Mahasiswa, Agent Of Change or Agent Of Charge??


Oleh : Ferry Aldina

Mahasiswa Politeknik Negeri Bandung

Sungguh sangat berat ketika menjadi seorang mahasiswa yang mendapat amanah untuk menjadi agen perubahan. Sungguh sangat celaka ketika amanah yang sudah dipegang tersebut hanya sebagai status paten yang berujung menjadi “status palsu”. Dibalik semua amanah yang disandang oleh mahasiswa, hal yang harus dilakukan oleh seorang mahasiwa adalah bersyukur telah mendapatkan kesempatan langka yang hanya didapat oleh sebagian penduduk Indonesia. Ada yang sudah yakin bahwa seseorang akan mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi karena faktor ekonomi tetapi ada juga yang tidak menyangka bisa mendapatkan kesempatan untuk kuliah.

Akan tetapi yang harus digarisbawahi bahwa tidak semua orang bersyukur ketika sudah menyandang status mahasiswa padahal boleh jadi yang kita dapatkan sekarang-meskipun kita anggap biasa saja- menjadi sangat berarti di mata orang yang memiliki tekad kuat untuk kuliah tetapi terpaksa menghilangkan impiannya dibenaknya ketika kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Kita yang ditakdirkan di zaman sekarang ini sudah tidak bisa merubah kehidupan zaman dahulu, merubah sejarah akan dirasa mustahil tetapi menciptakan sejarah merupakan sesuatu yang pasti.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”. QS Ar-Ra’d:11

Zaman sekarang yang sudah penuh dengan bencana, mulai dari bencana alam sampai bencana akhlak pun terjadi di negari ini. Tidak ada yang menginginkan bencana alam dan apalagi ketika bencana akhlak sudah melanda negeri ini. Bencana akhlak harus diatasi oleh semua pihak tidak terkecuali mahasiswa! Ya, sungguh ironis ketika semua derita negeri ini hanya diratapi sebagai sebuah takdir saja dan tidak ada kemauan dari kita untuk merubahnya. Sungguh, negeri ini tidak butuh retorika tetapi butuh aksi nyata dari salah satu pihak penyokong perubahan bangsa.

Sebuah Fenomena

Ketika kita dihadapkan kepada suatu realita sekarang, media massa sudah menimbulkan banyak ketidakjelasan ketika arah bangsa ini tidak tahu mau dibawa kemana. Realitas yang menjadi ambiguitas inilah yang diperkirakan sudah menjadi wadah income para segelintir orang yang bergelut di dunia informasi. Wallahu’alam tapi nyatanya media massa masih condong sebagai lembaga provokatif dibanding sarana informatif.

Sesuatu yang memang menggelikan adalah ketika pejabat di pemerintahan sudah mencontohkan betapa banyak kasus yang sudah diperbuatnya. Memang tidak semua orang yang melakukan pekerjaan kotor itu tapi yang jelas adalah mereka mengatasnamakan kaum orang tua yang sepantasnya memberikan contoh yang baik kepada kaum muda. Jangan heran ketika generasi dibawah mereka menjadi rusak dan tidak terarah karena memang cerminan para remaja itu adalah cermin yang retak dan susah untuk diperbaiki (kaum tua). Tidak bisa dipungkiri mulai dari orang tua lah yang menjadi otak pembunuhan karakter bagi para remaja.

Berbicara masalah remaja, tidak hanya masalah dampak dari bercermin kepada “kaca yang retak” tetapi faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi ketidakstabilan moral remaja akhir-akhir ini. Lingkungan yang tidak baik akan membuat seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu yang tidak baik juga. Begitupun sebaliknya, seseorang akan selalu terjaga dan terhindar dari perbuatan maksiat ketika lingkungan yang baik pun sudah terkondisikan.

Berdasarkan beberapa data, di antaranya dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan sebanyak 32 persen remaja usia 14 hingga 18 tahun di kota-kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, dan Bandung) pernah berhubungan seks. Hasil survei lain juga menyatakan, satu dari empat remaja Indonesia melakukan hubungan seksual pranikah dan membuktikan 62,7 persen remaja kehilangan perawan saat masih duduk di bangku SMP, dan bahkan 21,2 persen di antaranya berbuat ekstrim, yakni pernah melakukan aborsi. Aborsi dilakukan sebagai jalan keluar dari akibat dari perilaku seks bebas.

