Jika kamu ditakdirkan untukku, Jadikan aku sebaik-baik pasangan untukmu

pasangan

pasangan (dok hasmi.org)

Jika kita memilih sesuatu yang belum jelas baik buruknya, maka pastilah kita merasa bimbang. Pun juga ketika kita menunggu dalam waktu yang cukup lama akan menimbulkan kejemuan. Begitulah kita dalam kemanusiawian kita. Begitulah kita tentang perkara jodoh. Karena akar dari perkara cinta sesungguhnya terletak pada keraguan memilih pasangan dan kejenuhan dalam menunggunya.

Memilih dan menunggu. Keduanya dialami seseorang yang menanti pasangan dari Sang Maha Kuasa. Dibuatnya setiap keraguan dan ketidaksabaran menjadi pemicu munculnya pintu syetan. Mulai dari hati dengan dibelokkan niat. Merambah kepada pikiran yang tidak karuan. Memuncak pada perbuatan yang hina. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal demikian.

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS 35:5)

Pasangan hidup menentukan bagaimana arah berlayar sebuah bahtera. Ia akan melaju ke samudera kehidupan yang penuh onak dan duri. Ombak dan badai siap menghadang di depan sana. Ini adalah sebuah keniscayaan. Hanya pasangan yang siap berjuang bersama-lah berani menentukan kemana ia akan berlabuh. Menerjang ombakkah? Memutarbalik layar? Keberhasilannya tergantung bagaimana ia mempersiapkan jauh-jauh hari tentang bahtera apa yang dipakai dan dengan siapa dia akan berlayar.

Janji dari Sang Penepat Janji. Iman yang sudah terpatri dalam hati. Kemudian memahaminya dalam perenungan. Sehingga dalam setiap gerak langkah dan upaya kita dalam menjemput jodoh adalah sebuah ketetapan dalam janji-Nya.

Yang baik berpasangan dengan yang baik. Yang buruk pun berpasangan dengan yang buruk. Sesungguhnya Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya. Adakah janji Allah yang diingkari?

(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.(QS 30:6)

Ketika kita diuji dengan niat yang tidak konsisten. Maka sejatinya kita harus kembali berdoa untuk senantiasa dalam meluruskan niat. Karena niat ini merupakan pokok dari ibadah. Abu Dawud pernah berkata, “Hadits ini (tentang niat) setengah dari ajaran islam. Karena agama bertumpu pada dua hal : Sisi lahiriyah (amal perbuatan) dan sisi batiniyah (niat).”

Pada dasarnya kita sendiri tidak tahu siapa yang menjadi pasangan kita. Teka teki jodoh dibuat dalam ketidaktahuan makhluq. Mungkin faidahnya kita harus senantiasa berlomba dalam kebaikan, berusaha menjadi pribadi yang baik, berdoa mendapatkan tempat yang terbaik, dan berharap kita dibersamai oleh pasangan yang baik pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s