Gelas Kehangatan

By Aldina Fey

glass

Pernah mendengar istilah gelas setengah terisi setengah kosong? Bagi saya, sebagai anak teknik, gelas itu sejatinya selalu terisi. Gelas yang terlihat berisikan air saja, nyatanya ia terisi dengan udara. Jangan menyebut ini becanda. Tetapi ini merupakan penciptaan yang luar biasa bahwa komponen yang Allah ciptakan itu jangan dihilangkan begitu saja. Air dan udara adalah komponen yang nyata keberadaannya.

Itu hanya prolog saja untuk awalan. Mungkin lebih detail tentang kimia, nanti saya coba jelaskan di bab selanjutnya.

Hari ini hari ke 12 di bulan Ramadhan. Bagi saya mengejar target naskah buku ini sangatlah berat. Kenapa? Notabene saya masih buruh dan harus terus lembur hampir tiap hari, jadwal menulis pun sedikit terbengkalai. Rasanya malam ini saya harus manfaatkan sekali di kekosongan waktu saya.

Deadline yang menumpuk lebih saya suka daripada waktu luang yang terlalu banyak. Dengan adanya deadline, saya bisa memanfaatkan kekosongan waktu seperti malam ini. Waktu luang yang saya sendiri tidak ada agenda di dalamnya merupakan salah satu hal yang sia – sia bagi saya. Bukan berarti jadwal saya seperti kerja rodi yang terus menerus tanpa henti. Porsi refreshing pun ada tempatnya. Ketika agenda refreshing datang, semua agenda deadline harus diberhentikan. Pikiran juga butuh charge.

Sejujurnya saya tidak ingin berbicara berat – berat di dalam tulisan ini. Namun bagi saya yang senang membaca buku – buku biografi dan juga buku serial Anis Mata, membuat saya terbawa gaya bahasanya. Nikmat dibaca. Menggungah jiwa. Membangkitkan semangat. Itulah yang saya perlukan. Itulah daya tarik seorang penikmat buku seperti saya.

Membuat buku adalah target utama saya di tahun 2016 ini. Saya tidak mau menjadi penikmat saja tetapi ingin memiliki peran berbagi untuk sesama melalui tulisan – tulisan di blog. Blog saya jadikan arsip, sebagi usaha preventif jika terjadi sesuatu yang tidak terduga. Disamping itu juga bisa dijadikan “sejarah dunia maya” tentang saya.

Logika dari kehangatan adalah kondisi dimana ia berada diantara panas dan dingin. Hangat memang level aman bagi semua orang. Panas bisa diidentikan dengan kopi. Kadang ada yang suka kopi tapi ada juga yang tidak. Dingin sangat familiar dengan es. Minuman dingin contohnya. Tap apajadinya jika orang batuk diberi minuman dingin? Maaf analogi yang disengaja absurd.

Adapun logika cinta mengatakan bahwa kehangatan adalah bersama dengan orang yang terkasih. Dunia menjadi seakan milik berdua. Hidup berada di bahtera dengan gelombang cinta. Mengarungi luasnya lautan asmara bersama. Anugrah yang luar biasa. Saya mencoba tidak baper menulisnya

Ya begitulah cinta jika disandingkan dengan kehangatan. Andai saja saya sudah.. oh stop fokus ke topik! Memanglah manusia diciptakan berpasang – pasangan. Tidak heran kalau kita butuh seseorang teman hidup.

Teman seperjuangan. Teman bercanda. Teman apapun itu yang membuat kita nyaman. Karena kehangatan dalam cinta membuat kenyamanan dalam menjalani kehidupan.

Perspektif ruhiyah pun jangan dikesampingkan, Maksudnya ruhiyah? Pernah dengar cerita Nabi Yusuf dan Zulaikha? Nabi Yusuf yang dijebloskan ke penjara gara – gara cinta yang berlebihan dari Zulaikha?.

Saya menggarisbawahi dari cerita itu bahwa setiap jiwa yang memiliki cinta haruslah mengadukan cintanya kepada Sang Memiliki Cinta. Ketika cinta ditujukan kepada makhluk maka celakanlah ia. Buktinya Zulaikha menginginkan cinta Yusuf, ternyata malah menjadi aib kerajaan.

Tetapi jadikan cinta ini menjadi cinta murni dan tulus ikhlas karena Allah SWT. Zulaikha meluruskan cintanya dengan mencintai Allah, maka datanglah Yusuf sebagai jawaban. Luarbiasa begitulah Yang Maha Kuasa menjawab kegelisahan cinta makhlukNya.

Yang harus jadi perhatian dari gelas kehangatan adalah apa yang seharusnya kita isi di dalamnya. Apa yang dapat membuat gelas itu hangat adalah tergantung kita yang memilihnya. Komponen kehangatan  hanya bisa didapat dari jawaban atas doa – doa kita.

Kehangatan dalam hidup tidak akan sempurna selagi kita masih jauh dariNya. Apakah kisah Zulaikha dan Nabi Yusuf belum cukup menyadarkan kita bahwa untuk mendapatkan kehangatan hidup maka dekatkan diri kita kepada Yang Maha Hidup.

Selalu memperbaiki diri adalah ikhtiar kita sebagai hamba. Bukankah Zulaikha juga pernah berbuat jahat terhadap Nabi Yusuf. Kemudian dia bertobat sehingga diberikan “hadiah” luar biasa dari Allah, yaitu kehadiran Nabi Yusuf dihidupnya.

Mari kita bersama selalu mencari komponen kehangatan hidup dalam keberartian hidup kita. Hidup kita yang bermanfaat selalu menjadi warna dari gelas kehidupan kita. Bahwasanya apapun warna dari air yang kita punya, selama itu berasal dari jawaban atas doa – doa kita maka itulah air terbaik yang kita punya.

Apapun jawaban doa kita maka selalu berhusnudzon kepada Allah. Prasangka kita harus selalu baik kepadaNya. Bukan Law of Attraction terjadi disini. Allah sesuai dengan prasangka hambaNya.

So, segeralah introspeksi – bertaubat – berdoa – tawakal. Rumus yang secara teori kita sudah melotok namun aplikasinya kurang di kita. So, semangat perbaikan. Demi mendapatkan kehangatan cintaNya dalam gelas kehidupan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s