Memang begitulah wajah remaja zaman sekarang, tidak ada sikap yang pantas selain berantas dan kikis habis! Tapi bagaimana caranya. Ketika orang tua dan remaja sudah terindikasi masalah yang rumit maka satu-satunya cara untuk meminimalisir permasalahan moral yaitu dengan memproteksi kalangan anak. Kalangan anak memiliki peran sangat sentral terhadap kelanjutan untuk memperbaiki bangsa ini. Sungguh sangat membingungkan ketika kita hanya membuat suatu “teori proteksi dini” tanpa adanya realiasasi. Oleh karena itu, penulis akan sedikit membahas bagaimana cara memproteksi sejak dini (bukan untuk anak saja) agar terhindar dari permasalah akhlak menurut pandangan penulis.

Sebuah Titel yang Ambigu

Paradigma kebanyakan orang tentang proteksi dini adalah hanya kewajiban orangtua saja yang harus mendidik anak-anaknya dengan baik dan selalu memperhatikan sikap anak-anaknya. Sungguh paradigma yang terlalu sempit untuk diejawantahkan. Sejatinya, setiap orang yang berada di muka bumi ini berkewajiban memiliki dan memberikan proteksi sejak dini dari kerusakan moral. Setiap orang juga harus tahu proteksi yang seperti apa yang harus di lakukan oleh setiap orang yang akan memajukan bangsa ini, tidak terkecuali mahasiswa yang harus memiliki peran andil sebagai garda terdepan untuk masalah seperti ini.

Mahasiswa bukan merupakan orang-orang yang hanya disibukkan dengan kewajibannya kuliah, bukan hanya disibukkan mencari kerja, dan juga bukan mencari pasangan hidup dari sejak dini! Mahasiswa yang sering mengisi kapasitas diri dan tidak meluangkan waktunya untuk berusaha merubah masa depannya, itulah mahasiswa yang mempunyai titel agent of charge. Mereka ibarat sebuah handphone yang terus dicharge tanpa memfungsikan handphone tersebut untuk kebermanfaatan  untuk orang lain. Umar bin Khatab pun pernah berkata bahwa kejernihan individu itu tidak baik sedangkan bersama-sama dalam melakukan perubahan adalah sesuatu yanh harus dilakukan.

Agent of change! Agent of change! Agent of change! Sebuah titel yang sudah melekat di dalam dada seorang mahasiswa-mau mahasiswa aktif ataupun pasif-yang seharusnya terealisasikan oleh semua mahasiswa. Jika perubahan yang dimaksud dikaitkan dengan proteksi dini dari kerusakan maka yang harus diingat adalah proteksi yang paling ampuh adalah proteksi dengan fondasi yang kuat, yaitu nilai-nilai agama. Tidak ada fondasi yang lebih kuat selain agama. Penanaman nilai agama mulai dari sejak dini merupakan cara terbaik dalam mempersiapkan pribadi yang terhindar dari pergaulan dan lingkungan yang “menyesatkan”.

Mahasiswa memiliki keistimewaan tersendiri dalam menjalankan perannya untuk memproteksi generasi muda saat ini. keistimewaan mahasiswa yaitu terletak dari segi kebebasannya dalam bergerak atau beramal dan masih dianggap kalangan berpendidikan dan bersih dari pandangan kriminal. Penanaman nilai-nilai agama kepada saudara, lingkungan sekitar (anak dan remaja) merupakan tugas besar dari seorang mahasiswa yang sudah menyandang titel agen perubahan. Sebuah titel yang seharusnya tidak membuat ambigu pendengarnya karena perubahan ke arah yang tidak baik pun bisa disebut agen perubahan. Padahal masyarakat mengharapkan perubahan-perubahan dari berbagai aspek kehidupan demi kesejahteraan yang mereka damba-dambakan. Itu tidak  lain harapan yang disematkan oleh “agen perbaikan” yakni MAHASISWA.

Rekomendasi Penulis

Penulis tidak mau panjang lebar dan tidak mau terlalu berteori untuk masalah yang serius ini. Penulis hanya berharap semua yang diungkapkan bisa direalisasikan oleh seluruh mahasiswa di Indonesia. Penulis hanya akan memberikan saran-saran sederhana yang harus dilakukan seorang mahasiswa yaitu mengenai dua aspek yang akan menjadi targetan seorang mahasiswa nantinya, aspek keluarga dan aspek lingkungan.

