Lantai Kesedihan

By : Aldina Fey

lantai

Menikah adalah sesuatu yang didambakan bagi setiap insan. Mendapatkan jodoh menjadi bagian dari kebahagiaan dalam hidup seseorang. Apalagi jodohnya itu sesuai yang diharapkan. So perfect! Makanya semua orang bersemangat mencari pasangan hidupnya. Begitu juga saya.

Menikah membutuhkan niat dan modal. Niat yang lurus dan modal yang cukup. Bayangkan sesuatu yang terburuk terjadi pada anda. Uang yang anda kumpulkan menjadi modal nikah tiba – tiba hilang. Lenyap. Pusing tidak tahu apa yang harus dilakukan. Itulah yang terjadi pada saya.

Uang yang saya kumpulkan untuk menikah ternyata hilang. Galau. Titik.

Hopeless. Lemes. Sedih. Itulah yang saya rasakan kala itu. Dan kalau mengingat itu sontak langsung saya jadi have no words to say my sadness. Tinggal beberapa bulan lagi uang terkumpul untuk dijadikan modal. Ternyata hilang. Sedih dan juga malu. Sedih karena harapan menikahi seoran wanita pun seakan – akan sirna. Pupus sudah harapan saya waktu itu. Malu juga waktu itu, terutama kepada orang tuanya.

Ujung – ujungnya down. Ya down. Galau pokoknya. Saya harus kembali menabung buat modal nikah. Dengan pengalaman itu saya berusaha keras mendapatkan penghasilan tambahan. Menulis.

Menulis menjadi sarana bagi saya untuk mengumpulkan modal nikah. Saya tidak munafik mengatakan bahwa menulis menjadi kebutuhan terpenting saya. Dorongan yang kuat untuk menikah membuat segala cara agar saya bisa mengumpulkan modal menikah. Salah satunya dengan menulis.

Mengikuti lomba kepenulisan, aktif di blog, dan lomba cerpen pun saya ikuti. Meskipun pengetahuan saya dalam menulis sangat dangkal tetapi lambat laun akan menjadi meningkat. Karena saya yakin kalau kita tekun dan menjadi kebiasaan maka tulisan kita akan jadi lebih bagus.

Menulis juga butuh ilmu. Handal dalam menulis secara otodidak adalah suatu talent yang luar biasa. Tapi sayangnya tidak pandai dalam menulis. Masih butuh ilmu. So, saya ikut Forum Lingkar Pena. Disana saya coba “mencuri” ilmu dari para senior. Cara menulis resensi, cara menulis cerpen, tips dan trik tembus media massa, dan lain – lain. Semuanya akan mendapatkan materi – materi itu jika kita bergabung di FLP

Berawal dari musibah. Ya memang semuanya harus ada pelecutnya. Mungkin musibah itu membuat saya harus sadar akan dua hal.

Kedua, saya harus rajin kembali menulis. Karena menulis adalah entrepreneur, tepatnya writerpreneur. Istilah yang coba saya gabung antara menulis dan wirausaha. Dengan menulis saya harus mencoba mengembalikan harapan saya untuk menikahi wanita pujaan saya. Modal yang terkumpul sebagian dari menulis, saya gunakan untuk menikahinya.

Pertamanya adalah saya harus sadar diri bahwa musibah ini adalah teguran bagi saya. Peringatan dari Allah SWT. Ujian ini ibarat pesan singkat untuk kemudian membuat diri ini sadar bahwa kekuatan utama itu dari Allah SWT. Jika Allah belum mengijinkan, pastilah belum terlaksana. Atau juga bahkan Allah akan memberikan sesuatu yang lebih asalkan kitanya berusaha lebih keras.

Jujur saya galau karena menganggap saya itu belum diijinkan dan belum pantas untuk menikahinya. Dan itu membuat saya galau sekali. Malu rasanya bagi laki – laki mundur dalam pertarungan cinta.

Kemudian saya mencoba memfokuskan diri kepada kemungkinan prasangka yang kedua. Jika memang ini ujian dan menjadi sarana saya untuk bangkit sehingga mendapatkan yang lebih baik, Ya berarti saya memang harus bangkit. Semuanya harus saya lakukan. Lebih keras dan lebih keras lagi.

Sekeras – kerasnya kita melewati masalah tidak akan berguna jika kita melupakan Sang Pemberi Solusi di bumi ini. Bumi diciptakan sebagai lantai kebahagiaan. Juga sebagai lantai kesedihan. Mendapati kebahagiaan adalah momen yang harus dijadikan selalu bersyukur. Bumi sebagai tempat berpijak, menjadi tempat untuk meletakkan dahi kita. Mencoba merendahkan diri terhadap Sang Khalik. Sehingga bumi menjadi lantai kebahagiaan untuk para pecinta syukur nikmat.

Bisa juga bumi ini menjadi lantai kesedihan. Bukan dalam artian negatif atau kebalikan dari lantai kebahagiaan. Tetapi ketika kesedihan melanda, satu – satunya cara adalah mengeluh. Menyampaikan keluhan melalui sujud kepadaNya. Mengadukan segala kesalahan dan dosa yang sudah diperbuat. Bisa jadi peringatan yang diberikan Allah adalah akibat dari perbuatan kita sendiri. Memaknai bumi sebagai lantai kesedihan menjadikan kita selalu ingat akan dosa – dosa kita. Ialah tempat disaat kesedihan kita berada pada puncaknya. Ialah tempat disaat kebahagiaan itu diberikan. Bumi membagikan dua makna lantai untuk penghambaan kepada-Nya. Ketika sedih dan bahagia pun sujud di muka bumi harus dilakukan. Sabar dan Syukur.

 

2 thoughts on “Lantai Kesedihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s