Meja Jiwa (Lingkaran Cinta)

By Aldina Fey

Meja-Makan3

 “Sesungguhnya orang – orang yang beriman adalah mereka yang apa bila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat – ayatNya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al – Anfal : 2)

Ramadhan sesungguhunya menjadi “bulan hadiah” bagi umat muslim khususnya. Banyak reward yang ditawarkan oleh Allah SWT di bulan Ramadhan. Pahala berlipat ganda pastinya menggiurkan para pecinta ibadah. Sholat Sunnah yang setara dengan sholat wajib. Bacaan Quran yang dimana satu hurufnya tidak bernilai satu pahala lagi namun berlipat – lipat pahala. Tidak heran di bulan Ramadhan ini banyak orang yang berlomba – lomba dalam kebaikan.

Ada suatu fenomena menarik di masyarakat Indonesia yang konsumtif ini. Masyarakat Indonesia sering sekali menyiapkan kebutuhan lebaran di bulan Ramadhan, bahkan sebelum masuk lebaran sudah belanja kesana – kemari. Kadang mengherankan kualitas dan kuantitas ibadah teralihkan fokusnya di akhir – akhir puasa. Fenomena yang selalu terulang lagi tiap tahun. Mungkin di belahan dunia lain juga seperti itu.

Saya memiliki teman di facebook yang berasal dari Pakistan, namanya Abidullah Khan. Dulu saya iseng stalking – stalking di Ramadhan beberapa tahun lalu, biar dapat teman baru di luar negeri. Tapi stalking disini niatnya positif. Pertama, saya ingin belajar bahasa Inggris. Kedua, ingin mendapatkan teman baru. Alhamdulillah dia humble , terbuka orangnya, dan bisa diajak sharing.  Sampai sekarang kalau ada waktu buat chatting via facebook, kami sering ngobrol – ngobrol terutama tentang budaya di masing – masing negara.

Ramadhan di Pakistan juga hampir mirip dengan di Indonesia. Kue lebaran, baju lebaran, semua yang berbau – bau lebaran pasti ada. Belanja di mall – mall sudah menjadi trend disana. Jadi persiapan lebaran sangat diprioritaskan menjelang hari – hari terakhir puasa. Thank you brother for the story

Sisi lain bulan Ramadhan di Indonesia adalah program pertelevisiannya. Bulan Ramadhan sangat memberikan efek yang luar biasa. Mulai dari sahur sampai berbuka, program televisi menjadi “teman” bagi masyarakat Indonesia. Saya kira cukup sudah terwakili oleh kebanyakan orang untuk mengkritik acara – acara kurang bermutu. Saya disini hanya ingin menunjukkan program yang berkualitas.

Saya sempat melihat video di facebook tentang program Hafidz Quran. Saya melihat caption di video itu kalau tidak salah namanya Masyita, salah satu finalis hafidz quran. Jujur, saya pribadi tidak kuasa untuk membuka video tersebut, pun sekedar untuk klik saja. Kenapa? Karena saya pasti terharu dan menangis. Jadi saya waktu itu enggan untuk membuka video tersebut.

Lama – kelamaan banyak orang yang share video tersebut. Entah karena apa. Tapi saya tetap masih tidak mau untuk membukanya. Manusia identik dengan penasarannya. Kebetulan waktu itu saya lagi istirahat di tempat kerja. Karena bosan dan mungkin butuh hiburan, maka saya buka facebook. Video Masyita masih saja ada yang share. Mungkin Allah sudah mentakdirkan saya harus melihat video itu. So, saya langsung klik video tersebut dengan “hati – hati” menonton dari menit ke menit sampai akhir.

Niat hati mencoba menahan tangis ternyata malah menjadi – jadi. Masyita yang mempunyai kekurangan penglihatannya, mampu melantunkan ayat suci Al – Quran dengan begitu merdunya. Sungguh hati siapa yang terenyuh hatinya ketika mendengar Masyita membacakan Surat Ar – Rahman. Pecah sudah!

Ust Amir Faisol mengomentari Masyita dengan mata yang masih berkaca – kaca. Beliau mengingatkan kepada kita semua untuk senantiasa intropeksi diri. Bukannya nanti mulut kita dikunci di hadapan Allah? Dan berkatalah semua anggota badan kita atas apa yang sudah diperbuat.

