Berkembangnya Berbagai Ajaran Islam di kalangan Profesional

islam1

Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan segala kenikmatan di sejuknya pagi ini. Pagi yang senantiasa selalu membawa berkah didalamnya. Berkah di dunia dan akhirat bahwa sesiapa yang mengambil “start” lebih awal dengan dua rakaat sebelum subuh maka dia adalah orang yang beruntung bisa mendapatkan keberkahan dunia dan seisinya. Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725). Ya memang muslim ini sungguh beruntung bisa mendapati ibadah yang lima waktu. Ibadah yang mengajarkan keteraturan waktu. yang bisa lebih mendekatkan diri di setiap lima waktunya. Karena pada dasarnya hidup akan lebih bermakna jika adanya kesadaran akan waktu bahwa waktu hidup ini akan terus bergulir dan untuk apa waktu hidup kita digunakan. Begitu juga karena waktu itu tidak dapat didefinisikan terutama waktu hidup kita maka dengan adanya waktu hidup yang “fiktif” ini digunakan oleh sebagian orang untuk melakukan hal yang sia-sia bahkan perbuatan maksiat. Naudzubillah. Semoga kita dijauhkan dari perbuatan maksiat. Tetapi itulah fenomena manusia dimana ada putih maka ada warna-warna lain yang menghiasi setiap lembaran putih yang dimiliki. Mau diberikannya warna yang cerah atau warna yang kelam untuk lembaran hidup ini? Itu adalah pilihan yang harus diperjuangkan. Tak heran banyak slogan “Hidup itu pilihan” “Hidup itu perjuangan” Ya memang ada benarnya bahwa hidup itu selalu terus berjuang terutama memerangi syetan dan hawa nafsu diri yang selalu siap menyerang dari berbagai sasaran. Atas. Bawah. Belakang. Depan. Firman Allah SWT “Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” [ QS. Al A’raf : 16 – 17 ].

Berbicara soal professional, saya mencoba mempaparkannya sesederhana mungkin mudah-mudahan tidak malah menjadi pusing dibacanya. Profesional adalah suatu bidang atau ranah kerja seseorang untuk mendapatkan penghidupan baik itu berupa materi atau berupa non materi seperti ilmu atau hal lainnya. Ketika kita terjun di dunia professional atau dunia kerja maka yang harus dilakukan adalah kita harus bertindak professional juga. Maksudnya kita harus selalu bersikap tanggung jawab atas apa yang dikerjakan karena sejatinya kita ini masuk ke dunia professional tidak lain salah satunya adalah untuk mencari nafkah. Bukan berarti ranah keluarga atau rumah tangga bukan merupakan professional karena rupanya mendidik anak dan membangun keluarga juga membutuhkan keprofesionalan kita kepada Allah SWT. Tetapi identiknya dikalangan awam, professional adalah dunia kerja dimana orang-orang tempat mencari nafkah. Wajib hukumnya seseorang laki-laki yang sudah keluarga untuk mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga. Banyak orang berlomba mencari pekerjaan yang menghasilkan pendapatan yang tinggi. Banyak orang berebut untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Banyak juga orang saling sikut menghilangkan “pengganggu” dengan berbagai cara yang tidak sehat. Akan tetapi sedikit orang yang mencari pekerjaan untuk mendapatkan ketenangan hidup. Sedikit orang menginginkan pekerjaan yang bisa menambahkan kedekatan dirinya kepada Allah, Sang Maha Pemberi Rezeki. Normal memang dan tidak salah rupanya jika orang beranggapan begitu dan lebih baik lagi kalau ada pekerjaan yang memberikan penghasilan yang besar dan juga bisa lebih meningkatkan ibadah kita. Intinya, berbagai pekerjaan dengan beraneka macam penghasilan mulai dari terendah sampai paling tinggi pun pada akhirnya kita sangat membutuhkan ketenangan hidup. Tidak lain hanya dengan agama lah yang membuat kita bisa tenang. Meningkatkan penghambaan kita kepada Sang Maha Tinggi merupakan jalan utama untuk mendapatkan ketenangan. Tidak heran gaji yang setinggi langit pun masih mencari-cari asupan ruhiyah dengan mengikuti berbagai ajaran ataupun rajin beribadah dan kajian-kajian demi untuk mencari ketenangan hidup.

