Katalis Cinta

By  Aldina Fey

cinta

Tak terasa sudah hari ke 16 Ramadhan. Mungkin banyak diantara kita yang menanti datangnya bulan Syawal. Hari – hari yang sudah dilewatinya terasa lama sekali. Orang yang seperti ini sangat merasakan benar artinya menunggu. Tak ubahnya pepatah mengatakan menunggu itu membosankan. Mungkin termasuk didalamnya yaitu menunggu lebaran.

Tapi ada juga diantara kita yang merasakan penyesalan setelah berada di hari ke – 16. Ia tidak terlalu menunggu datangnya bulan Syawal. Bahkan berharap tiap bulan seperti bulan Ramadhan. Hari – hari di bulan suci dilalui dengan aktivitas – aktivitas bermanfaat. Sungguh tiada aktivitas yang lebih berkah melimpah (mengambil istilah Ippho Santosa) selain di bulan Ramadhan.

Orang – orang seperti ini biasanya memiliki target Ramadhan tersendiri atau mungkin target kelompok. Berkumpul bersama orang shaleh kemudian sama – sama merencanakan kegiatan di bulan Ramadhan. Lalu memantau amalan yaumi (harian) teman – temannya. Sungguh indah rasanya di dalam lingkaran cinta orang – orang shaleh.

Yang mereka sesali adalah target Ramadhan yang tidak sepenuhnya tercapai. Penyesalan syar’i mungkin tepatnya. Penyesalan bukan karena patah hati. Penyesalan bukan karena galau. Penyesalan ini berdasarkan nilai – nilai kebaikan. Penyesalan yang insyaallah menjadi ibadah.

Menjadikannya motivasi untuk lebih memanfaatkan waktu hari demi hari dengan sebaik mungkin. Karena mereka menyadari disamping motivasi target Ramadhan sebagai tolak ukurnya, mereka juga menginginkan menjadi orang beruntung yang lompatan harinya selalu jauh lebih baik dari hari sebelumnya.

Adakalanya kita merasakan “kewajaran” tantangan di bulan Ramadhan. Godaan syetan datang berasal dari dalam diri kita sendiri. Perkara ngantuk menjadi hal kewajaran bagi yang berpuasa. Saya juga sangat merasakannya, bolehlah saya mengatkan bahwa seberat – beratnya ngantuk itu ngantuk di bulan Ramadhan.

Mungkin teman – teman pembaca juga merasakan hal itu. Tilawah ketika ngantuk itu luar biasa tantangannya. Membaca dengan mata hampir menutup pada setiap ayat, mengulang – ngulang ayat yang sama, kemudian membereskan satu halaman saja terasa lama sekali. Itulah efek terberat dari rasa ngantuk.

Godaan seperti itu rasanya sangat remeh jika kita berkaca pada sejarah Nabi Muhammad SAW. Peristiwa – peristiwa bersejarah seperti peperangan rata – rata di bulan Ramadhan. Sebut saja perang yang fenomenal sekali, Perang Badr. Perang yang beranggotakan kurang lebih 300 orang melawan 1000 orang pasukan kafir Quraisy terjadi pada bulan Ramadhan, ketika orang – orang muslim sedang berpuasa.

Kemudian peristiwa Fathul Makkah, pada tahun 8 Hijriah, berlangsung pada bulan Ramadhan. Begitulah perbedaan para terdahulu kita mengisi aktivitasnya di bulan Ramadhan. Rasanya sangat jauh dengan kita yang masih terlalu nyaman, apalagi di Indonesia, negeri yang nyaman dalam berpuasa. Saking nyamannya, ada meme menggambarkan Ramadhan zaman dulu digambarkan dengan berperang, Ramadhan zaman sekarang diperlihatkan orang – orang yang tidur.

Masalahnya terletak pada atmosfer Ramadhan. Atmosfer yang menyebabkan ghirah (semangat) kita berbeda. Kita menghadapi peperangan melawan diri sendiri. Hawa nafsu yang tertanam dalam diri sebagai penghalang kita untuk memaksimalkan amalan dibulan Ramadhan, yang menjadi target kita. Ketika hawa nafsu itu mengalahkan keinginan kita beramal maka timbullah penyesalan yang sudah disebutkan di awal.

