KETIKA MIMPI ITU HILANG DARI BENAK KITA

Oleh : Ferry Aldina

Ketua Departemen Pengembangan Masyarkat

KAMMI POLBAN MASA JIHAD 2011-2012

Pernahkah kita bermimpi? Kata mimpi ini bukan berarti dalam makna buah tidur tapi mungkin lebih tepatnya adalah sebuah ambisi terhebat yang kita ingin miliki. Ketika kita sudah mendapatkan titik tolak untuk merencanakan mimpi kita, kita sangat bersemangat dalam mengejar mimpi itu tetapi apakah kita hanya menuliskan satu mimpi saja dan kita bisa fokus untuk mendapatkan mimpi itu. Tentu tidak, hal ini sangat mustahil kecuali memang orang yang tidak mempunyai tujuan hidup dan hanya “numpang” tidur, makan, istirahat, dan banyak lagi hal sia-sia yang memang tidak pantas untuk kita sebagai orang yang mempunyai mimpi-mimpi besar dalam hidup ini.

“Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’ (QS.At-Taubah:105)

Kita diharuskan untuk terus bekerja dan bekerja, selama raga ini masih mampu dan masih bisa melakukan hal yang bermanfaat, apalah gunanya waktu kalaulah tidak kita manfaatkan sebaik mungkin. Mungkin setiap orang pernah memikirkan bahwa mimpi yang sudah kita impikan ternyata dianggap hilang dalam benak kita serta percaya dan yakin akan kemampuan kita bahwa tidak akan bisa menggapainya. Sesungguhnya kita bukan penumpuk masalah tetapi pemecah masalah menjadi senyawa-senyawa elektromagnetik yang dapat menarik mimpi itu menjadi  dekat dengan kita. Solusinya mungkin adalah sesuai dengan perkataan Imam Hasan Al-Banna “ Sesungguhnya setiap umat atau kelompok yang membina dan membangun dirinya serta berjuang untuk merealisasikan cita-cita dan membela prinsip-prinsip agama maka umat itu haruslah memilki kekuatan jiwa yang dahsyat yang terekspresikan dalam beberapa hal, yaitu:

  1. 1.    Tekad membaja yang tidak pernah melemah
  2. 2.    Kesetiaan abadi yang tidak mengenal kemunafikan dan pengkhianatan
  3. 3.    Semangat berkorban yang tidak terkotori oleh ketamakan dan kebakhilan
  4. 4.    Pengetahuan dan keyakinan serta penghormatan tinggi terhadap ideologi yang diperjuangkan

Tak dapat dielakkan lagi oleh kita bahwa seseorang memang harus mengatur dirinya supaya tersugestikan untuk tetap istiqamah terhadap cita-cita yang menjadi jalan hidup baginya yang menjadi saksi nanti cita-cita besar yang semula hanya mimpi tetapi menjadi suatu kenyataan yang mustahil dicapai pada awalnya. ALLAHU AKBAR!

Jika kita berkaca pada sejarah nabi ketika Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya berambisi untuk menegakkan Islam di bumi Mekkah dan Madinah, banyak sekali cobaan dari segala bentuk cobaan-mulai dari cemoohan sampai kontak fisik-yang mengganggu dalam menggapai impian besar beliau. Terus apa yang dilakukan oleh Nabi? Apakah berhenti dan memilih mundur? Tetapi tidak kawan, mereka-Nabi dan para sahabat- tetap berjuang mati-matian demi ambisi besar mereka. Keterbuktian akan kesetiaan dan pengorbanan untuk Islam ini memang dapat dilihat dari berbagai perang dengan kaum musyrikin ataupun pengorbanan lainnya. Mereka tidak merasakan tangan mereka sudah putus ketika ditebas musuh dan terus melawan musuhnya sebelum akhirnya ada yang gugur. Mengapa mereka bisa begitu? Karena pikiran mereka sudah tersugestikan dengan sendirinya karena tekad mereka yang begitu gigih dan melakukan pengorbanan yang tidak kenal lelah.

Subhanallah sudah sepatutnya kita belajar dari para terdahulu kita yang sudah berjuang dalam mewujudkan ambisi-ambisinya. Apakah kita mau meneruskan apa yang sudah diperjuangkan dan membuat inovasi demi perubahan yang lebih baik ataukah kita malah menjadi plagiat semata dan malah menjadi tetap memiliki slope yang sama dengan nol atau tetap saja dan tidak ada yang kita usahakan. Sesungguhnya sesuai dengan Surat Muhammad ayat 7 bahwa barangsiapa yang menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya. Ambisi yang besar, cita-cita yang agung, upaya yang maksimal WAJIB kita lakukan dan tentunya jangan sampai usaha yang kita fokuskan untuk menggapai ambisi itu sampai-sampai melupakan Allah. Ingat! Allah adalah pemberi keputusan bukanlah seorang manusia yang beranggapan bisa menggapainya tanpa ada bantuan dari Sang Khalik. Saya tutup uraian ini dengan hadits Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w.

“Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekal padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas-gegas.” (Riwayat Bukhari)

Wallahu’alam bis shawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s