Cinta itu sejatinya suci. Tergantung bagaimana kita menjaga kesuciannya.

c

ilustrasi by saatchiart.com

Adakalanya kita menemukan fenomena cinta remaja bertebaran di tengah-tengah kita. Dulu anak 90-an mengenal nama cinta mungkin semenjak memasuki SMP. Itu pun mengerti arti cinta sesungguhnya masih kabur entah apa penafsirannya. Tetapi yang pasti cinta terus berkembang dalam perkembangannya.

Miris itu ketika cinta berkembangnya ke arah negatif. Peristiwa pelecehan seksual, kriminalitas anak, dan lingkungan remaja yang serba bebas sudah bermunculan di era milenia seperti sekarang ini. Dengan dukungan digital dan pengaruh barat menimbulkan efek yang sangat luar biasa buruknya.

Namun, di sisi lain ketika ada cinta yang berubah dan berkembang ke arah negatif.  Maka bersyukurlah. Karena berarti remaja-remaja Indonesia mulai bersentuhan dengan nuansa islami. Dari yang dulunya berpacaran adalah hal yang lumrah, sekarang dengan adanya ta’aruf bisa menjadi “pesaing” terkuat bagi orang yang berpacaran. Tidak heran banyak orang yang “beralih” ke proses syar’i karena mengerti ruginya dan dosanya melakukan hubungan status yang tidak jelas (rd : pacaran).

Fitrah manusia adalah mempunyai rasa cinta.

Pun Allah telah menakdirkan manusia untuk berpasang-pasangan, terlebih lagi mencurahkan setiap fitrah manusia tersebut. Sangatlah merugi jika seseorang tidak ada keinginan untuk menggenapkan setengah agamanya. Bahkan menganggap kesendirian adalah penunjang kesuksesan adalah suatu kekeliruan. Bukankah Allah menjamin kebahagiaan dalam pernikahan yang didasari atas keridhaan-Nya?

Allah menganugerahi setiap insan berupa cinta suci. Memang begitu pada dasarnya cinta itu suci karena ia hadir dari pemberian Sang Maha Cinta. Kecerobohan kitalah yang menodai kesucian cinta. Kekeliruan memahami cinta mendorong kita ke lembah cinta semu yang didorong oleh hawa nafsu semata.

Semoga kita dijauhkan dari kesemuan cinta dari syetan. Semoga kita diberikan keutuhan cinta yang berasal dari Arasy Cinta-Nya.

Berbicara tentang cinta sangat identik dengan jodoh. Tidak dipungkiri puncak kebahagiaan seseorang dalam usaha pencarian dalam hidupnya adalah mendapati jodoh dari hasil penghambaan kepada Allah SWT. Bahkan Salim A Fillah pernah mengatakan bahwa ;

“Rumus JODOH itu adalah ketika laki-laki dan wanita sama-sama hati mereka tunduk kepada Allah, mengenal Allah , dan mengabadikan hidup ini untuk Allah”

Kemudian apa yang menyebabkan kita keliru memahami cinta adalah kita mungkin terlalu terbawa arus badai cinta, sehingga kita tidak dapat mengalirkan cinta seperti air yang mengalir pelan tapi pasti menuju ke muara yang sama.

Bisa jadi kita berbeda-beda dalam segi apapun, namun seharusnya kita dipertemukan dalam satu muara kebaikan. Itulah kuasa Allah dan itulah ketika keajaiban seorang hamba yang hanya mengharap cinta-Nya bukan kepada makhluq-Nya.

Kekeliruan selanjutnya yang membuat kita teperdaya cinta adalah kita terlalu menggantungkan cinta suci ini kepada manusia. Itu membuat kita terkaburkan atmosfer cinta sehingga kesucian cinta akan perlahan hilang sendirinya.

Ada hal yang perlu diingat untuk kita semua bahwa cinta hadir dari Allah dan jika kita menginginkan cinta ini tetap suci, maka kembalikanlah cinta ini ke Dzat Yang Maha Cinta. Tidak ada cara lain. Sehingga, bukan hanya keajaiban cinta yang akan kita dapat tetapi keberkahan pula yang bisa kita raih. Insyaallah.

Semoga ini bisa menjadi renungan kita bersama. Mari kita berjalan menuju cinta yang hakiki dan selalu menjaga kesucian cinta pemberian dari Allah SWT.

Wallahu’alam bis shawab.

By : Ferry Aldina

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s