalam keluarga dan lingkungan pergaulan shaleh adalah kekayaan tersendiri baginya. Pun begitu ketika berbicara tentang jodoh, secara kasat mata manusia pun, qori muda tersebut layak untuk disandingkan dengan wanita shalihah.

Jodoh memang rahasia Allah. Tidak tahu siapa yang akan menemani hidup kita. Berdoa dan berusaha adalah dua hal yang wajib kita lakukan untuk mendapatkan pasangan yang baik.

Namun kelak untuk jodohku, Aku memang bukan Muzamil. Tapi aku kagum dengannya. Aku iri dengan keshalihannya. Tapi jangan samakan aku dengannya. Aku sungguh banyak kekurangan.

Yang kadang giat mencari ilmu namun juga tidak jarang malas menjadi bagian dari dinamika aktivitas keseharianku.

Dalam beribadah pun kurang maksimal. Bahkan untuk menggerakkan tubuh di waktu subuh pun sering kalah dengan godaan.

Akhlaq pun sering kali tidak seperti dicontohkan Nabi. Emosi masih sering menyelimuti watak pribadi ini.

Dan kukatakan sekali lagi. Aku memang bukan Muzamil. Tetapi aku adalah seorang laki-laki. Yang tidak mungkin tidak akan merasa tersinggung hatinya jika membicarakan orang lain untuk seolah membandingkan dengan dirinya.

Aku memang seorang laki-laki. Sangat menginginkan diterima apa adanya daripada dituntut seperti siapa. Karena Aku memang bukan Muzamil.

Psikologis laki-laki memang seperti itu. Jika saja menginginkan jodoh yang seperti orang lain. Kenapa harus menerimanya sebagai jodohmu? Kenapa bukan orang lain yang menjadi pilihanmu?

Karena bukan hanya wanita, laki-laki pun ingin dimengerti. Menjadi baik untuk pasangannya adalah keharusan. Tetapi menuntut menjadi seperti orang lain adalah ibarat mencoreng arang di muka sendiri.

Ini bukan hanya berlaku pada laki-laki, juga berlaku untuk wanita. Aku yakin wanita pun tidak mau dibandingkan dengan wanita lain, apalagi setelah mempunyai pasangan. Jika memang masih menginginkan pasangannya seperti orang lain, berarti hakikat menerima apa adanya pasangan sudah hilang dalam kamus jodoh antar mereka berdua.

Namun yang benar kepada pasangan adalah bagaimana cara mengajak bersama dalam kebaikan, bersama dalam ketaatan, dan bersama dalam keharmonisan. Sehingga, kamus hidup di antara pasangan itu sudah tidak ada lagi kata “dia” tapi yang tersisa adalah “aku” dan “kamu”.

Apakah salah mengidolakan seseorang? Tidak! Namun yang salah adalah menginginkan seseorang yang kita cintai menjadi orang lain selain dirinya. Itulah ujian karakter terbesar dalam hidup seorang manusia, sekaligus ujian hati dalam menyikapi kata “dia” dalam kamus hidup “kita”.

Sepandai-pandainya Profesor tidak akan secerdas orang tua yang membebaskan anaknya untuk hidup menjadi orang yang baik dan bermanfaat. Mereka tidak melihat akan seperti apa anaknya kelak, tetapi fokus bagaimana memberikan cinta terbaik dan doa terkhusyu untuk anaknya.

Sehingga dalam mencintai pun, memberi selalu menjadi kata kerja utama. Karena memberikan cinta yang baik karena Allah maka Insyaallah Allah akan memberikan cinta-Nya dengan baik melalui berbanyak cara, termasuk melalui pasangan kita.

Wallahu’alam bis shawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s