Dapur Keindahan

By : Aldina Fey

Lemari-Dapur-Berbahan-Kayu

Pernikahan anak seorang Khalifah, Ashim bin Umar bin Khatab sangat terkenal di sejarah dunia islam. Hati yang dilandaskan akhlak mulia menjadi pertimbangan utama Amirul Mukminin menikahkan putranya, Ashim. Percaya bahwa Amirul Mukminin tidak salah memberikan pilihan untuknya menjadi sikap nerimo Ashim yang akan menikahi seorang gadis penjual susu.

Kebiasaan Umar bin Khatab semasa menjadi khalifah adalah selalu berkeliling di setiap malam. Andai seorang keledai terjatuh karena lubang pun itu murni kesalahan seorang pemimpinnya. Umar bin Khattab tidak mau menjadi pemimpin yang lalai. Beliau memberikan seluruh jiwanya demi menjadi pemimpin yang adil. Berat beban di pundak Sang Khalifah, tentunya itulah alasan utama mengapa dulu Beliau menolak menjadi Khalifah.

Ketika sedang berkeliling dengan mantan budaknya, Aslam. Mereka berdua bersandar di dinding sebuah rumah penduduk dan tidak sengaja mendengar percakapan seorang ibu dengan putrinya.

“Putriku kemarilah, tolong campurkan susu ini dengan air!”

“Wahai Ibu, bukankah Amirul Mukmini melarang perbuatan itu?”

“Apakah kau tidak mau menuruti ibumu?”

“Turuti saja ibumu! Umar tidak melihatmu.”

“Umar memang tidak melihat kita. Tetapi Tuhannya Umar selalu melihat kita.”

Setelah mendengarkan percakapan itu, Umar menyuruh Aslam untuk menandai rumah tersebut dan hendak menemui mereka keesokan harinya. Sungguh dibenak Umar menemukan wanita berakhlak mulia adalah kesempatan untuk menikahkan dengan salah satu anaknya. Dipilihlah Ashim untuk menikahinya. Karena kejujuran dan akhlak yang baguslah, Ashim menikahinya. Cinta yang didasari kejujuran sikap dan kecintaan kepada Yang Maha Cinta menghasilkan keberkahan. Kesucian Ashim bin Umar bin Khattab dengan istrinya terus bersemi dan menghasilkan sebuah peradaban sejarah. Ashim memiliki anak perempuan. Anak perempuan Ashim in yang melahirkan Umar bin Abdul Aziz. (Sumber : Sirah Umar 182, Mahdhus Shawab 1/391)

Bibit yang baik akan menghasilkan tanaman yang baik. Begitu pula manusia. Memberikan amunisi terbaik untuk generasi masa depan adalah kewajiban orang tua. Tetapi menjadi pemberi amunisi yang baik juga harus diutamakan. Maksudnya jika kita memiliki bekal untuk mendidik anak dengan ilmu yang dimiliki. Maka, Insyaallah generasi terbaik pun siap dilahirkan. Kita semua adalah pendosa. Tak kenal istilah bersih dari dosa. Bukan berarti kita tidak bisa melakukan pembersihan diri. So, mulai dari sekarang kita harus banyak belajar supaya generasi kita memberikan yang terbaik untuk agama dan bangsa.

Tidak ada pendidikan yang lebih penting selain pendidikan agama. Menjadi seorang muslim adalah suatu keberuntungan yang teramat dahsyat. Ilmu parenting yang diperankan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat adalah ilmu parenting terbaik yang menjadi panutan kita semua. Agama memproteksi diri. Agama meningkatkan derajat. Agama memberikan kenyaman hidup. Jika pendidikan saja menghasilkan kenyamanan dan ketenangan apalagi cinta jika disandarkan dengan agama. Subhanallah.

Kisah gadis penjual susu yang dipinang oleh putra Khalifah Umar binKhattab menunjukkan derajat seseorang bukan dinilai dari jabatan atau harta seseorang. Derajat yang tinggi dimata Allah sejatinya hanya taqwa. Patuhi perintahNya, jauhi laranganNya.

Kisah gadis penjual susu juga mengingatkan pentingnya sebuah kejujuran. Dimanapun ia berada. Selalu yakin kejujuran tidak akan pudar cahayanya. Hanya akan gelap jika sudah menganggap dusta adalah hal biasa.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s