Sepucuk Surat dari Langit

surat

Aldi masih berharap datangnya surat itu. Setiap malam di temani ibunya yang selalu tersenyum melihat kelakuan anaknya. Ayahnya pun selalu memperhatikan tiap gerak – gerik langkahnya. Kadang ayahnya terharu. Kadang juga tersenyum. Matanya yang sembab lebih terlihat dibanding bibirnya yang merekah.

Tepat hari itu pukul 19.30 WIB. Seperti biasa Aldi berlari – lari dari masjid menuju rumahnya. Tak ubahnya seperti anak – anak lainnya, Aldi pun masih terlihat kekanak – kanakannya. Kegembiraan itulah yang membuat ayahnya selalu tersenyum bahagia.

Setelah mengaji di masjid dekat rumah, Aldi pun segera meletakkan Al – Quran di meja belajarnya. Sarung dan peci pun disimpan rapi disana. Disiplin memang anaknya. Aldi selalu teringat kata – kata ibunya untuk menjadi anak yang rajin dan disiplin. Aldi selalu menaati semua perintah ibunya.

Dengan terburu – buru dia bergegas menuju kamar ibunya. Tidak kelihatan ayahnya disana. Mungkin ayah sedang di kamar mandi, pikirnya. Tersenyum Aldi melihat ibunya. Tidak ada raut muka kesedihan di mata ibunya. Layaknya obat hati, Aldi pun merasa kembali sehat raganya ketika melihat ibunya tersenyum.

“Bu, Aldi masih menunggu surat itu. Kok lama banget balesnya ya, Bu?”

“Aldi kan pengen cepet – cepet baca suratnya. Aldi kan udah gede. Gak kayak dulu lagi harus dituntun sama Ibu”

Suara gesekan kayu dan lantai memekikkan telinga Aldi. Memang pintu rumahnya berdempetan dengan lantai yang terbuat dari keramik jadul. Tanda bahwa ada yang datang ke rumahnya. Segera dia keluar kamar. Ternyata ayahnya sudah berdiri tepat depan pintu sambil membawa kresek hitam.

Rupanya ayahnya membeli makan di luar. Pecel lele kesukaan Aldi pun tidak lupa dibelikannya. Wangi aroma daun kemangi menusuk hidungnya. Aldi tidak sabar ingin segera melahap makan malamnya.

Tanpa disuruh lagi, Aldi langsung beranjak menuju ke dapur. Dipilihlah piring plastik bermotif bunga – bunga. Entah kenapa seorang anak laki – laki suka dengan motif bunga. Tidak lupa juga Aldi membawakan piring dan air minum untuk ayahnya. Dibuatkan juga teh manis, minuman favorit ayahnya. Memberikan takaran gula dan air panas yang pas sudah menjadi keahlian Aldi. Lalu diberikannya piring dan teh manis itu ke ayahnya.

“Pintar sekali kamu, nak. Teh manisnya enak sekali. Pas manisnya”

“Siapa dulu dong yang buatnya?”

Tepukan ke dadanya seolah – olah Aldi ingin menunjukkan kebolehannya. Bak Master Chef yang sudah berpengalaman, dengan bangga Aldi mempersembahkan teh manis terbaik buatannya. Padahal hanya teh manis saja. Tapi itu bermakna lebih bagi Aldi. Terlebih lagi bagi ayahnya.

Aldi menyantap habis makan malamnya. Tampak bersih di piringnya. Hanya tersisa “rangka” lele dan daun kol yang memang tidak disukainya. Dia hanya memakan kol buatan ibunya. Itupun kalau dijadikan sayur sop. Selain dari itu, Aldi benci sekali buah kol.

“Waktunya tidur, nak”

Aldi melirik jam dinding yang tertutupi badan ayahnya. Terlihat jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Aldi memang diajarkan untuk tidur tidak larut malam. Bermain keluar rumah pada malam hari adalah larangan terbesar baginya. Aldi pun segera menaati perintah orang tuanya.

Dengan membereskan terlebih dahulu piring dan gelasnya.Aldi perlahan pergi ke dapur. Aldi berhati – hati memegang piring yang lumayan besar untuk seukuran tangannya. Kemudian tanpa membantah lagi perkataan ayahnya. Aldi pun pergi ke kamarnya. Aldi mengambil selimut seraya mengucapkan doa sebelum tidur.

Malam itu Aldi tidur dalam keheningan. Rumahnya memang terletak di pedesaan. Tidak terdengar kendaraan berlalu lalang. Sepi dan sunyi itulah gambaran di pedesaan Aldi. Dalam tidurnya, Aldi masih berharap balasan surat yang tak kunjung datang kepadanya.

Surat itu sangat berarti baginya. Entah karena dia sudah lancar menulis surat atau ada hal lain yang membuatnya spesial. Ayahnya sangat mengerti kelakuan anaknya. Ayahnya kenal betul perubahan anaknya setelah Aldi mengirimkan surat itu.

