Nikmat Terbesar dalam Hidup

sunset-1

Adakalanya kita sejenak merenung dan berpikir tentang kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. Jika pohon sebagai pena dan lautan sebagai tintanya sekalipun, tidak akan mampu menuliskan banyaknya nikmatNya kepada makhluq-Nya. Sebaliknya kita sering melupakan nikmat Allah yang banyak tersebut. Banyaknya nikmat dibarengi sedikitnya bersyukur.

Berbicara nikmat terbesar dalam hidup. Pernahkah menjenguk teman atau kerabat di rumah sakit? Pernahkah terlintas dalam benak kita “Alangkah malangnya orang yang sakit di sana.” Ya, kesehatan adalah salah satu nikmat terbesar dalam hidup ini. Sehingga potensi diri akan maksimal jika kondisi badan kita sehat. Sebaliknya sakit justru akan mematikan potensi diri. Ujung – ujungnya akan menjadi kaku tak berdaya. Hilanglah kesempatan untuk mengembangkan diri.

Hari ini saya berniat untuk menjenguk teman yang sedang sakit DBD di Rumah Sakit swasta di Bekasi. Karena hujan yang cukup deras akhirnya baru berangkat selepas maghrib. Genangan air masih terlihat di sepanjang jalan. Tanda redanya hujan masih belum lama. Genangannya cukup banyak sehingga menyulitkan pengendara motor seperti saya untuk tancap gas.

Setibanya di Rumah Sakit saya langsung berpapasan dengan seorang bapak – bapak berkursi roda. Tatapan matanya kosong. Badannya terlihat lemas. Gairah hidup pun bisa dibilang tidak ada. Wallahu’alam semoga hanya perkiraan saya saja. Yang pasti saya hanya melihat tampak luar. Semoga beliau cepat sembuh dan kembali fit beraktivitas.

Perawat yang mengantarkan ke pintu keluar disambut mobil yang hendak menjemputnya. Rupanya bapak itu dijemput oleh kerabatnya. Wanita yang mengendarai mobil putih itu segera membuka pintu dan mengantarkan beliau ke dalam mobil. Sekilas mobil mewah yang dipunyainya pun serasa tidak berharga mengingat harta yang paling berharganya tidak sehat seperti dulu.

Bisa dibilang rumah sakit itu seperti tidak kehabisan “pelanggan”. Tiap hari selalu banyak berdatangan. Dari pagi sampai malam, orang – orang berkerumun di loby. Entah itu untuk berobat atau sekedar mengantar atau menjenguk sanak saudaranya.

Pukul 19.00 WIB loby masih ramai. Saya hanya melihat sekilas ke sekeliling dan langsung naik ke lantai 2. Naik tangga saja tidak perlu memakai lift. Malu lah sehat – sehat tapi pengen enak naik lift. Kemudian langsung mencari ruangan yang dituju.

Setibanya disana rupanya teman saya sedang terbaring lemas di tempat tidur. Wajahnya pucat, bintik – bintik merah terlihat di tangan dan kakinya. Selang infus pun masih digunakannya. Sungguh kasihan. Hanya berdoa semoga Allah berikan kesembuhan dan penyakit menjadi pengugur dosa – dosanya.

Badan lemas. Selera makan hilang. Aktivitas tidak maksimal. Ibadah terkadang berat. Begitulah deritanya seorang yang sakit. Begitulah menunjukkan sehat itu nikmat terbesar dalam hidup. Dengan sehat kita bisa tetap bugar. Aktivitas bisa maksimal. Ibadah pun bisa terjaga. Bukan hanya sebagai melaksanakan kewajiban namun lebih dari itu ibadah sudah menjadi kebutuhan hidup.

Mari kita memanfaatkan momentum sehat dengan semaksimal mungkin. Hanya dengan badan yang sehat maka aktivitas pun mejadi maksimal. Hanya dengan badan yang sehat maka kita lebih mengembangkan potensi diri. Dan hanya dengan badan yang sehatmaka kita lebih bisa beribadah lebih baik lagi.

 

2 thoughts on “Nikmat Terbesar dalam Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s