Masuknya ajaran dikalangan professional merupakan sarana dakwah ajaran-ajaran atau aliran yang “ahsan” ataupun sesat sekalipun. Karena sejatinya ajaran sesat pun ingin menyebarkan “dakwahnya”. Pergerakan syi’ah di Indonesia ini sungguh harus diwaspadai karena tokoh Syi’ah Jalaludin Rakhmat sudah masuk ke ranah politik pemerintah. Bagaimana jadinya kalau kita hanya tinggal diam sedangkan kita diatur dan diberikan undang-undang yang bisa menyengsarakan agama rakyat. Bangsa Indonesia ini sudah cukup berpengalaman dengan berbagai penindasan. Ekonomi, budaya, pendidikan, dan sosial mengalami masa-masa yang tidak jelas. Jangan biarkan lagi tokoh-tokoh sesat itu bergerak bebas di bumi Allah yang dikaruniakan muslim terbesar di dunia. Yang cukup menarik dikaji menurut penulis adalah berbagai ajaran-ajaran “ahsan” atau bisa disebut familiar di telinga, yang sudah masuk ke ranah professional. Seperti salafi, ajaran yang menggiatkan kembali sunnah-sunnah Rasul dari mulai ibadah sampai ke ranah sehari-hari berupa pakaian. Tak heran kalau misalkan di kalangan buruh ataupun pekerja lainnya mudah untuk ditemukan orang-orang yang sudah memiliki pemikiran salaf. Diantaranya berpakaian cingkrang atau celana tidak menutupi mata kaki. Ajaran salaf ini merupakan ajaran yang bisa cukup diterima di kalangan buruh karena di tengah kesibukan bekerja, kita membutuhkan cakupan energi ruhiyah berupa kajian-kajian islami. Namun ajaran salaf ini memiliki tantangan yang cukup berat karena slogan atau kata-kata yang selalu mereka ucapkan di setiap pembicaraannya adalah bid’ah. Mereka gencar untuk memerangi bid’ah dengan cara memberikan hadits – hadits yang menunjukkan bid’ah itu mendekati api neraka. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah kami maka ia tertolak“). Namun menurut saya pribadi metode ini tidak sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang notabene banyak sekali penyimpangan-penyimpangan agama yang sulit untuk tidak diterima. Misalkan adat kejawen, golongan islam liberal, dan beberapa kebiasaan yang diluar contoh Nabi. Metode yang dikenalkan ke masyarakat dengan memberikan “fatwa” seperti itu mungkin bisa diterima ke masyarakat yang polos tapi sayangnya masyarakat Indonesia bukan tipikal orang yang bisa menerima begitu saja (meskipun tidak semuanya) karena rakyat Indonesia sudah pintar untuk mengkritisi apapun yang ada di ranah publik. Sebagai contoh, ajaran salaf coba diajarkan kepada masyarakat yang ingin belajar agama atau dengan kata lain kepada masyarakat yang membutuhkan substansi ruhiyah. Penolakan dari masyarakat adalah resiko utama ajaran salaf ini ketika disebarkan kepada masyarakat awam. Pendekatan seperti ini lah. Dakwah seperti ini lah yang belum bisa penulis diterima untuk dijadikan pedoman dakwah dalam kehidupan sehari-hari. Karena sejatinya setiap kita adalah da’i dan harus memiliki pedoman dakwah untuk bergerak dan tidak semata-mata instan memperoleh objek dakwah yang langsung faham dan diterima.