Berbicara atmosfer bulan puasa. Saya rasa harus diulangi sekali lagi karena atmosfer ini sangatlah menjadi faktor utama pengingat kita dalam meningkatkan kualitas ibadah kita. Pernahkah kita membayangkan berpuasa di negara Palestina, Suriah, atau negara – negara konflik lainnya? Mungkin kita akan berpikir beribu – ribu kali untuk menyengajakan tidur di bulan puasa. Rasa takut itu membuat kita seolah – olah terjaga kualitas ibadah kita. Menjauhkan diri dari kesia – siaan. Lebih memanfaatkan setiap hari dengan terus beramal kebaikan.

Titik terang pun muncul bahwa lingkunganlah yang merubah seseorang dalam menyikapi hadirnya di bulan Ramadhan. Tergantung bagaimana kemudian kita menyikapi lingkungan itu sendiri. Bisa jadi lingkungan, baik yang berasal dari dalam diri (hawa nafsu) ataupun lingkungan pergaulan berperan penting dalam sejauh mana kita memanfaatkan bulan yang suci ini.

Sejatinya kita juga sedang berperang layaknya sahabat di zaman dahulu, namun perang kita lebih untuk memenangkan pertempuran diri yang tidak akan ada ujungnya sampai ajal menjemput.

Kembali lagi ke target Ramadhan. Sudah berapa kali khatamkah kita di hari ke -16 ini? Pertanyaan ini juga ditujukan ke pribadi. Jujur dari saya sendiri sampai hari ini baru sampai juz 30. Sangat berbeda dibanding bulan Ramadhan dulu yang seharusnya sudah khatam. Mungkin masalah pembagian waktu yang berbeda tanpa mengurangi kualitas ibadah. Saya sendiri merancang bulan Ramadhan kali ini dengan time line tersendiri.

Seperti diatas tadi, saya fokus untuk 20 hari pertama membagi waktu ke dalam waktu siang dan waktu malam. Waktu siang itu mulai dari pagi sampai maghrib, saya habiskan dengan tilawah dan membaca. Kemudian mulai dari siang sampai malam digunakan untuk membaca dan menulis. Tentunya kontennya juga harus yang positif, kebetulan saya juga sedang mengejar target untuk bisa menyelesaikan naskah buku di bulan Ramadhan ini. Saya berdoa di bulan ijabahnya doa – doa, berharap dimudahkan segala sesuatunya dalam mempersiapkan buku yang Insyaallah saya gunakan juga sebagai mahar untuk pernikahan. Mohon doanya.

Dan pada 10 hari terakhir, saya ingin fokus ibadah dalam berlomba – lomba mendapatkan malam Lailatul Qadr.Sebenarnya timeline yang saya buat hanya untuk 20 hari pertama. Jadi, 10 hari sisanya digunakan untuk itikaf dan waktu menulis pun dipindah ke pagi hari dan malam – malam genap.

Jika kita berandai – andai bulan Ramadhan ini bersama denga orang terkasih, maka tiap harinya disirami dengan guyuran keharmonisan amal. Saling mendukung dalam ibadah. Selalu mengingatkan ketika khilaf. Tidak heran jika keluarga bisa melipatgandakan ibadah. Di satu sisi kita bisa mengingatkan, juga efek kualitas ibadah kita menjadi lebih baik. Apalagi di bulan Ramadhan ini, lebih berlipat – lipat ganda lagi kenikmatan orang yang berpuasa. Sungguh beruntung orang yang sudah berkeluarga. Semoga diberikan keharmonisan yang langgeng dan selalu diberkahi mengarungi bahtera hidupnya.

Ada satu istilah dalam ilmu kimia yang dinamakan dengan katalis. Katalis adalah senyawa bisa berbentuk liquid (cairan) atau solid (padatan) yang berfungsi untuk mempercepat reaksi kimia. Dalam hal efesiensi reaksi, sangat dibutuhkan katalis. Efisiensi dan efektifitas proses kimia adalah tujuan digunakannya katalis. Rasanya jarang sekali pabrik kimia tidak membutuhkan katalis. Karena dengan adanya katalis, efisiensi proses bisa dicapai. Kelebihan – kelebihan lain yang didapat dari katalis menjadi faktor penting perusahaan kimia memilih katalis yang tepat untuk proses kimianya.

Intinya katalis berperan penting sebagai “pemain belakang layar” dalam menyukseskan suatu reaksi kimia. Katalis hanyalah sebagian kecil dalam mengefektifkan reaksi, tetapi yang kecil inilah berarti besar dalam menentukan cepat lambatnya suatu proses.

