SEMANGAT JIWAKU TIDAK AKAN GENTAR MELAWAN GORESAN TAKDIR-MU

Oleh : Ferry Aldina

 “Hajar saja! Pasti menang, Ka!”

“Jangan ganggu, ini lagi konsentrasi.” Teman-temanku selalu saja menggangu setiap kali aku dapat giliran main, tidak tahu apa sebabnya yang pasti mereka tidak mau kalah apalagi main denganku, Sang Jagoan kelereng.

Kami selalu bermain di lapangan kecil di halaman rumahku. Kami lewati hari-hari dengan penuh kegembiraan, tidak peduli terik matahari yang terus menyoroti membuat kami seakan seperti pemain teater yang sedang pentas di panggung. Sebenarnya, kami pun lebih dari sekedar pentas di “lapangan kelereng” tapi inilah yang disebut kompetisi, kompetisi yang selalu menunjukkan siapa pemenang dan yang paling “jago” meskipun akhirnya kelereng-kelerengnya dikumpulkan lagi ke Herdi, si pemilik kelereng. Jadi, kalo Herdi di panggil orangtuanya, kompetisi pun berakhir. Memang merusak suasana tapi apa daya, orang tua harus dihormati kalaulah kita tidak mau tergolong anak durhaka.

Terlihat dari kejauhan seorang kakek bersandar di kursi depan halaman rumahnya, badannya yang kelihatan masih bugar dengan dadanya yang masih tegap serta perawakannya yang tinggi. Fisik yang terlihat masih sehat itu tidak menunjukkan keadaan yang biasa dialami kakek-kakek pada umumnya. Matanya pun tajam melihat sekeliling, termasuk menuju ke arah kami. Rasanya hati ini ingin menggerakan badan yang masih lelah-selepas bermain-untuk berkenalan dengan kakek itu, namun mata yang selalu tajam seperti mata elang yang akan menerkam mangsanya mengurungkan niat untuk berkenalan dengannya.

Tiba-tiba kakek itu tersenyum. Ini aneh, sangat aneh untuk pertama kalinya kami diberikan senyuman dari kakek itu. Teman-temanku menjadi heran dan saling bertanya satu sama lain.

“Apa ada yang lucu?” bisik salah seorang temanku

“Aku juga tidak tahu, tiba-tiba kakek elang itu tersenyum” balas temanku yang selalu memanggil kakek yang memiliki tatapan tajam itu dengan “kakek elang”

“berarti kita harus kesana!” aku menawarkan kepada teman-teman untuk mencoba berkenalan

“Gila aja kamu, Ka. Mau cari mati?” tolakan dari seorang teman yang wataknya sangat tempramen dan benar-benar takut kepada kakek itu.

Meskipun banyak penolakan dari teman-teman, tekad yang sudah bulat ini tetap membuat ingin terus maju untuk memberanikan diri berkenalan dengan kakek elang itu. Kulangkahkan kakiku, ku simpan jauh-jauh rasa takut dalam hati, mencoba memberikan raut muka yang gembira kepada si kakek. Setelah tiba didepan halaman rumahnya, kakek itu tetap saja tersenyum dan semakin membuat penasaran.

“kek, boleh saya masuk?”

mangga, silahkan masuk saja.” Dengan ramahnya kakek itu langsung memperbolehkan aku masuk ke halaman rumahnya dan tiba-tiba aku semakin yakin bahwa kakek ini wajahnya saja yang menakutkan tapi akhlaknya baik.

Kami tenggelam dalam obrolan-obrolan yang tidak karuan tapi membuat hati ini tenang, tidak tahu kenapa kami seakan seperti kakek dan cucunya yang rindu tidak lama bertemu. Aku langsung teringat tujuanku untuk bertemu kakek elang ini.

“Kek, kalau boleh tahu kenapa tadi kakek tersenyum tidak seperti biasanya?”

“kakek ingat sesuatu, Nak.”

“andai saja kakek bisa mengalami masa kecil seperti kalian.”

