Membaca Realitas dari Ambiguitas

Diikutsertakan dalam PERLOMBAAN ESSAI NASIONAL & SAYEMBARA ESSAI RUTIN
Kemerdekaan adalah sebuah kebebasan. Pemahaman terhadap makna kemerdekaan perlu ditinjau kembali karena kadang orang merasa bahwa kemerdekaan adalah sebuah kebebasan semata tanpa didasari rasa memiliki. Kebebasan di zaman modern ini sudah membutakan mata dan menggelapkan realita yang ada dengan hanya menginginkan memuaskan keinginannya tanpa didasari rasa kemanusiaan.
Jika kita melihat sejarah bangsa Indonesia, pers adalah faktor sentral yang harus disorot kemajuan dan kemundurannya. Pers sangat identik dengan media massa (media cetak ataupun media elektronik). Pers semestinya bersyukur dengan kebebasan yang sudah diraihnya. Pengekangan yang dilakukan pada zaman orde baru membuat informasi yang seharusnya disebarluaskan sebagai wacana publik ternyata hanya menjadi sebuah berita basi dan terus basi karena tidak mendapat bumbu kesempatan menyebarkan berita oleh pemerintah. Semua itu berawal pada tahun 1982 ketika Departemen Penerangan mengeluarkan Peraturan Menteri Penerangan No. 1 Tahun 1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Dengan adanya SIUPP, sebuah penerbitan pers yang izin penerbitannya dicabut oleh Departemenn Penerangan akan langsung ditutup oleh pemerintah. Oleh karena itu, pers sangat mudah ditutup dan dibekukan kegiatannya. Pers yang mengkritik pembangunan dianggap sebagai pers yang berani melawan pemerintah dan dapat ditutup dengan cara dicabut SIUPP-nya.
Sesungguhnya media massa mempunyai tugas dan kewajiban – selain menjadi sarana dan prasarana komunikasi – untuk mengakomodasi segala jenis isi dunia dan peristiwa-peristiwa di dunia ini melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud (berita, artikel, laporan penelitian, dan lain sebagainya) – dari yang kurang menarik sampai yang sangat menarik, dari yang tidak menyenangkan sampai yang sangat menyenangkan – tanpa ada batasan kurun waktu. Kondisi sekarang ini membuat media dan realita menjadi layaknya seorang kakak adik, saling membantu dan saling berkaitan. Peranan yang diambil oleh media adalah peran yang dapat mempengaruhi masyarakat dunia dan masyarakat Indonesia khususnya, begitu pun sebaliknya masyarakat harus mempengaruhi perkembangan media sehingga menjadikan media yang informatif dan aspiratif. Oleh karenanya, dalam komunikasi melalui media massa, media massa dan manusia mempunyai hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan karena masing-masing saling mempunyai kepentingan dan masing-masing saling memerlukan. Media massa membutuhkan berita dan informasi untuk publikasinya baik untuk kepentingan media itu sendiri maupun untuk kepentingan orang atau institusi lainnya; di lain pihak, manusia membutuhkan adanya pemberitaan, publikasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Sebuah Fenomena
Masyarakat ternyata masih sangat tergantung oleh media massa, baik media cetak ataupun media elektronik. Masyarakat membutuhkan suatu berita aktual yang bisa menjadi penambah wawasan supaya tidak tertinggal oleh berita. Masalahnya, ketika semua masyarakat terlalu bergantung terhadap media, hal itu menjadikan masyarakat terkesan “ikut-ikutan” terhadap wacana publik yang sedang beredar. Media massa selalu memberikan suatu informasi yang informatif dan problematif. Akan tetapi, itu menjadi bumerang bagi masyarakat sendiri karena ketika satu masalah belum terselesaikan bahkan tidak ada solusi dari seluruh aspek (mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah) dan diganti dengan masalah baru yang lebih hangat maka informasi yang disampaikan sebelumnya oleh media hanya sebagai berita saja yang tidak menghasilkan solusi. Permasalahan yang ada di Indonesia ini bukan untuk dibicarakan atau diberitakan tetapi permasalah tersebut butuh penyelesaian dari semua pihak. Jikalau masyarakat tidak cerdas dan hanya menjadi “budak media” maka akan sulit terwujud tujuan bangsa Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Cerdas dalam arti solutif, cerdas dalam arti kritis, dan cerdas dalam arti memiliki tekad kuat dalam membangun bangsa.

