Neraca Raga

By Aldina Fey

neraca

Tepat hari ini malam ke 23 Ramadhan. Sudah banyak orang berbondong – bondong mencari beribu pahala di sepuluh hari terakhir ini. Ini berarti kurang lebih 6 atau 7 hari lagi kita berada di bulan yang luar biasa ini. Allah Maha Pemurah. Disediakannya bulan Ramadhan untuk hambaNya sehingga kemudian bisa dimanfaatkan sebaik mungkin tanpa kesia – siaan. Apakah kita termasuk dalam golongan orang yang memanfaatkan waktu?

Ramadhan akan segera pergi. Seharusnya kita mencontoh para sahabat yang bersedih hati ketika Ramadhan yang dirindukan sebelumnya akan meninggalkan mereka. Banyak sekali kesibukan dunia yang membuat kita terlena akan spesialnya bulan Ramadhan. Dalam keberadaannya, Ramadhan hanya melintas layaknya ide di pikiran kita tanpa kita tangkap menjadikannya sebuah karya.

Ramadhan akan segera pergi. Namun kepergiannya didahului oleh beberapa orang. Ajal adalah perkara misteri yang sudah termaktub dalam Lauhul Mahfuz. Sesuatu mustahil bila kita dapat memprediksi kapan ajal akan tiba menghampiri. Justru dalam ketidakpastian datangnya ajal membuat kita lebih mempersiapkan diri sebelum menghadap kepadaNya.

Dunia adalah terowongan gelap menuju akhirat. Gelapnya dunia harus disinari dengan cahaya ibadah. Buah dari amalan kita merupakan titik nyala penerang bagi jalan menuju akhirat. Karena sejatinya dunia ini memang gelap gulita. Tergantung kita memilih untuk diri kita apakah kita membiarkan hidup ini penuh dengan kegelapan?

“Kebermanfaatan adalah kuncinya.”

Kebermanfaatan adalah kuncinya. Habluminannas dan Habluminallah. Menjadi seseorang yang bermanfaat adalah keharusan jika kita menginginkan cahaya terang di dunia. Hamba yang taat dan bermanfaat adalah wujud dari implementasi kita dalam memprioritaskan dunia dan akhirat.

Dunia dan akhirat adalah milikNya. Kita tidak bisa membiarkan salah satu diantara keduanya luput dari tujuan kita. Kesinambungan antara keduanya digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW  dalam implementasi kehidupan. Bahwasanya prediksi estimasi waktu di dunia adalah seumur hidup sedangkan akhirat adalah hanya satu hari. Berusaha keras terus menerus untuk kenikmatan dunia dan berusaha keras pula untuk kenikmatan akhirat seakan – akan mati esok hari.

Ramadhan adalah Syahrul Quran. Bulan dimana diturunkanNya Al – Quran. Keistimewaan yang tidak didapatkan oleh bulan – bulan lain. Bahkan Ramadhan jelas disebutkan dalam Al – Quran pertanda bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang spesial di mata Allah.

Bulan yang spesial ini tidak lengkap rasanya jika kita tidak berdekatan dengan Al – Quran. Setiap waktu luang kita selalu didampingi dengan lantunan ayat Al – Quran. Entah itu karena efek Ramadhan yang membuat kita sadar akan keberhargaan waktu atau mungkin kita menginginkan ketenangan diri dengan membersamai Al – Quran. Dua efek itu adalah bentuk kesadaran kita memaknai Ramadhan sebagai Syahrul Quran.

Masih ada sisa. Beberapa hari kedepan adalah puncak dari kemenangan kita. Mungkin alangkah baiknya kita jangan dulu terlena dengan bayangan kemeriahan hari raya. Kita sebaiknya memanfaatkan sebaik mungkin waktu yang sedikit ini untuk lebih efektif dalam beraktifitas.

Menurut pakar neuro linguistic programming (NLP), kita memasukkan sekitar 40 ribu ide ke dalam pikiran. Lintasan ide di kepala kita bisa terus fokus di satu ide, bisa pula berubah – rubah secara spontan dengan begitu cepat. Secara fisik kita diam tetapi isi pikiran terus berputar.

Jika kita hanya diam saja menjelang hari raya ini, maka kita akan kalah terus dengan pikiran kita yang terus bekerja. Raga ini kosong tanpa ada efektifitas. Raga ini butuh keseimbangan layaknya neraca yang harus selalu balance di setiap kondisi.

Kemudian pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menyeimbangkan neraca raga kita? Konteks diri dalam mengisi kekosongan adalah ikhtiarnya. Menjaga diri dari kekosongan waktu dan ketiadaan aktifitas adalah kuncinya. Karena sesungguhnya neraca raga itu hanya melakukan perlawanan kepada kita bukan pada orang lain. Sehingga posisi kita adalah terus melakukan self defense ketika neraca raga sedang goyah.

Salah satu self defense kita adalah dzikir. Banyak – banyak mengingat Allah membantu pikiran kita terus terisi dengan hal – hal yang positif karena sejatinya benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang baik. Membaca Al – Quran juga adalah bentuk dzikir (pengingat) yang lengkap. Kenapa? Dengan mentadaburi Al – Quran maka cakrawala kehidupan akan terbuka.

Ketika kita mempunyai self defense yang kuat maka pikiran kosong pun bekerja efektif dan maksimal. Isi pikiran kita bekerja dengan energi positif yang sudah kita masukan kedalamnya. Semoga dalam menjalankan malam – malam terakhir ini kita diberi keberkahan dalam setiap amal, diberi kesempatan menikmati kesunyian malam dengan kekhusuan. Selalu bermunajat kepada Allah dengan mengharapkan neraca raga ini tidak goyah dan selalu seimbang karena dengan neraca raga yang seimbang maka Insyaallah akan memberatkan neraca pahala kita. Aamiin

Wallahu’alam bis shawab.

 

2 thoughts on “Neraca Raga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s