“lho kenapa senyum, berarti kakek tidak mengalami masa bahagia seperti kami”

“Justru itu, kakek jadi ikut senang andaikan kakek tidak melihat kalian mungkin saja kakek hanya dibayangi dengan masa-masa silam dulu. Kalian itu ibarat obat penenang kakek.” “semakin aneh saja, aku semakin bingung, Kek!”

Kakek itu pun menjelaskan dengan panjang lebar, bagaimana ketika zaman dulu yang masih serba kekurangan dan sangat memprihatinkan. Inilah yang membuat kakek terus bekerja keras untuk mencari makan dan ditambah lagi perjuangan yang sangat berat ketika harus melawan para penjajah-penjajah yang menindas kakek dan para pejuang lainnya.

***

Seketika itu , aku teringatkan tugas-tugas sekolah yang belum dikerjakan dan menghilangkan lamunan-lamunan nostalgiaku bersama kakek elang, sang pejuang. Ingin rasanya bertemu kembali dengannya tapi umurku yang sudah menginjak usia 16 tahun tidak bisa berbicara ketika Sang Khalik sudah menetapkan batas umur si kakek elang. Sungguh ingin rasanya mendengar kembali wejangan-wejangan si kakek, apalagi ketika kita harus bersyukur dengan keadaan sekarang yang sudah bebas dan tidak ada yang melakukan penindasan secara terang-terangan kepada negara ini.

“Ka, sudah belajar?” Tanya Umi

“belum Umi, lagi belajar berkonsentrasi” jawabku dengan sedikit becanda kepada Umi tercinta padahal Umi sudah tahu kalau aku melamun terus dari tadi.

“Jam segini belum belajar? Bagaimana bisa jadi anak pintar?” waktu menunjukkan pukul 21.00 dan Umi tiba-tiba marah tidak seperti biasanya tapi memang harus tegas juga.

Aku pun bergegas ke kamar dan langsung membuka kembali buku-buku pelajaran yang sudah disiapkan meskipun belum sempat dibaca. Belajarku menjadi tenang, tidak tahu apa alasannya tapi ini perasaan yang aneh di alami oleh seorang anak yang menjelang seminggu lagi untuk Ujian Akhir Sekolah. Kubuka buku catatanku, kupahami setiap kata yang tertulis didalamnya, pikiranku mulai terkondisikan dan mulai memasuki kenyamanan dalam belajar. Pikiran tenang yang seperti ini lah yang harus diusahakan dalam belajar terutama ketika menghadapi ujian-ujian.

“bangun kak, sudah adzan Subuh,” Umi memang selalu mengingatkanku untuk selalu bangun sebelum adzan Subuh berkumandang meskipun sebenarnya aku sudah bangun beberapa jam sebelumnya. Aku hanya ingin mendengar suara Umi yang lembut ketika membangunkan anaknya.

“Ya, bentar Mi.” aku berusaha pelan-pelan membalas seruan Umi.

Kami pun sekeluarga sholat berjama’ah bersama, kebiasaan yang selalu dilakukan setiap harinya. Paginya yang sunyi, udara yang selalu menghembuskan nafas kenikmatan yang selalu dirindukan oleh setiap hambaNya.

Sosok ibu adalah sosok inspiratif bagiku, perjuangan yang tak kenal lelah dimanapun dan kapanpun. Sesekali ibuku pernah mengingatkan betapa harus banyak-banyak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Sungguh ini lah sebuah kebebasan dan kemerdekaan yang sebenarnya ketika jiwa, batin, dan segala pembatas untuk belajar menjadi manusia bermanfaat itu tidak ada halangan kecuali syetan yang selalu membisikan rasa malas terhadap diri ini. Tergantung bagaimana diri ini bisa menyikapi penjajahan yang realistis dan penjajahan terhadap hati menjadi suatu pola hidup yang terus berjuang untuk meraih kemerdekaan yang akan diraih. Penjajahan realistis yang selalu menghantui di segala bidang kehidupan mulai media massa, busana tak layak, dan sampai kepada penjajahan fisik yang dulu rakyat ini alami. Meskipun penjajahan realistis penting untuk diperhatikan tetapi yang paling penting adalah ketika hati ini sudah dijajah dan segala sesuatu yang dilakukan menjadi tidak sesuai dengan yang sebenarnya dan terus menyimpang dari kepribadian yang baik.