Banyak sekali kelakuan aneh yang dilaporkan oleh teman – temannya. Sempat suatu hari dia menyendiri di kelas. Teman – temannya asyik jajan sambil bermain – main di luar kelas. Sementara Aldi sibuk dengan kertas kosongnya. Dia seperti hendak menulis sesuatu di kertas kosong itu. Tapi tidak tahu apa yang membuatnya susah untuk menulisnya. Bukan karena dia tidak bisa menulis. Pasti bukan.

Itulah hari dimana Aldi akan menuliskan surat pertamanya. Satu kata pun berat untuk dituliskannya. Hari itu Aldi memang jadi sosok yang berbeda dari biasanya. Sungguh kejadian yang mengherankan bagi teman sekelasnya.

Pernah juga tetangganya melihat tingkah laku Aldi yang sedikit aneh itu. Aldi hampir tertabrak motor gara – gara berjalan di tengah jalan perumahan. Untungnya cuma keserempet. Tetangganya terheran – heran melihat kejadian itu. Aldi hanya menggenggam kertas putih sesaat sebelum motor menyerempetnya. Tak pelak Aldi kena marah oleh pengendara motor itu. Aldi hanya terdiam tidak memperdulikan orang itu. Aldi hanya fokus kepada surat yang dipegangnya.

“Kemana suratku?”

“Apa yang kamu pikirkan, Di? Nyawamu hampir hilang.”

“Aku mau suratku.” Terheran – heran sudah tetangga yang menolongnya. Tetangganya tidak habis pikir melihat kelakuannya. Hanya surat itu yang dipikirkannya.

Luka merah terlihat jelas di lututnya. Aldi seakan tidak merasakan apapun di tubuhnya. Ilmu kebal tidak mungkin dimilikinya. Matanya melihat – lihat sekeliling. Tetangga yang menolongnya tak dihiraukannya. Tangannya yang memar berusaha menjangkau kertas yang sudah kotor. Syukurlah Aldi hanya memikirkan surat dan begitu senang setelah menemukannya.

Rupanya kertas itu tidak kosong lagi. Terlihat beberapa kata sudah ditulisnya. Tidak banyak tapi besar sekali artinya bagi Aldi. Kehilangan kata – kata lebih rumit baginya daripada hanya kecelakaan tadi.

Tibanya di rumah Aldi mengganti kertas yang sudah kotor dengan kertas yang baru. Aldi memberikan tulisan tangan sebagus mungkin. Digunakannya pena pemberian ibunya. Pena itu nyaman baginya hanya saja corak warnanya sudah kabur karena terlalu lama disimpan. Jarang digunakannya pena itu, hanya sesekali saja. Aldi hanya menyimpannya sebagai pajangan.

Ayahnya yang mengetahui kecelakaan itu tidak memarahinya. Justru tetangganya yang memarahi ayahnya. Ayahnya tampak tenang melihat kicauan tetangganya. Dia tidak memperdullikan kata – kata tetangganya. Tetangganya seakan geram dan merasakan déjà vu.

“Ayah dan anak sama saja!” Geram rasanya tetangganya melihat ketenangan ayah Aldi.

Ayahnya sangat memaklumi sikap Aldi akhir – akhir ini. Ayahnya berjalan perlahan menuju ke kamar Aldi. Ayahnya berusaha tidak mau mengganggu tidurnya yang sudah pulas. Kemudian dipandangi wajah anaknya dengan baik – baik. Tampak jelas keceriaan sudah terlihat di wajah Aldi. Mungkin karena dia sudah berhasil mengirim suratnya.

“Bu, Bu, Bu!”

Dengan cepat ayahnya mendekatinya. Ayahnya mencoba menenangkan Aldi yang mengigau.

“Tenang ya, nak. Lanjutkan tidurnya.”

“Bu, Bu, Bu!”

Aldi tidak mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Matanya masih terpejam. Pikirannya hanya terfokus pada ibunya. Ayahnya tidak bisa memanggilkan ibunya. Ayahnya tidak bisa mengambil foto ibunya yang selalu menemani Aldi tiap malam. Sekilas ayahnya teringat ketika Aldi tersenyum melihat foto ibunya yang selalu senyum kepadanya. Aldi selalu menanyakan tentang balasan surat yang diinginkannya.

Tidak sengaja air mata terurai jatuh ke pipi. Ayahnya terharu seakan tidak percaya melihat kehilangan sosok ibu untuk Aldi. Balasan surat tidak akan datang karena ayahnya yang memang menyimpan surat itu. Tertulis jelas tulisan Aldi untuk Ibunya.

Aldi rindu sama Ibu.

Aldi mencintai Ibu karena Allah.

“Suratnya pasti dibalas Ibu ya, nak”

“Suratnya langsung datang dari langit, nak. Doa – doamu tiap malam untuk ibu pasti tersampaikan. Tenang ya, nak. Lanjutkan tidurmu.”

Aldi pun mulai kembali tidur. Kata – kata ayahnya sangat menenangkannya. Harapannya seakan kembali muncul. Hidupnya terlahir kembali. Menjadi anak yang sholeh kebanggaan ibunya.

.:: Aldina Fey ::.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s