Ketika Kebanggaan Indonesia Sudah Hilang

proud of indonesia

Jika kita mempunyai mesin pemutar waktu dan mencoba memposisikan diri kita pada 70 tahun yang lalu, apa yang kita rasakan? Apa ada hati yang tersentuh ketika perjuangan para pahlawan membuahkan kemerdekaan yang suci? Apakah ada mata kita mengucurkan air mata kebahagiaan yang luar biasa? Apakah jantung kita mencoba untuk berhenti sejenak karena adanya suatu peristiwa sejarah yang akan terus dikenang?

Saya jamin jawabanya adalah PASTI. Pasti kita akan merasakan kemerdekaan yang hakiki buah hasil kerja keras para pendahulu kita yang terus menerus tanpa lelah berjuang demi kemerdekaan rakyat. Harta. Waktu. Tenaga. Semuanya dikorbankan demi terkibarnya bendera merah putih di langit Indonesia. Tanah air berjuta keindahan alam di dalamnya. Tanah air yang terus harum dengan darah para pejuang demi terproklamirnya kemerdekaan Indonesia.

Apa jadinya ketika mesin pemutar waktu itu kita salah membawa kita dan menempatkan kita pada 300 tahun lebih dari waktu sekarang. Mungkin rasanya kita tidak mau berada di bumi Allah yang tiap harinya terus bekerja paksa tanpa upah. Tiap hari tidak ada tujuan hidup. Tiap harinya hanya ada penyiksaan yang tiada ujungnya. Berdoa,  menjadi satu -satunya senjata kita. Mengangkat bambu runcing adalah level tertinggi untuk mendekatkan kita pada kemerdekaan atau kematian suci.

Kita harus menjadikan momen kemerdekaan ini menjadi momen muhasabah. Momen introspeksi diri karena sejatinya tabi’at seorang manusia adalah selalu timbulnya kesadaran melihat peristiwa-peristiwa memprihatinkan. Ya memang jika kita mengingat sesepuh kita pada masa penjajahan maka mungkin boleh jadi kita tidak bisa tenang melakukan apapun. Makan. Bekerja. Berwisata. Semuanya terasa ada yang mengganjal.

Bersyukur adalah hal yang paling utama ketika kita berjumpa dengan hari kemerdekaan kita. Bangsa Indonesia. 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015. Syukur kita adalah menjadi orang yang senantiasa membuat bangsa Indonesia ini beruntung memiliki kita. Memiliki kesadaran untuk berbuat lebih baik dari waktu ke waktu.

Rasulullah saw. bersabda bahwa “Hari ini harus lebih baik dari  hari  kemarin, jika  hari ini sama seperti  hari kemarin kita adalah golongan orang yang rugi, dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin kita termasuk golongan yang celaka”.

Indonesia saat ini adalah bentuk ketidaksyukuran atau bisa jadi cambukan dari Allah untuk menyadarkan kita. Mulai dari olahraga yang terpuruk di mata dunia karena tidak adanya sinkronisasi antara pejabat-pejabat diatasnya. Ironisnya. Korban dari semua itu adalah bangsa Indonesia itu sendiri. Tidak ada lagi bibit muda yang bisa kita lihat di persepakbolaan Indonesia. Semoga kejadian ini bisa cepat diselesaikan.

Dari segi ekonomi, rupiah yang semakin merosok ke angka hampir 14.000 per US Dollar merupakan kemunduran ekonomi yang jauh mengingat kita belum pernah mendapat kemunduran yang begitu pesat selama periode ini. Semoga semua permasalahan dapat diberikan jalan keluarnya. Semoga Indonesia secepatnya keluar dari kondisi yang tidak stabil ini.

alam indonesia

Jika kita berbicara kebanggan tentang Indonesia. Pastilah semuanya sepakat banyak aspek yang bisa dilihat untuk mencari sisi kebanggaan menjadi Anak Indonesia. Tanah dan Air. Dua hal itu bisa menjadi poin mengapa kita bangga menjadi anak Indonesia. Tanah kita yang luas dan subur adalah kebanggan utama. Banyak sekali jenis tanaman dan kekayaan alam yang berasal dari tanah kita. Karena tanah kita adalah tanah yang dianugerahi kesuburan.