***

Menjelang tiga hari sebelum ujian, hatiku merasa tidak karuan. Detak jantungku menjadi kencang dan semuanya menjadi serba tidak karuan. Tak terasa keringat dingin pun keluar, ku tutup kembali buku catatan dan mencoba rehat sejenak. Konsentrasi pun menjadi buyar dan ini merupakan hari yang sangat aneh selama hidupku. Kemudian aku pergi menuju kamar umi dan ingin rasanya kuberitahukan perasaan ini kepadanya.

“Umi, aku mau bicara bentar aja” kubangunkan secara perlahan dari tempat tidurnya dan kucoba ungkapkan keluhanku.

Sudah lama sekali umi tidak menjawab pertanyaanku, semua curahatn hatiku sudah dijelaskan tapi nyatanya belum ada satu kata pun keluar dari mulut umi.

“Ini tidak mungkin!”

Langsung ku pegang denyut nadinya dan kucoba rasakan hembusan nafasnya.

“Umi! Bangun! Bangun!” kucoba goyangkan seluruh badannya seakan masih tidak percaya dengan kenyataan takdir. Lalu ayahku membawa ke rumah sakit dan sengaja meninggalkanku di rumah.

Suasana menjadi tegang dan semakin tidak kondusif untuk belajar. pikiran menjadi tidak fokus karena tertujukan pada satu sasaran, yaitu bagaimana nasib ibuku.

Ketika goresan takdir dari sng Khalik sudah bicara, tidak ada yang bisa menolaknya. Badan ini menjadi terasa berat, pikiran kosong, dan hati ini terasa berat ditinggalkan sosok inspirasi dan tak tergantikan dalam hidup ini. Perjuangan yang tidak kenal lelah dari seorang ibu yang menjadikan anaknya bisa terus hidup dan berpendidikan, buah dari perjuangan yang begitu berat dari sosok pejuang zaman dulu untuk merebut kemerdekaan dan kini berubah menjadi pahlawan masa kini yang tak kenal lelah mendidik dan memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.

***

Tepat besok adalah dimulainya ujian dan berusaha melawan pikiran sedih yang selalu membayangi di setiap waktunya. Sungguh rasanya sangat berat, sungguh dua ujian sedang ku alami. Raut muka pun menjadi sangat berbeda, khas orang yang sedih telah nampak di wajah ini. Seketika itu aku langsung teringat dengan percakapan yang dulu pernah kukatakan pada umi tercinta

“Ka, mau jadi orang pintar?”

“Iya Mi, Kaka mau jadi orang pintar tapi sebenarnya kalau sudah lulus nanti kemana ya kalau mau pintar?”

“Umi sarankan ke Universitas Tokyo!”

“Aduh Mi, kayaknya berat dan susah masuknya”

“Justru Umi mau tanya kamu mau pintar kan? Kamu pasti bisa selagi berusaha dan berdoa.”

“Siap Mi, aku gak mau buang-buang waktu lagi dan langsung belajar. Kalau Allah sudah berkehendak, Jadilah maka Jadilah. Tenang aja Mi, tahun depan aku mau ngasih foto Kaka di Tokyo ke Umi.”

Meskipun aku tidak bisa memberikan foto kepada umi tercinta, tetapi ketika negara ini sudah merdeka dalam konteks tidak ada penghalang untuk belajar dan merdeka untuk menjadi orang yang bebas dalam berprestasi. Maka kutekadkan dalam hati ini, aku akan lewati ujian besok dengan serius dan berusaha keras mewujudkan impian yang belum sempat kuberikan kepada umi.

Baju sudah siap, sarapan pagi pun sudah di makan, sepatu sudah kupasang, langkah kakiku menjadi langkah kaki perjuangan yang selalu akan terus bersemangat menggantikan semangat perjuangan umi untuk menyekolahkanku sampai sekarang.

Sampai jumpa Umi tercinta, selamat datang Tokyo Univercity!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s