Mengembalikan Kesantrian Kota Santri

(Sebuah Artikel Kepedulian Pemuda Tasik)

masjid agung tasikmalaya

Unsur kesantrian kota Tasikmalaya sudah melekat dan menjadi identitas yang tidak bisa dipisahkan dari kota ini. Pengaruh negatif globalisasi yang merambah ke kota dan kabupaten Tasikmalaya tetap tidak mengubah jati diri kota Tasikmalaya yang tetap mendapat julukan kota santri. Gadget sudah menjadi kebutuhan pribadi warga Tasikmalaya dari kota sampai ke desa.

Dari sanalah mulai muncul bibit modernitas warga kota dan desa di kota Santri ini. Tidak sedikit inspirasi yang muncul dan berkembang dengan adanya teknologi yang merajalela di kota santri ini. Sayangnya, tidak sedikit pula dampak negatif dari mewabahnya dunia gadget yang sudah bebas diakses oleh warga. Pakaian modern yang tidak menutup aurat, tontonan buruk yang menjadi tuntunan, dan banyak lagi penyalahgunaan teknologi yang menjadi penyebab berkurangnya nilai – nilai agamis di kota Tasikmalaya.

Menjadi tugas semua elemen masyarakat mulai dari pejabat tertinggi sampai dengan warganya untuk mengembalikan identitas kesantrian warga Tasikmalaya sebagai kota Santri. Kota yang memiliki akhlak islami, penuh dengan agenda – agenda keagamaan, dan pemuda – pemudinya terhindar dari pergaulan bebas. Sehingga, kemajuan zaman tidak akan merubah identitas kesantrian kota Tasikmalaya.

Eropa menjadi kiblat pergaulan bebas di dunia. Pergaulan bebas yang sudah masuk dan tidak ada upaya filtering di Indonesia sehingga menyebabkan warga Indonesia ternodai dengan pengaruh dari pergaulan bebas. Menjadi fokus utama Tasikmalaya khususnya untuk meminimalisir pergaulan bebas. Sesuatu yang sebenarnya menjadi tugas seluruh daerah di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Tetapi yang menjadi kekhasan Tasikmalaya adalah sifat kesantrian dari warganya yang berangsur – angsur luntur ditelan zaman seiring dengan maraknya contoh – contoh pergaulan bebas yang sudah menjamur ke semua usia.

Media menjadi tombak utama untuk menjadikan generasi muda hancur lebur kehilangan masa depan terutama lagi bangsa ini sudah tinggal menunggu akhir cerita tentan kereligiusan bangsanya. Negara ini memang bukan negara agama tapi bukan berarti nilai – nilai agama diabaikan begitu saja. Menjadi tak lazim jadinya ketika agama hanya menjadi identitas belaka tanpa mendalami sebagai kebutuhan hidup agar terciptanya hidup yang teratur dan damai. Sehingga upaya preventif dalam pergaulan merupakan hal yang mendasar untuk menjaga jati diri kota Tasikmalaya sebagai kota dengan kehidupan yang nyantri . Nyantri warganya nyantri pejabatnya dan nyantri kotanya.

Teori tanpa bukti menjadi kepalsuan belaka. Pertanyaan terbesar adalah bagaimana caranya? Cara terampuh untuk mempreventif kota Tasikmalaya dari gelombang pergaulan bebas melalui media elektronik ataupun media sosial yang sudah tidak terbendung lagi arusnya. Hal yang pertama adalah pendidikan agama. Lebih tepatnya adalah mengedukasi nilai – nilai agama di dua tempat krusial. Sekolah dan rumah. Sekolah menjadi penting untuk mendapatkan nilai – nilai agama karena interaksi anak lebih lama di sekolah dibandingkan dengan tempat lain. Pertama melalui kebijakan sekolah dengan peraturan yang ketat membatasi pergaulan antar lawan jenis. Sekolah negeri atau swasta memang bukan pesantren. Tetapi tidak salahnya sekolah negeri atau swasta di Tasikmalaya mencontoh kebijakan dan peraturan yang ada di pesantren.

Ketatnya peraturan di pesantren seperti pakaian yang diwajibkan menutup aurat menjadi aturan yang saklek harus ditetapkan di seluruh sekolah di Tasikmalaya. Peraturan dasar ini harus diterapkan di seluruh sekolah di Tasikmalaya. Peraturan selanjutnya adalah perlunya pengetatan interaksi antar lawan jenis di sekolah – sekolah di Tasikmalaya. Sangat penting untuk melarang adanya interaksi yang tidak perlu antar lawan jenis bahkan bermesraan itu perbuatan yang sangat dilarang dan mencoreng muka sekolah bahkan kota Tasikmalaya.

Seperti kita ketahui bahwa Walikota Tasikmalaya menggalakkan program One House One Hafidz. Memang rumah adalah pesantren terkecil dari kehidupan rumah tangga. Penanaman nilai – nilai agama di rumah sangat penting karena dari sanalah berawal karakter pribadi seorang anak. Menjadikan anak sebagai pribadi yang baik adalah tanggung jawab utama orang tua. Pembekalan usia dini – terutama nilai agama – adalah faktor terpenting untuk membekali anak terjun ke dunia luar. Dibalik program One House One Hafidz tersimpan misi penting yaitu mempelajari dan mengamalkan ayat suci Al – Quran di setiap skctor kehidupan bermasyarakat. Sehingga perlu adanya konsistensi dan pengawasan serta semangat dari semua pihak untuk mendukung program One House One Hafidz.

Yang tidak kalah penting adalah pemerataan edukasi di kota dan kabupaten Tasikmalaya. Edukasi yang merata merupakan impian dari kalangan pesisir kabupaten yang kurang terjamah. Tidak dipungkiri bahwa mewabahnya gadget ke semua daerah sampai ke kabupaten memberikan dampaknya tersendiri. Penyalahgunaan gadget sungguh menjadi momok terbesar dan awal terburuk untuk memberikan stimulus maraknya pergaulan bebas di kota santri ini.

Ketika edukasi yang sudah merata bisa terwujud maka Tasikmalaya menjadikan dirinya sebuah barometer kota agamis di Indonesia. Kota yang terkondisikan dari ancaman pergaulan bebas yang susah terbendung kemudian peraturan yang memberikan shock therapy sehingga tidak ada yang bisa melanggarnya di setiap sekolah baik negeri ataupun swasta. Barometer kota agamis adalah sesuatu yang harus ditargetkan oleh semua pihak. Mimpi sebagai barometer kota agamis ini adalah suatu perwujudan keseriusan kota Tasikmalaya dalam mengembalikan kesantriannya. Ini adalah harga mati sebuah kota santri untuk mencegah generasi muda pupus harapannya, hilang masa depannya, dan tetap berpegang teguh terhadap nilai – nilai agama.

Tulisan ini didedikasikan untuk kota tercinta, Tasikmalaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s