Kemudian ketika berbicara air. Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Tiga dari enam pulau terbesar di dunia berada di Indonesia, Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Keeksotisan pulau-pulau di Indonesia menjadikan Indonesia tempat tujuan utama para wisatawan local ataupun asing. Pulau yang bule-bule sering bicarakan. Pulau yang orang asing selalu sharing pengalaman berwisata di media sosial. Ya disinilah di Indonesia. Tanah kelahiran kita. Tanah air yang terus kita banggakan. Tanah dan Air saja sudah mencerminkan bagaimana pembicaraan kita tentang mengapa harus bangga menjadi anak Indonesia. Banyak lagi aspek yang seharusnya menjadi kebanggan kita yang apabila kita terus gali sedalam-dalamnya.

SESUNGGUHNYA kebanggan yang hakiki adalah bukan kita bangga akan apa yang ada dimiliki bangsa Indonesia. Justru kebanggaan sejati adalah ketika Indonesia bangga memiliki kita para pemuda Indonesia.

Imam Syafii mengatakan : Sungguh pemuda itu distandarisasi dari kualitas ilmu dan ketakwaannya. Jika keduanya tidak melekat pada struktur kepribadiannya.Ia tidak layak disebut pemuda. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan (syubbanul yaum rijalul ghod)”.

Memanglah sesuai jika kita semestinya berbuat sesuatu untuk Indonesia. Seperti halnya seorang ibu bangga kepada anaknya jika anaknya berprestasi. Maka Indonesia pun akan bangga ketika ia mempunyai pemelihara dan pengharum nama bangsa di dunia Internasional. Pemuda yang berkarya. Pemuda yang menjaga semangatnya. Pemuda yang selalu taat beribadah. Pemuda seperti itulah yang diharapkan bangsa ini.

Dijadikannya merah putih berkibar di dunia. Didengarkannya lagu Indonesia Raya dihadapan dunia. Diseganinya bangsa Indonesia oleh bangsa-bangsa di dunia. Dan disyukurinya setiap jengkal kekaayaan alam yang ada di Indonesia untuk kesejahteraan bersama.

Melihat kondisi Indonesia sekarang yang sedang tidak stabil. Ada beberapa hal yang bisa di analisa.

Pertama adalah ketidaksiapan para pemimpin negara mengelola negara ini. Kedua adalah Adanya kepentingan pribadi dan hawa nafsu yang menghancurkan tujuan utama para pejabat negara. Kenapa dua hal itu ditujukan kepada pemimpin bangsa ini? Ya memang para pemegang kendali, pembuat kebijakan, pemberi keputusan. Semuanya adalah tanggung jawab para pengendali utama.

Kita sebagai rakyat Indonesia bukan sepenuhnya menjadi korban dari ketidaktanggungjawaban para pemimpin bangsa. Tapi justru kita juga menjadi pelaku utama untuk menjadikan bangsa ini lebih terpuruk atau memberikan perubahan. Jika kita diam saja maka tinggal menunggu saja kita untuk berakhirnya masa kejayaan bangsa.

Kita sudah terlanjur memilih para wakil rakyat yang sudah berada di tempat duduknya. Kursi penentu arah kebijakan dan kemajuan bangsa. Kita hanya bisa berdoa untuk segera diberikannya terus kesadaran beramanah dalam bekerja kepada para pemimpin negara.

Kita juga tidak terlambat mempersiapkan diri untuk menjadikan diri kita pemimpin. Mental pemimpin. Mental yang senantiasa dihiasi sikap tanggung jawab, bekerja keras, dan bermimpi besar.

Baik itu untuk dirinya sendiri, masyarakat atau bahkan menjadi pemimpin bangsa untuk di masa depan kelak. Semoga momentum kemerdekaan ini menjadikan kita sadar untuk bersyukur dan berbakti supaya bangsa Indonesia bangga memiliki pemuda Indonesia. MERDEKA. DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA. Wallahu’alam bis shawab

proklamasi

(Ferry Aldina. 2 Dzulqodah 1436 H)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s