Menulis itu Terapi

Oleh : Ferry Aldina

2212201111506

foto ketika kuliah di Politeknik Negeri Bandung tahun 2011


Tepat pukul 01.33 am jam di handphone. Menggigil, pegal – pegal rasanya badan. Mungkin alasan yang tepat ialah badan tidak cocok dengan AC yang sudah dipasang di kontrakan bersama. Futsal juga alasan badan ini menjadi pegal – pegal. Sayangnya tengah malam ini tidak terasa hangat karena tidak diiringi kekhusyuan shalat malam. Alhasil, bangun tidur tepat adzan Shubuh. Bergegas namun berat. Menjadi orang terakhir berangkat dari kontrakan ke masjid kala subuh itu. Sambil mengingat banyak yang harus dikerjakan di bulan April ini. Posting di blog, merampungkan buku pertama yang ingin saya buat, dan menulis cerpen tentang kota Semarang.

Hari – hari dilalui dengan membaca buku dan novel. Dimulai dari Lapis – Lapis Keberkahan karya Ust Salim A Fillah, dilanjut tentang sejarah Umar bin Khatab sekaligus menjelaskan tentang pembelaan terhadap fitnah terhadap beliau dan juga kisah – kisah tauladan lainnya dari Amirul Mukminin. Kedua buku itu belum dibaca sampai tuntas. Butuh konsentrasi lebih untuk membacanya apalagi bahasa sastra Ust Salim A Fillah perlu dicerna secara mendalam karena tiap kata yang dituliskan ibarat tangisan bayi yang penuh makna. Susah mengartikan pada awalnya tapi khidmat nan sejuk ketika mendapati makna tulisan dari beliau. Kemudian Sirah Umar bin Khatab tidak begitu tuntas karena saya pikir itu bisa diselesaikan nanti berhubung saya sendiri sudah melihatnya di serial Film Omar.

Tepat pukul 06.02 am dimulailah penulisan untuk blog ini. Mata ini sungguh berat tapi seakan badan menolak untuk tidur lagi. Mata perih jika diteruskan tidur. Kebiasaan ini (tidur setelah subuh) seharusnya tidak saya lakukan dan Bismillah saya mencoba istiqamah untuk tetap mengisi waktu setelah Subuh. Dzikir Pagi disambung dengan tilawah juz kedua QS Al – Baqarah memulai pagi yang begitu cerah. Tidak tampak tanda – tanda akan datangnya hujan dan memang Kota Patriot sudah beberapa hari tidak merasakan hujan. Kabar tidak mengenakkan saya dapati dari BBM kalau di Garut Selatan terjadi gempa 6,1 SR. Kota Tasikmalaya, kota kelahiran saya dan tempat tinggal Ibu Bapak, tidak jauh dari kota Garut. Cukup 1 jam menempuh perjalanan dengan bus. Saya ambil handphone dan langsung nama kontak “My Mother” saya hubungi. Memang terasa juga gempa di Tasikmalaya Alhamdulillah kabar ibu bapak baik – baik saja. Rutinitas membaca dan menulis adalah terapi bagi saya sendiri ketika hati ini galau, pikiran kacau, dan badan tidak tau melakukan apa. Hanya butuh waktu merenung dan memikirkan rencana kedepan untuk seorang bujang seperti saya.

Menikah. Ialah hal menarik yang menjadi misteri kehidupan setiap laki – laki dan perempuan. Insan mendambakan jodoh yang terbaik. Terbaik menurut Allah adalah sebaik – baik pemberian. Pemberian dengan disertai keberkahan adalah hadiah luar biasa dari Sang Maha Cinta. Novel Ayat – Ayat Cinta 2 sedang saya baca tapi seharusnya bulan – bulan kemarin sudah khatam. Novel Api Tauhid dan Ayat – Ayat Cinta 2 adalah karya Kang Abik, sang novelis nomor satu di Indonesia, dua novel itu saya beli berbarengan namun Api Tauhid adalah novel pertama karya Kang Abik saya baca terlebih dahulu. Saya ringkas supaya tidak terlalu panjang untuk memposting di blog ini. Novel Ayat – Ayat Cinta 2 ini kelanjutan aktivitas pagi saya hari ini. Tapi hal yang terlewatkan adalah posting di blog. Tidak pikir panjang lebar, saya tamatkan dulu bab novel yang sedang saya baca. Kemudian saya langsung membuka laptop yang standby dari semalam setelah membaca kumpulan cerpen kompas.

Menulis cerpen. Lebih tepatnya mengikuti lomba cerpen tentang kota lama Semarang adalah target saya bulan ini. Saya menginginkan jam menulis saya lebih lama dan padat dengan berpartisipasi di setiap lomba kepenulisan. Disamping itu hadiah cerpen itu lumayan untuk menjadi modal menikah. Tidak muluk – muluk saya mah. Semoga Allah mempermudah jalan saya menikah dengan pasangan yang siap menjalanin kehidupan dari nol. Istri yang setia terhadap suami. Menginginkan surga dengan taat kepada suami. Membarengi kehidupan bersama. Menjadikan hidup ini bermanfaat. Menjadikan keluarga yang penuh dengan akhlak – akhlak islami. Keluarga yang penuh kesabaran dan kesyukuran. Siap membangun bahtera rumah tangga dari dunia menuju akhirat yang sudah jelas keberadaannya. Kehidupan kekal yang jika kita taat di dunia insyaallah akan mendapatkan kenikmatan yang indah tak berujung kelak nanti di akhirat kelak.

Pagi ini pun saya lanjutkan dengan membaca novel Kang Abik sambil menunggu waktu untuk bersiap bekerja. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s