Mata kita sudah digunakan untuk apa? Untuk melihat barang yang haram? Melihat aurat wanita – wanita? Astagfirullah

Mulut kita sudah digunakan untuk apa? Beribu kalimat yang diucapkan hanya untuk membuat sakit hati orang? Menggunjing orang lain? Astagfirullah

Itu baru mata dan mulut, belum lagi anggota badan yang lainnya. Tidakkah kita sejenak merenung untuk memikirkan sejauh mana pertanggungjawaban kita terhadap pemberian Allah SWT yang sempurna ini? Mungkin terlalu banyak dosa yang diperbuat namun diri ini menyadari tidak kuasa masuk ke dalam panasnya neraka dan jugs merasa tidak pantas dimasukkan ke dalam surganya Allah SWT.

Taubat adalah jalan utama dan jalan terbaik yang harus kita lakukan. Momen Ramadhan ini adalah momen terbaik dalam rangka pertaubatan total. Atau dalam bahasa agama, taubatan nasuha. Bukankah bulan puasa ini adalah bulan ampunan? Bukankah salah satu keunggulan orang berpuasa adalah diijabahnya doa kita?

Mulai dari diri sendiri kemudian orang yang terdekat, yaitu keluarga. Tidak ada orang yang lebih mencintai kepada kita kecuali orang tua kita.

Ketika kita malas belajar, mereka masih mencintai kita.

Ketika kita membantah perintahnya, mereka masih mencintai kita.

Ketika kita ketahuan bolos sekolah, mereka masih mencintai kita.

Ketika kita terpuruk dalam kesedihan, mereka masih mencintai kita.

Ketika kita melupakan jasa – jasanya, mereka masih mencintai kita.

Itulah LINGKARAN CINTA. Ia bisa menjadikan seseorang terus mencintai meskipun gelombang perusak cinta selalu mencoba menghantam perahu cintanya. Karena orang – orang yang sudah memasuki LINGKARAN CINTA meyakini bahwa lautan cintanya masih terlalu luas dibandingkan secuil gelombang yang menerjang. Begitulah cinta Nabi kepada umatnya. Begitulah cinta orang tua kepada anaknya. Adakah kita meyakini cinta mereka?

Pertanyaannya bagaiamana kemudian mereka bisa bertahan dalam LINGKARAN CINTA? Apa mereka tidak terkoyak hatinya ketika orang yang dicintainya tidak menganggap keberadaan cintanya? Jawabannya adalah kekuatan doa.

Ketika para malaikat sudah geram terhadap kelakuan orang kafir Quraisy yang menghina, mencemooh, melukai Nabi, sehingga para malaikat menawarkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menimpakan dua gunung kepada mereka, tentunya dengan tujuan untuk membinasakan mereka. Namun apa yang dikatakan Beliau? Nabi Muhammad hanya berdoa kepada Allah supaya kaum kafir diberikan hidayah. Dengan cintanya Sang Pembawa Risalah, menghilangkan kepedihan yang seharusnya membekas dengan masih menaruh harapan besar terhadap umatnya.

Kemudian coba perhatikan saja orangtua kita. Kita sering saja melupakan mereka dalam setiap aktivitas kita, sering membantah. Coba bayangkan kalau kita di posisi itu? Mungkin kita bakal sakit hati. Tapi apa yang dilakukan orang tua kita. Orang tua kita masih berharap terus kebahagiaan terhadap anak – anaknya tanpa memperdulikan mau diingat atau tidak segala jasa dan pengorbanannya sehingga mereka bisa merasakan namanya suatu “kebahagiaan hidup”.

Berdoa kepada Allah adalah yang utama. Nabi Muhammad SAW dan juga orang tua kita hanya mengadukan segala keluhan di setiap doanya. Bisa jadi beberapa tetesan air mata mengucur deras karena tidak kuat menahan rasa sakit hati. Namun adakah mereka mengeluh atas ketidakpedulian kita terhadap mereka? TIDAK.

Kita sering dzalim terhadap mata kita. Melihat bukan yang sepatutnya. Padahal kita diperintahkan untuk menjaga pandangan.

Kita sering tidak tahan terhadap emosi kita. Sering kali kita marah akan hal – hal yang tidak perlu. Bahkan terhadap orang tua kita. Apakah kita lupa perintah Nabi untuk memuliakan orang tua kita? Apakah kita sanggup menahan rasa sakitnya orang tua kita saat melahirkan?

Dalam LINGKARAN  CINTA ini, saya berharap semua pembaca bisa masuk bersama – sama terhadap keutuhan cinta sejati. Sepenuhnya untuk memberi tanpa ada keinginan dibalas. Biarlah sakit hati yang melanda ini perlahan pudar karena ada kekuatan cinta dari Yang Maha Cinta yang selalu memberikan ketenangan hati. Selalu berharap orang – orang di sekeliling kita diberikan hidayah dan juga kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s