Aku Memilihmu dan Kau Menantikanku

penantian 2

Menjadi sesuatu yang menarik untuk selalu diperbincangkan ketika berbicara jodoh. Kadang juga menjadi tabu untuk diperbincangkan saat yang ditanya jodohnya belum kunjung datang. Sehingga pertanyaan – pertanyaan seputaran “kapan nikah” menjadi hal yang menakutkan untuk sebagian orang.

Sangatlah wajar, seorang insan terutama yang “bersayap sebelah”, selalu mengingat usia yang terus bertambah, melihat orang tua yang semakin rindu kehadiran cucunya, melihat kawan sejawat menimang bayi lucu, dan melihat sepasang insan yang bersama – sama dalam ketaatan kepada Dzat Yang Maha Kuasa.

Keinginan – keinginan itu ada dalam batas kewajaran bahwasanya manusia diciptakan untuk berpasang – pasangan namun menantikan di batas waktu membuat kejemuan yang mengharuskan memendam kepedihan. Memilih dengan keraguan dan menanti dengan tidak sabar adalah contoh nyata fenomena pemuda zaman sekarang ini.

Adakalanya kita berpikir kenapa jodoh kita belum kunjung datang? Selayaknya kita harus introspeksi dulu terhadap pribadi ini. Sudah sejauh mana diri ini membuat perbaikan hidup? Apakah perbaikan diri sudah seserius dengan keinginan berpasangan? Bukankah kita menginginkan pasangan yang baik?

Apakah mungkin membeli emas dengan hanya bermodalkan angan – angan? Kita memang tidak sempurna dalam akhlak namun kesadaran diri untuk menjadi baik adalah suatu keharusan jika tidak mau hidup stagnan.

“Sesungguhnya pohon hidup ini daunnya berguguran tiap hari.”

Begitulah Anis Matta mengungkapkan analogi waktu. Kesadaran dalam mengingat mati adalah upaya terbaik jika menginginkan hidup kita bermakna. Dosa ibarat tinta hitam yang dicelupkan ke dalam air putih. Hitam kelam. Mengotori air putih yang jernih. Namun perlu tuangan tambahan air putih lagi untuk membuat air yang hitam menjadi putih kembali.

Dosa hitam akan terus terhapuskan dan keluar dari gelas kehidupan kita. Lama kelamaan, gelas kehidupan kita hanya berisi aliran – aliran kebaikan.

Jodoh itu rizqi terbesar dalam hidup. Tidak bisa diganti dengan materi. Hanya bisa dirasakan dengan ketenangan hati. Sakinah. Itulah janji Allah ketika mendapati manusia yang sudah menikah. Rizqi tersebut adalah penantian panjang seorang insan. Salim A Fillah pun menuturkan tentang rizki.

“Rizqi adalah soal rasa dan bukan soal apa yang dimiliki.”

Ada cerita menarik ketika Imam Hasan Al-Bashri kedatangan seorang lelaki. Hanya saja pertanyaannya lumayan unik. “Sesungguhnya aku  melakukan banyak dosa. Tapi ternyata rizqiku tetap lancar – lancar saja. Bahkan lebih banyak dari sebelumnya.”

“Apakah engkau semalam melaksanakan shalat malam?”

Tentu dengan keheranan lelaki itu menjawab “Tidak”

“Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua makhluq yang berdosa dengan memutus rizqinya, niscaya semua manusia di bumi ini sudah binasa. Sesungguhnya dunia ini tak berharga di sisi Allah walau sehelai sayap nyamuk pun, maka Allah tetap memberikan rizqi, bahkan pada orang – orang yang kufur kepadaNya.”

Mungkin lelaki itu setelah mendengar penjelasan Imam sampai sini pun tersindir karena dirinya merasa kufur akan nikmat yang diberikan Allah SWT. Sang Imam pun mengakhiri penjelasan dengan kalimat yang menyesakkan dada.