Dalam cinta juga dibutuhkan katalis. Ianya bermanfaat dalam “menyukseskan” kehidupan cinta. Sukses dalam artian bahagia dunia dan akhirat. Ia juga berperan dalam mempertahankan keutuhan dalam rumah tangga. Sehingga katalis yang bagus adalah katalis yang senantiasa tahan lama dan terus bermanfaat dalam setiap kehidupan cinta yang dilaluinya.

Kemudian apa itu katalis cinta? Pertanyaan ini akan menimbulkan perdebatan karena jawabannya berdasarkan dari persepsi. Tentunya persepsi yang saya bicarakan pasti berbeda dengan orang lain. Tak apa yang penting masih dalam jalur positif.

Katalis cinta tidak lain dan tidak bukan adalah cinta itu sendiri. Semoga pembaca tidak kecewa mendengarkan persepsi saya.😀. Karena memang begitu adanya. Yang membuat Nabi Muhammad SAW di akhir hayat hidupnya bersabda tentang kekhawatiran pada umatnya seraya bersabda “Ummati, Ummati, Ummati” Kata – kata umatku diucapkan tiga kali menunjukkan kekuatan cinta yang mendalam. Katalis cinta itu berhasil ketika umat Nabi Muhammad SAW semakin berkembang pesat seantero jagat. Itu karena katalis cinta yang kokoh dan murni membuktikan kebenarannya bahwa sesungguhnya cinta yang berdasarkan misi yang mulia akan selalu diberikan kebarakahan.

uwais al qarni

Pernah mendengar cerita Uwais Al – Qarni?. Pemuda dicap gila oleh orang – orang pada zamannya. Dia selalu melakukan hal aneh tiap hari, dia menggendong domba untuk menaiki bukit kemudian kembali menuruni bukit sambil membawa dombanya kembali. Hari demi hari, bulan demi bulan, pekerjaan itu rutin sering dia lakukan. Semakin hari orang – orang menyebutnya sebagai pemuda sinting. Pekerjaan yang dilakukan Uwais menurut mereka adalah pekerjaan tergila yang pernah dilakukan pada zaman itu.

Domba yang digendongnya pun semakin gemuk, bobot tanggungan pun semakin berat. Itu sama sekali tidak menyurutkan langkah Uwais Al – Qarni. Malah justru memang itu tujuannya. Sampai disini pun kita sendiri yang membaca kisahnya terheran – heran. Dia sama sekali tidak mengeluh bahkan lebih bersemangat karena dia sudah memiliki katalis cinta yang luar biasa. Pastinya dia memiliki tujuan dibalik itu semua.

Tibalah waktu itu musim haji tiba. Uwais Al – Qarni sangat gembira menyambut bulan haji tersebut. Uwais memiliki perawakan yang berbeda sekarang. Berkat pekerjaan aneh yang dia lakukan membuat otot – ototnya lebih besar dari sebelumnya. Dia pun tersenyum gembira.

Seketika itu ibunya bergembira ketika Uwais akan mengajaknya berhaji ke Makkah. Sebelumnya ibunyamemiliki cita – cita untuk berhaji. Karena kondisi ekonomi yang lemah, maka Mereka harus jalan kaki menuju ke Masjidil Haram. Lantas ibunya digendong dengan penuh cinta sampai tibanya mereka di Makkah. Kucuran air mata bahagia terlihat pada ibunya. Ibunya bangga terhadap pengorbanan anaknya bisa mewujudkan mimpinya tersebut.

Meskipun awalnya dicemooh oleh orang – orang, Uwais tetap kuat dan fokus pada tujuan cintanya. Sekalipun itu menyakitkan dan kadang menurunkan semangat tetapi ketika mengingat dirinya ingin membahagiakan ibunya, dia bangkit lalu menganggap semua celotehan orang hanyalah angin sepoy – sepoy yang hanya membuatnya akan terlena dan terjatuh. Badan yang kecil membuat dia selalu bersemangat dalam melalui hari – harinya dengan menggendong dombanya menaik dan menuruni bukit. Akhirnya pun, berkat latihan dan kerja keras serta cinta yang kuat makan dia pun bisa memberikan hadiah terbesar bagi ibunya.

Begitulah katalis cinta. Bolehlah orang lain meragukan cinta kita. Tetapi yang harus menjadi pegangan kita adalah tujuan atau misi dari cinta kita itu sendiri. Pendeskripsian cinta tidak hanya berdasarkan satu pandangan namun beribu pandangan. Namun misi cinta hanya satu yaitu membahagiakan orang yang kita cintai.

Wallahu’alam bis shawab.

senyumramadhan

(Senyum Ramadhan bersama Rumah Zakat)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s