Ketika berbicara tentang proteksi sejak dini adalah bagaimana cara kita harus menjadikan semua yang berada di dekat kita menjadi nyaman dengan keberadaan kita dan mendapatkan bekal yang berarti setelah kita tidak ada. Ya, dimulai dengan keluarga, lingkungan yang menjadi miniatur perubahan bangsa. Sebagai seorang mahasiswa, kita harus memberikan contoh yang baik di keluarga. Akhlak yang baik dengan ditopang bekal agama yang kuat adalah faktor utama dapat menjadikan keluarga kita menjadi contoh untuk keluarga yang baik. Lebih spesifik lagi, ketika di sela-sela waktu luang, kita harus memberikan penanaman akhlak kepada saudara-saudara kita. Boleh dengan becanda atau apapun yang membuat kesannya tidak formal sehingga dengan penanaman akhlak sejak dini akan menjadikan seorang anak muda itu terbiasa dan enggan melakukan hal yang tidak baik.

Mahasiswa identik dengan seseorang yang selalu “berpetualang” dalam mencari ilmu demi perubahan nasib yang lebih baik. Boleh disangkal ataupun sebaiknya diakui oleh seluruh mahasiswa. Justru dengan karakter berpetualang itulah mahasiswa seharusnya sadar bahwa tempat sementara yang kita singgahi (kampus, lingkungan kampus, dan lingkungan kostan) merupakan ladang amal kita. Mulai dari yang kecil menuju hal yang besar karena ketika kita tidak terbiasa dengan rintangan kecil yang dihadapi maka rintangan besar pun akan sulit untuk kita atasi.

Mahasiswa memberikan andil yang berarti untuk tempat yang sementara mereka singgahi. Contoh realnya adalah selalu bergaul dengan masyarakat, mulai dari kalangan remaja sampai orang tua. Mulai dari bergabung dengan kehidupan mereka, kita bisa tahu segala permasalahan dan juga kita bisa mengenal sejauh mana pemahaman mereka tentang nilai-nilai agama. Ketika sudah berbaur dengan masyarakat maka mahasiswa mempunyai kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada masyarakat.

Beberapa tahapan yang harus dilakukan adalah mendekati DKM masjid sekitar dan mulai membangun kerja sama dalam upaya memakmurkan masjid terlebih dahulu. Setelah itu, kita mulai mengajak anak-anak sekitar masjid untuk mengenalkan pentingnya ibadah dan akhlak dengan metode ngajar ngaji, metode kursus gratis, atau ide lain yang membuat anak-anak mengikuti program-program yang kita rencanakan. Konsistensi dan komitmen dari mahasiswa merupakan faktor utama keberhasilan penanaman nilai agama terhadap anak-anak usia dini.

Tahapan yang harus dilakukan selanjutnya adalah berupaya mengaktifkan organisasi-organisasi kepemudaan di daerah (dimana mahasiswa tinggal sementara). Kita tidak mungkin bergerak menjadi struktur di organisasi kepemudaan tetapi kita hanya menjadi “pemanas gerakan” untuk organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna. Kita bisa menjadi pemicu semangat dan sekaligus pendamping setiap agenda-agenda yang dilaksanakan. Selama proses pendampingan berlangsung maka kita bisa menanamkan nilai-nilai agama pada setiap agenda yang kita lakukan. Bermula dari anak-anak kemudian remaja dan berujung kepada pejabat atau tokoh-tokoh setempat yang mempunyai kewenangan tinggi untuk memberikan keputusan-keputusan yang memiliki tujuan untuk kesejahteraan umat.

Berjuang sendirian itu tidak mustahil untuk menang tetapi butuh waktu lama untuk mendapatkan kemenangan tersebut, apakah kita harus menunggu lama untuk perubahan yang lebih baik? pastinya TIDAK. Jadi, sangat butuh kerja sama antar mahasiswa dan elemen di masyarakat untuk senantiasa mewujudkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia. Semoga dengan ketulusan hati dan kerja sama setiap elemen di negeri ini bisa menyelesaikan permasalahan akhlak dengan dimulai dengan menanamkan nilai-nilai agama yang menjadi dasar dari segala perubahan.

Keleluasaan dalam bergerak dan melakukan aktivitas-aktivitas merupakan harga mati bagi mahasiswa untuk menjadikan mereka menempatkan posisinya di garda terdepan dalam mewujudkan perubahan bangsa. Mulai dari penanaman akhlak pada usia dini kemudian merambat ke tataran remaja dan pada akhirnya memanfaatkan kekuasaan untuk melakukan keputusan-keputusan yang adil dan selalu mementingkan kepentingan umat. Semua itu sangat bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuatan berekspresi dan kekuatan dalam bertindak, yakni MAHASISWA. Wallahu’alam bis shawab.

3 thoughts on “Mahasiswa, Agent Of Change or Agent Of Charge??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s