Menjemput Jodoh dari Langit

By Aldina Fey

jodoh

Jangan heran kalau di bulan Syawal banyak orang yang menggenapkan agama. Menikah. Menjalankan sunnah Nabi mengharap ridha Ilahi. Tapi haruslah heran ketika aktivitas ibadah kita menurun drastis ketika bulan syawal. Dan heranlah juga ketika kita sudah mampu untuk menikah tetapi tidak memanfaatkan momentum syawal untuk memulai perjuangan hidup dengan sang terkasih. Something wrong with you.

“Perkara jodoh itu terletak pada keraguan ikhwan dan penantian akhwat.” Begitulah kiranya Salim A Fillah (Pakar ilmu cinta saya menyebutnya). Keraguan seorang laki – laki dalam menentukan pasangannya. Entah itu kriteria yang kurang cocok atau ekspektasi yang terlalu berlebih terhadap calon pasangan hidup. Dan pastinya akhwat yang mungkin lelah menunggu dalam penantian. Wallahu’alam.

Sudah sajalah teori jodoh versi jomblogger ini. Pengalaman membuat pengejawantahan jodoh menjadi sempit. Khawatir menjadi perkataan teoritis saja tanpa bukti. Naudzubillah. Lebih baik mendoakan semoga jomblogger ini segera mendapatkan cinta sejatinya. Aamiin

Kembali dalam semangat membangun aktivitas ibadah di bulan Syawal. Katanya sih tolak ukur keberhasilan puasa kita dilihat dari bagaimana konsistensi kita menjalankan ibadah ketaatan pada bulan – bulan setelahnya. Pernah juga saya lihat caption di instagram, diterimanya ibadah puasa kita itu tergantung kontinuitas ibadah di bulan syawal dan seterusnya.

Ngeri kan? Dimana letak ngerinya? Ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan seakan menjadi sia – sia ketika ada “fatwa” seperti itu. Jujur saya belum meneliti kebenaran ungkapan diatas. Jujur saya juga mengalami penurunan aktivitas ibadah di bulan Syawal. Aura kampung halaman serasa mendukung berleha – leha dalam waktu. Kadang berbisik “maklum lah mungpung ada di rumah”.

Disadari juga manusia banyak kekurangan. Bukan seperti malaikat yang terus menghambakan diri penuh ketaatan. Juga kadang seperti syetan yang selalu mengingkari seruan Tuhannya. Manusia diberikan keberadaan pada posisi antara tersebut, yang menyebabkan kita selalu diberikan pilihan hidup. Mau hidup seperti apa?

Hanya saja ungkapan “fatwa” itu bagi saya bak api yangmengobarkan semangat kesadaran akan waktu. Mencambuk terdiamnya diri dalam kejemuan. Membangkitkan jiwa dari keterpurukan ibadah.

Sehingga tersadar  pentingnya menjadi orang yang beruntung. Selalu berusaha lebih baik dari hari ke hari. Selalu ingat bahwa waktu kita terbatas. Kejemuan, keterpurukan, Ketidaksadaran, perlu adanya kebangkitan diri.

Bolehlah kita menikmati “kemenangan” di bulan kemenangan. Yang harus diluruskan ialah jangan terlalu terlena dalam “kemenangan”. Yang perlu diingat juga adalah setelah kemenangan yang kita raih akan ada pertarungan – pertarungan yang lebih besar. Pertarungan yang membutuhkan kemenangan terbesar dalam hidup. Memenangkan pertarungan diri untuk berjaya di akhirat kelak.

Pertarungan di dunia tidak akan habis sebelum petarung itu sendiri habis dimakan usia. Ajal yang sudah ditentukan menjadi waktu pembatas petualangan hidup. Kalah di petualangan sebelum menginjak akhir hidup adalah seburuk – buruk kekalahan. Menyerah meratapi hidup adalah sikap terlemah dalam menikmati hidup. Bukankah lautan harapan masih terbentang luas?

Rasanya belum lengkap tulisan ini jika tidak dikaitkan dengan jodoh.😀 Jika mencari jodoh dianalogikan dengan sebuah game. Tidak heran kalau  bakal menjadi game terlaris sejagad raya. Karena memang kemisterian jodoh itu sendiri menjadi daya tarik setiap insan yang sedang mencari pasangan hidup. Ia hanya bisa ditemukan dari petualangan penuh lika liku di dalamnya. Sungguh indahnya pencarian jodoh.

Hal yang perlu diingat adalah mencari jodoh bukanlah permainan. Keseriusan tingkat tinggi dibutuhkan dalam mencarinya. Sengaja Allah SWT merahasiakan jodoh supaya kita melibatkan Allah dalam setiap ikhtiar kita. Karena sejatinya keberkahan dari langit adalah campur tangan dari Sang Pemilik langit dan bumi.

Diberikan yang terbaik menurut pandangan Allah meskipun terkadang berbeda dengan pandangan makhluk-Nya. Tetapi pemberian terbaik dari Yang Maha Baik tidak pernah mengecewakan. Pastilah tersimpan hikmah didalamnya.

Dengan mengikuti petunjuk Rasul dalam mencari jodoh. Disertai keyakinan janji Allah terhadap hambaNya. Diperkuat dengan perubahan diri menjadi lebih baik. Itulah sebaik – baik ikhtiar. Bukankah orang baik itu berpasangan dengan yang baik pula? Tergantung jalan yang kita menjemput juga. Baik dan diridhai oleh Allah tidak?

Screenshot_2016-07-15-18-05-58-82

Kebetulan saya sempat lihat di trending topic twitter hari ini. Hastag #IndonesiaTanpaPacaran menjadi nomor dua setelah #KarenaPokemonGo. Saya kira tidak usah terlalu dibahas mengenai Pokemon. Rasanya cukup mencari jodoh saya yang lebih urgent daripada membuang waktu untuk mencari Pikachu.

Hastag #IndonesiaTanpaPacaran membuat saya terheran ternyata banyak twit yang mengecam aksi tersebut. Kalau hastagnya diganti #IndonesiaButuhPacaran bisa jadi banyak pendukungnya. Kemungkinan bakalan kebanjiran supporter. Karena sejatinya kesenangan sesaat masih dianggap relevan dibanding kesenangan abadi. Butuh kesabaran dalam menuju kesenangan abadi. Butuh tuntunan keberkahan dalam menemukan cinta sejati.

Bolehlah saya mengutip dari perkataan Kahlil Gibran

“Jangan kau kira cinta datang dari keakraban dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah putra dari kecocokan jiwa dan jikalau itu tiada cinta tak akan pernah tercipta, dalam hitungan tahun, bahkan milenia”.

Terima kasih semoga hari – hari kita diisi dengan kebermanfaatan yang lebih. Semoga usia kita diberikan keberkahan. Kebaikan di dunia dan di akhirat. Aamiin.

 

4 thoughts on “Menjemput Jodoh dari Langit

  1. baru tau ada istilah “Jomblogger” hehe

    Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Insya Allah rejeki dan jodoh ga akan tertukar. Sudah ada tempat dan waktu yang sudah ditentukan oleh-Nya. Semangaaatt !!! ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s