Syawal, Pertandingan dimulai…

sujud_syukur

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat yang luar biasa kepada kita, diberikannya kepada kita salah satu dari dua kebahagiaanNya yaitu nikmat kesempatan. Kesempatan untuk melalui bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan pengampunan. Sebagai manusia kita sudah ditakdirkan menjadi tempat salah dan lupa. “ الخطاء محل الانسان ” Suatu tindakan yang tidak pantas kita lakukan untuk berbesar kepala dan tidak menjadikan diri ini rendah dihadapanNya. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan kita semua selaku pelaku dosa dan khilaf untuk meminta ampunan sebesar-besarnya agar segala dosa kita dimaafkan oleh Allah SWT. Bukankah kalau kita sungguh-sungguh menjalankan ibadah puasa kita akan dimaafkan dosa-dosanya? Ya tentu saja. Nabi Muhammad SAW pun pernah besabda. “Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760). Beruntunglah orang-orang yang memanfaatkan kesempatan bertemu bulan Ramadhan digunakan sebaik-baiknya, semua indera yang dimiliki mulai dari penglihatan, pendengaran, sampai ucapan pun semuanya beribadah untuk taqqarub kepada Allah. Minimalnya penglihatan, pendengaran, sampai ucapan kita berusaha untuk menahannya agar tidak melakukan hal-hal yang sia-sia bahkan bisa mengurangi pahala berpuasa. Sayangnya, tidak sedikit orang yang melalui bulan Ramadhan seperti melalui bulan-bulan biasa pada umumnya. Berjalan seadanya. Hari demi hari sesampainya di penghujung Ramadhan bahkan kemenangan yang dirasakan pun hampa tidak ada makna. Itulah fenomena kehidupan muslim menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Dimanakah posisi kita berada saat itu?

Bukankah kita sudah dikabulkan doanya sebelum Ramadhan? Doa di bulan Rajab dan Sya’ban untuk dipertemukan dengan bulan Ramadhan? Sudah banyak orang yang dikabulkan doanya oleh Allah SWT untuk mendapatkan kesempatan beribadah di bulan suci itu. Namun, tidak sedikit orang yang sudah menemui ajalnya ketika akan bertemu bulan Ramadhan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS 55:55). Dimanakah letak syukur kita? Apakah kita lupa dan roda kehidupan kita hanya mengalir begitu saja? Sesungguhnya Allah itu Maha Pemurah dan Allah juga bisa menjadi murka kepada hamba-hamba yang dikehendaki. Semoga kita diberikan keistiqamahan untuk tetap beribadah kepada Allah SWT.

Bulan Ramadhan sudah berlalu kawan! Memasuki bulan Syawal merupakan bentuk kenikmatan Allah berikan supaya kita tetap bersyukur. Bahkan setiap bangun tidur pun kita terus bersyukur karena masih diberikan kesempatan hidup dan terus bekerja. Habluminannas wa habluminnallah. Syawal merupakan bulan pembuktian. Ramadhan dimana kita melakukan pemanasan ruhiyah, di bulan Syawal tempat pertandingan dimulai. Pertandingan untuk membuktikan sejauh mana kita melakukan tempaan diri di bulan Ramadhan. Apakah kita termasuk orang beruntung? Merugi? Atau Celaka? Pertandingan ini adalah suatu bentuk upaya keistiqamahan kita beribadah kepada Allah. Apa sebenarnya yang harus dilakukan dibulan Syawal ini? Banyak sekali amalan-amalan yang perlu kita tingkatkan setelah bulan Ramadhan. Amalan-amalan yang senantiasa terus memantapkan ruhiyah kita sehingga terus dekat kepada Allah SWT, diantaranya puasa enam hari di bulan Syawal. “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun” (HR. Muslim). Kemudian yang paling penting adalah kita terus membuat target-target ibadah kita sebagaimana yang kita lakukan di bulan Ramadhan. Itu merupakan bentuk menghidupkan suasana Ramadhan di bulan-bulan setelahnya agar setiap bulanya, kita merasakan bahwa tiap hari yang kita lalui tidak mau menjadi sia-sia begitu saja. Hal yang selalu tidak dilupakan adalah menjaga diri kita mulai dari penglihatan, pendengaran, dan ucapan kita menjadi suatu hal yang berguna dan bisa dijadikan ibadah. Setidaknya tiga aspek itu kita minimalisir dari perbuatan dosa dan maksiat yang terus menggoda kita dari setiap saat supaya beban dosa kita tidak bertambah atas saksi-saksi dari anggota tubuh di yaumul akhir kelak.

Hari di mana seluruh musuh Tuhan akan digiring ke neraka, karena selanjutnya mereka akan berada di tempat yang di-tentukan bagi mereka, telinga, mata dan kulit pada tubuh mereka akan bersaksi atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Mereka akan memandang anggota tubuh mereka dengan heran, dan berkata, “Bagaimana kamu bersaksi atas perbuatan-perbuatan kami?” Mereka akan menjawab, “Tuhan yang telah memberikan kemampuan berbicara kepa-da seluruh makhluk telah membuat kami bisa bicara. Dia yang telah menciptakan kamu pada awalnya, dan sekarang Dia membawamu kembali kepada-Nya. Kamu menyembunyi-kan perbuatan-perbuatan jahatmu bukan karena telinga, mata dan kulitmu tidak akan memberikan kesaksian pada hari ini, tetapi karena kamu membayangkan Tuhan tidak akan mengetahui apa yang kamu sembunyikan dari orang lain. Asumsi yang tidak berdasar inilah yang akan menyebabkan penderitaanmu, karena hari ini kamu berada pada barisan orang-orang yang merugi.” (QS. Fushshilat: 19-23)

Wallahu’alam bis shawab semoga bermanfaat bagi yang membacanya.

(Ferry Aldina. 10 Syawal 1436 H)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s