“Adapun kita orang mukmin. Hukuman atas dosa adalah terputusnya kenikmatan ibadah dengan Allah SWT.”

Sambung Salim A Fillah dalam bukunya “Lapis – Lapis Keberkahan” Semoga Allah melimpahkan rizqi-Nya kepada kita, dan menjaga kita dari bermaksiat pada-Nya. Dengan begitu, sempurnalah datangnya nikmat itu dengan kemampuan kita menikmati rasa lezatnya, lembutnya, dan harumnya. Di lapis – lapis keberkahan, soal rasa adalah terjaganya kita dari dosa – dosa.

sepi

Rizki berupa materi selalu diutamakan dan diperhatikan keberadaannya. Ia bahkan menjadi patokan standar kenikmatan hidup. Ia juga menjadi faktor kesenjangan sosial yang utama. Terlebih lagi jika disalahgunakan rizqinya. Tinggal menunggu saja azab dari Sang Pemberi Janji.

Hirupan nafas, Nyenyaknya tidur, dan keberkahan ilmu adalah setetes dari lautan rizqi-Nya yang patut kita syukuri dan sadari. Sadar akan keberadaan rizqi – rizqi itu akan membuat kita lebih memaknai hidup. Sejatinya, kita manusia yang kurang bersyukur atas ketidaksadaran akan tetesan – tetesan rizqi yang Allah berikan pada setiap detik kehidupan ini.

Patut diiyakini bahwa setiap kita mengamalkan sunnah berupa silaturahim dengan fadhilah dapat memperbanyak rizqi. Maka kita jangan berharap terlalu besar akan datangnya rizqi berupa materi. Karena dengan berkunjung ke handai taulan pun itu adalah kenikmatan luar biasa.

Badan sehat yang bisa dikuatkan menuju rumahnya. Canda tawa penghibur kegalauan hidup. Ilmu yang didapat dari obrolan – obrolan penuh kehangatan. Sungguh diri ini terlalu hina hanya mengharapkan materi yang tak kunjung habis untuk pemuas nafsu belaka sehingga luput akan nikmat rizqi lain yang dilupakan.

Dinamika kehidupan akan terus terjadi. Berbagai keinginan kadang melampaui batas kemampuan diri. Tidak heran jika banyak orang memenuhi keinginan daripada mementingkan kebutuhannya. Sekali saja kita terlena dalam buaian syetan maka semakin banyak juga buaian syetan yang makin besar menghampiri kita. Sesungguhnya tameng jiwa kita sudah hancur saat itu pula.

Dinamika kehidupan didalamnya ada tragedi asmara. Alangkah bahagianya orang yang terselimuti asmara. Bahagia memandang. Senyum melebar. Hati selalu terpaut. Raga tak kuat menjauh. Sungguh tidak ada yang lebih membahagiakan selain dunia asmara.

Sifat ketidaksabaran dan ketergesa – gesaan manusia sangat difahami betul oleh syetan. Dengan bujuk rayunya membuat manusia lalai akan memaknai cinta. Dibuatnya kebahagiaan semu dalam hubungan percintaan yang semu pula. Tameng jiwanya sudah hancur seketika. Iman sudah tidak lagi kokoh. Agama sudah tidak jadi patokan. Allah SWT sudah tidak jadi tempat bernaung.

Cukuplah kita merenung dengan kejadian – kejadian yang mengkhawatirkan di dunia remaja saat ini. Kekerasan seksual, pornografi, dan pergaulan bebas menjadi bahasan utamanya. Mari mulai dari diri sendiri untuk selalu mengutamakan cinta kita hanya karena Allah.

Selalu melibatkan Allah dalam setiap mencari pasangan hidup adalah sebaik – baik pengharapan. Karena Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang cinta kepada-Nya. Wallahu’alam.

.:: Aldina Fey ::.

2 thoughts on “Aku Memilihmu dan Kau Menantikanku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s