islam2

Kemudian ketika mengenal tarbiyah dengan metodenya yang bisa diumpakan dari akar ke puncak merupakan metode dakwah dengan mengenalkan islam yang rahmatan lil’alamin kepada semua golongan. Mulai dari sekolah sampai kampus dikenalkan bagaimana islam dikenalkan sebagai agama yang bisa memproteksi diri dari hal-hal negatif (pergaulan bebas, narkoba, dll) dengan mencurahkan kepada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti mentoring ataupun pengajian dan bahkan implementasinya kepadaa prestasi akademik yang nantinya bisa berdampak positif kepada diri sendiri, orang tua, dan terutama umat muslim. Islam yang salim kamil mutakamil. Menyeluruh kepada segala aspek. Dari bangun tidur sampai tidur kembali. Mengajarkan kita untuk terus beramal meskipun sedikit karena setiap detik yang kita lalui tidak lain kecuali ada catatan amal yang selalu kita hitungkan. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula” QS Al Zalzalah : 7-8  Ketika islam diperkenalkan dengan siyasi (politik) maka terjadi beberapa pendapat yang kemudian menjadi perdebatan para ulama. Rasul mengajarkan untuk bertindak ketika ada kedzaliman dan tidak tinggal diam. Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” HR Muslim. Sehingga dalam ranah politik (kekuasaan) maka perlu adanya para da’i atau ulama yang turut serta ambil alih dalam beberapa kebijakan-kebijakan pemerintah yang tentunya untuk kemaslahatan umat dan menghindari adanya faham-faham sesat dan Undang-Undang yang merugikan rakyat. Ketika politik dijadikan media para da’i maka itu menjadi suatu sarana ibadah yang baik untuk diri sendiri dan umat. Cukuplah kita kecolongan banyak dengan adanya orang-orang beraliran sesat dan liberal yang sudah masuk ke ranah politik sehingga urusan agama dikesampingkan. Sudah cukup kita hanya diam saja dan tidak bertindak tegas. Kita harus memilih wakil rakyat yang tentunya berorientasi islam yang bervisi mulia untuk umat. Jangan sampai kehilangan momen-momen politik tergiurkan dengan uang sementara dari kampanye tetapi sengsara satu periode.

Ketika berbicara Hizbut Tahrir, sayangnya yang satu ini belum saya fahami bagaimana dakwah mereka bisa di terima di kalangan professional. Mungkin bisa saja dakwah mereka disebarkan melalui faham-faham untuk menegakkan khilafah dengan berdakwah kepada para buruh-buruh dengan ta’lim-ta’lim. Mungkin itu salah satunya. Karena menurut pengalaman penulis, dakwah mereka masuk ke ranah professional itu lewat ceramah kepada para buruh dan juga masyarakat sekitar. Tentunya, dakwah menjunjung tinggi khilafah (sistem islam) selalu dikoarkan dan selalu menjadi tagline dakwah mereka. Tidak salah apa yang mereka lakukan. Toh salafi, tarbiyah, dan gerakan lainnya juga sangat merindukan khilafah. Namun metode yang diajarkan dengan merancang sistem islam khilafah dan membagikan kepada masyarakat dengan mengesampingkan dakwah siyasi di ranah pemerintahan itu dirasa kurang sesuai dengan kondisi masyarkat Indonesia yang masih bergantung kepada aturan pemerintah. Bagaimana dakwah kita berjalan sesuai rencana dan menyerap kepada masyarakat tetapi untuk bersimpati kepada politik pemerintahan pun tidak mau. Wallahu’alam. Politik sebagai media. Politik sebagai tangan kekuasaan perlu dipegang oleh orang-orang amanah yang digembleng dengan cakupan materi islami dalam diri, terdidik sebagai insan bertanggung jawab, dan da’i yang selalu menyebarkan kebaikan di setiap nafas hidupnya.

islam3

Yang diharapkan masyarakat bangsa Indonesia adalah kemakmuran dan kesejahteraan di segala bidang. Ekonomi, Sosial, Politik, Pendidikan, dan Agama. Ketika usia-usia remaja dihabiskan dengan hura-hura, digunakan untuk lingkungan dalam pergaulan bebas. Islam bisa mengatasinya dengan memberikan asupan ruhani untuk memproteksi remaja nan bisa menghasilkan prestasi akademik ataupun prestasi keluarga yang membuat bangga. Karena prestasi keluarga yang paling tinggi adalah melahirkan generasi soleh dan solehah. Ketika para aliran liberal, aliran sesat, dan golongan berkepentingan masuk ke dalam politik pemerintahan maka Islam lahir dengan menghasilkan kader-kader yang siap menjaga keutuhan bangsa ini dari perpecahan dan kebijakan-kebijakan yang mengesampingkan agama sebagai landasannya. Karena dengan agama kita bisa berorientasi untuk kebaikan. Karena dengan islamlah setiap perbuatan kita menjadi ibadah jika memiliki niat yang baik. Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khaththab ra. Berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.” (HR. Al-Bukhari & Muslim) Setiap manusia adalah pemimpin maka kita juga harus memimpin diri kita sendiri untuk bagaimana metode yang baik dan menyeluruh untuk menyebarkan nafas-nafas islam di tanah air kita tercinta. Indonesia.

(Ferry Aldina. 26 Syawal 1436 H)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s