Kursi Kenyamanan

By Aldina Fey

kursi

Mengenalkan arti nyaman kepada manusia ibarat menjabarkan sebuah jawaban dengan tulisan esai. Nyaman berarti kondisi ketika berada dengan orang – orang terdekat kita. Nyaman berarti tertawa dengan orang yang kita cintai. Nyaman juga berarti bisa lulus sidang skripsi. Yang intinya nyaman adalah suatu kata dengan beragam definisi.

Ada orang yang ambisius ingin mendapatkan jabatan. Apapun caranya asalkan bisa diraihnya. Untuk apa? Mencari kenyamanan. Definisinya pun berubah lagi ketika nyaman diartikan menjadi keleluasaan dalam bertindak.

Pikiran kita sudah terisolasi dalam keduniawian sehingga melupakan sisi ukhrawi. Ternyata bukan hanya kenyamanan yang diidentikan dengan dunia. Mulai dari sisi kesuksesan, kebahagiaan, kemewahan, kemalangan, sampai dengan penderitaan. Semuanya sudah diperspektifkan segi duniawinya.

Keseringan kita mengenal kesuksesan adalah posisi seorang yang sudah mapan dan berhasil di bidang keahliannya, baik itu usaha, karir, pendidikan, dan lain – lain. Pernahkah kita memikirkan bahwa kesuksesan adalah bertemu dengan wajah Allah, Dzat Yang Maha Kuasa yang kemudian memberikan keridhaanNya untuk tinggal selamanya di surga?

Kebahagiaan yang kita dambakan adalah mendapatkan nilai akademik terbaik atau menjadi  orang terkenal. Pernahkah kita – meskipun sekilas – menginginkan di akhirat nanti, orang – orang yang kita cintai berdampingan dengan kita di surga?

Seolah – olah semuanya berbau dunia. Terus kita tidak boleh memikirkan dunia? Dalam konteks keislaman, kita diajarkan konteks keseimbangan. Justru dunia adalah gerbang pembuka menuju akhirat. Entah itu gerbang kebahagiaan abadi atau justru kenistaan abadi.

Nabi Muhammad SAW menyuruh kita berusaha secara maksimal di dunia seakan kita akan hidup selamanya. Mengeluarkan segala potensi diri supaya kita berhasil di dunia ini. Namun, konteks keseimbangan ada dalam anjuran beliau selanjutnya. Beribadah juga harus sungguh – sungguh dan selalu membayangkan seperti kita akan mati besok.

Terjawab sudah kegalauan kita. Dunia dan akhirat sama – sama pentingnya. Tidak boleh melupakan atau menghilangkan urgensi diantara keduanya. Satu saja hilang maka rugilah kita. Seharusnys keseharian kita ibarat padi yang menguning, ditunggu terus panennya sehingga buah kebermanfaatannya terasa oleh sekliling kita.

Saya jadi teringat ketika kuliah di Bandung selama tiga tahun. Rutin hampir tiap malam jumat selalu diajak teman untuk mendengarkan ceramah Aa Gym di Daarut Tauhid. Pemaparannya yang sederhana dan kadang “menyentil” jama’ah dengan sindiran halus khas Aa Gym, membuat jama’ah tersenyum malu. Tentang jodoh, tentang sedekah, tentang rokok, dan juga tentang hati.

Semua permasalahan yang dekat dengan kita dibahas dan dikaji dengan lugas. Penyampaiannya pun mengena dan kadang ada lucunya. Lucunya itu (mungkin) menertawakan diri sendiri, mengingat “kejahilan” sehari – hari kita pun dibahas. Sebagai pembelajaran dan juga sarana charge ruhiyah kita supaya bisa lebih memperbaiki diri. Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hati kita.

Heart is something complicated. Complicated bisa disandingkan dengan masalah yang tak kunjung selesai. Complicated disini berarti rumit. Namun kata complicated dalam artian hati bisa diartikan sebagai sesuatu yang kompleks. Jauh di dalam hati tersimpan banyak misteri yang tidak banyak orang tahu. Only God knows what heart talks about.

Tentang hati juga, Aa Gym pernah mengingatkan untuk selalu bersikap ikhlas, lapang dada, dan jauhi sikap dengki. Subhanallah. Bagi saya itu merupakan terapi hati paling ampuh. Ketika kita didorong rasa dengki karena kesuksesan orang lain, bisa dipastikan hati kita sedang sakit. Sifat dengki tidak ada gunanya bahkan merugikan diri kita. Ditambah lagi ketika kesuksesan orang lain itu malah menjadi – jadi. Menjadi – jadi pulalah penyakit hati kita.

Penjabaran penyakit – penyakit hati tidak akan selesai – selesai. Justru yang dibutuhkan adalah obat hatinya. Saya katakan sekali lagi. Ikhlas, lapang dada, dan jauhi dengki adalah terapi hati. Hati juga butuh kenyamanan. Hati yang nyaman dan tenteram akan memberikan efek positif terhadap aktivitas kita sehari – hari. Semoga Anda sepakat dengan pendapat saya.😀

Hati adalah segumpal daging yang dimana hatinya baik maka baik pula semuanya. Jika buruk maka buruk semuanya. Nabi SAW mengingatkan pentingnya hati melalui sabdanya tersebut. Ungkapan dan sekaligus peringatan supaya kita menjaga hati. Terus menjaga dari segala sesuatu yang dapat mengotori hati kita.

Hati ibarat kursi. Dalam pengandaiannya hati adalah kursi kenyamanan. Semua persoalan hidup akan berkenaan dengan hati. Sesungguhnya persoalan hidup yang sudah bersentuhan keras dengan hati akan membuat ketidaktenteraman hidup. Kursi kenyamanan berfungsi menempatkan sejauh mana kita merespon segala permasalahan kita. Tentunya untuk menjadikannya nyaman.

Kursi kenyamanan kita akan berfungsi jika fondasi kursinya tidak keropos dimakan rayap penyakit hati. Kursi kenyamanan kita tidak akan bisa tegak berdiri jika hanya sebagian fondasi saja yang kuat. Membersihkan kursi kenyamanan kita dari penyakit hati adalah tindakan paling pertama dan utama harus dilakukan.

Tidak hanya itu saja, membersihkan rayap penyakit hati juga harus diberikan furniture tambahan untuk kursi kenyamanan kita. Furniture tambahan kita adalah senantiasa dengan mengingat Allah. Itulah suplemen utama dalam membuat hati kita selalu sehat. Bukankah hanya dengan mengingat Allah, kursi kenyamanan kita akan lebih meneduhkan jiwa?

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s