Atap Langit

atap langit

By Aldina Fey

Menjadi seorang hamba adalah suatu keniscyaan. Bahwa setiap jiwa harus meyakini bahwa ada Dzat yang harus disembah. Ketiadaan daya dan upaya menghadapi Sang Pencipta mengharuskan kita berserah diri kepada-Nya. Kehadiran kita adalah takdir dari Allah SWT, Sang Pemberi nyawa kehidupan.

Berbeda dengan orang atheis yang menganggap tidak adanya Tuhan. Sungguh logika aneh ketika mereka beralasan dunia ini berjalan begitu saja. Tanpa ada keterlibatan Sang Maha Segala. Akal yang sudah diberikan hanya digunakan sebatas nalar kerdil.

Ramadhan ini sangat berkesan bagi saya ketika harus menyelesaikan pekerjaan yang menjadi salah satu mimpi saya. Launching Buku yang Insyaallah akan dijadikan mahar untuk pernikahan nanti. Preparing is everything. Begitulah ketika target yang sudah dibuat di bulan suci ini. Bulan Ramadhan sebagai Bulan Tilawah, Bulan Muraja’ah, dan Bulan Naskah. Semoga diberikan kemudahan oleh Allah SWT.

Jodoh masih misteri. Hati ini ingin menebak bahkan selalu berimajinasi namun diri ini takut mendahului Sang Maha Perencana. Hanya berdoalah yang bisa dilakukan. Segenap kekuatan apapun yang dimiliki, tidak akan mampu menandingiNya. Berdoa untuk kebaikan diri dan kebaikan generasi adalah lebih utama daripada membayangkan yang aneh – aneh.

Doa adalah kunci. Doa adalah senjata. Menggunakan senjata pun harus baik, dalam artian penuh harap dan kesungguhan. “Senjata” yang abal – abal hanya akan melahirkan tembakan yang sembarang. Kecuali jika senjata itu dipersiapkan sedemikian rupa, mulai dari service kemudian pemilihan peluru dan juga perlengkapan lainnya. Begitulah Nabi Muhammad SAW mengartikan bahwa doa adalah senjata orang muslim. Logikanya ketika senjata kita tidak kuat jangan harap mempan terhadap musuh. Tatkala doa kita menembus langit maka kemenanganlah yang diraih. Insyaallah

Semua orang beriman sepakat bahwa doa adalah satu – satunya agar keinginan kita terjawab para penghuni langit. Allah beserta para malaikatNya menantikan hambaNya berdoa dengan kesungguhan hati. Hati yang merendah dihadapanNya, Jiwa yang meratapi segala dosa, Kucuran air mata pertanda diri sudah terlalu hina untuk dibukakan aib – aibnya, di sanalah panggung kita menghadap Allah SWT dan di setiap doa yang diucapkan selalu mengharapkan keridhaanNya. Kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.

Aspek terpenting dari segala doa adalah perantara. Baik itu perantara waktu ataupun perantara insan. Perantara waktu yaitu berbagai keadaan yang sudah dianjurkan untuk berdoa, seperti berdoa di antara dua khutbah jum’at, berdoa ketika hujan, berdoa diantara adzan dan iqamah, dan kondisi lainnya. Sedangkan perantara insan adalah seseorang yang senantiasa ditunggu kebaikan hatinya oleh penghuni langit tatkala ia berdoa untuk kebaikan, Juga menjadi kengerian yang luar biasa ketika ia berdoa untuk keburukan sedangkan penghuni langit tidak bisa menolak permintaanya. Ialah Ibu, sang pembuka atap langit.

Success is Bullshit without mother’s praying. Kesuksesan yang hakiki adalah buah dari ikhtiar dan doa sang pembuka atap langit. Ya Saya ulangi sang pembuka atap langit. Sukses menjadi sesuatu yang omong kosong jika tidak ada orang yang mendoakannya. Jika memang menganggap kesuksesan itu datang sendirinya maka dipastikan itulah golongan yang sombong. Golongan yang tidak disukai Allah SWT.

Beruntunglah orang yang masih ada sang pembuka atap langit. Membuka dengan lirih suara yang halus. Membuka dengan kesungguhan yang kuat. Kadang membuka dengan basahnya air mata yang melekat di pipi. Doa menurut orang tidak masuk akal namun sering terkabul. Sehingga apa yang membuat diri ini selalu menomorduakan sang pembuka atap langit dibandingkan dengan yang lain? Tidak adakah nurani yang melekat di jiwa ketika ia dikesampingkan dari hal – hal remeh?

Beruntunglah anak yang masih memiliki sang pembuka atap langit. Atap yang tidak terjangkau oleh mata telanjang. Namun bisa terbuka hanya dengan suara lirih sang pembuka atap langit. Jauh mata memandang namun serasa dekat dan mudah oleh sang pembuka atap langit. Keberuntungan bagi anak yang selalu meminta doa dari sang pembuka atap langit. Kebaikan akan selalu menemani dimanapun ia menapaki jejak kehidupan.

Apa jadinya ketika atap langit tertutup?

Kesedihan mendalam. Berduka. Kehilangan setengah jiwa. Rumit. Memang begitulah cinta murni. Tidak perlu dengan kata – kata. Kebajikan di setiap kasihnya menandakan besarnya cinta itu. Kebajikan tertanam dengan tulus untuk memberi bagi yang terkasih. Chemistry Transfer yang kuat tidak akan memutuskan rantai cinta yang sudah dikirimkan. Begitulah Kimia cinta.

Tatkala kita tidak bisa meminta tolong kepada sang pembuka atap langit. Kemanakah kita akan bersua? Putus harapan kita? Maukah Dzat pengkabul segala doa memberikan cintaNya kepada sang pendosa? Malu diri ini meminta ketika sang pembuka atap langit tidak ada.

Dua hal yang harus dilakukan adalah menjadi insan yang sholeh dan mendoakan sang pembuka atap langit. Sejatinya, yang diinginkan sang pembuka atap langit adalah anak – anak yang dilahirkannya tumbuh menjadi insan yang sholeh, baik, dan bermanfaat. Tidak lebih dan tidak kurang. Karena kebahagiaan sang pembuka atap langit ketika generasinya dilindungi dengan fondasi agama yang kuat. Fondasi kesholehan yang tegak berdiri walaupun digoncang dengan gelombang godaan syetan.

Yang kedua adalah senantiasa mendoakan sang pembuka atap langit. Bukannya anak sholeh yang senantiasa mendoakan ibunya adalah amalan yang tidak terputus? Sejujurnya tidak kuat menulis kalimat – kalimat ini. Belum mampu kehilangan sang pembuka atap langit. Seakan – akan keberadaannya hilang seketika. Namun ini hanya teori kesedihan belaka dari pribadi sang pendosa ini. Semoga sang pembuka atap langit saya diberikan kesehatan selalu. Kekuatan dalam beribadah di bulan Ramadhan.

Terima kasih atas segalanya.

Aku mencintai Mamah karena Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s