Antara Informatif dan Provokatif
Sungguh sulit sekali menentukan pergerakan media massa di Indonesia, apakah media massa sebagai wadah informasi yang berguna bagi masyarakat atau hanya menjadi alat provokasi dari sebuah berita. Di Indonesia, media massa yang bersifat informative dan provokatif masih ada dan terus berkembang. Kita masih sulit membedakan karakteristik dari media massa-informatif atau provokatifkah?-yang beredar di Indonesia. Kejanggalan seperti itu dapat dilihat dari berita yang dibawakannya, media massa terkadang memberikan informasi yang bagus tetapi sering juga media massa memberikan umpan provokasi terhadap pemerintah baik dari segi berita korupsi, kampanye, dan berita-berita lainnya yang sekiranya bisa menarik simpati masyarakat untuk terus memperhatikan salah satu media massa.
Pada awalnya, media massa terbentuk dari keprihatinan terhadap bangsa Indonesia di masa penjajahan dan media massa memiliki peranan penting sebagai alat pemersatu pemuda dalam memperjuangkan hak-hak bangsa Indonesia. Berbeda dengan zaman sekarang, penulis melihat ada dua sisi yang menyebabkan media massa menjadi ambigu untuk dilihat peranannya. Keambiguan tersebut timbul dari faktor kewajiban yang harus dilakukan media massa sebagai sarana informasi kepada khalayak ramai dan faktor keharusan dalam bersaing dengan media massa lainnya yang melakukan pemberitaan secara berlebihan (provokasi) sehingga dapat memberikan income yang meningkat. Dua faktor inilah yang menjadikan keambiguan dalam membaca realitas kehidupan bangsa. Dua hal ini tidak dapat dipungkiri dari setiap media massa, keinginan untuk memberikan informasi membuat setiap media massa melakukan segala cara dalam etika pemberitaannya sehingga tujuan supaya informasi tersampaikan bisa terwujud. Salah satu cara yang masih digunakan oleh media massa adalah memprovokasi masyarakat dengan tulisan atau elektronik (televisi). Di era sekarang ini, penulis melihat media cetak lebih mengarah ke provokasi informasi yang aktual dan untuk media elektronik masih menjadi sumber informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat tetapi tidak sedikit ada “bumbu pedas” yang dilontarkan untuk membuat panasnya suasana berita terkini.
Media cetak lebih mudah untuk memprovokasi masyarakat terhadap isu-isu yang berkembang. Kata-kata memang menjadi senjata ampuh yang bisa menarik minat masyarakat untuk membaca suatu berita, kalau tidak ada kata-kata yang memprovokasi ataupun headline yang persuasif mungkin beritanya tidak akan laku. Jika dibandingkan media cetak, media elektronik lebih ke arah memberikan informasi dibanding dengan provokasi. Hal ini disebabkan oleh kehati-hatian suatu instansi media massa dalam memberikan suatu informasi yang berada di bawah naungan pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Bukan berarti media cetak seenaknya memberikan informasi yang provokatif tetapi media elektronik lebih mudah untuk diawasi dibandingkan dengan media cetak. Faktor penting yang harus diperhatikan sebagai dampak negatif dari adanya pemberitaan melalui elektronik adalah masyarakat seakan mengikuti apa yang sedang berkembang melalui arahan media tetapi tidak diarahkan kepada pemberian solusi yang mendalam terhadap suatu berita yang berkembang. Oleh karena itu, media massa memiliki peranan penting dalam mengubah paradigma berpikir masyarakat dari yang mulanya menerima masalah menjadi menjadi pemberi solusi terhadap permasalahan yang berkembang.

Sedikit Pencerahan
Paradigma berpikir yang masih terpusat pada media massa seharusnya dijadikan kesempatan oleh media massa untuk memberikan kontribusi yang maksimal dalam hal pencerdasan kehidupan bangsa. Media massa bisa memberikan informasi yang edukatif berupa tulisan atau tayangan televisi yang bisa membantu dalam mewujudkan kecerdasan bangsa. Dengan pemberitaan yang berbobot-di sektor pendidikan, ekonomi, dan hukum-maka diharapkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang terus berwawasan dan tidak akan tertinggal dalam masalah informasi. Hal ini tidak mustahil terwujud karena mengingat media massa masih menjadi sumber informasi masyarakat Indonesia sehingga bisa mengalihkan perhatian dari yang semulanya hanya sekedar informasi menjadi informasi yang membangun karakter di sektor ekonomi, pendidikan, dan hukum.
Masyarakat dan media massa adalah penikmat dan pentransfer informasi dari realitas yang berkembang. Jangan sampai realitas yang ada dimasuki dengan sikap ambiguitas media massa yang seakan memberikan berita untuk dikonsumsi dan tidak memberikan peluang untuk beraspirasi atau bahkan memberikan solusi dari masyarakat untuk permasalahan bangsa Indonesia.
Rekomendasi Penulis
Perkembangan media massa yang sudah tidak bisa dibatasi dan sudah bebas untuk mengeluarkan pendapat membuat sebagian media massa menjadikan kesempatan itu menjadi sebuah sarana pencarian income yang meningkat. Penulis menyarankan perlu adanya pengawasan dari pemerintah untuk menjaga kondisi masyarakat agar tidak terbawa arus media massa yang memberitakan informasi yang memang tujuannya hanya memprovokasi informasi saja bukan mentransformasikan informasi terkini. Pemerintah berhak untuk menindaklanjuti kepada media massa yang menambah masalah-akibat dari pemberitaan informasi-dan bukan menjadi penjawab permasalahan yang ada. Oleh karena itu, pemberitaan oleh media massa mengenai kondisi kekinian memang harus dijadikan sarana untuk penyalur aspirasi dari masyarakat untuk pemerintah dan bukan untuk memprovokasi informasi dan mengadudombakan antara pemerintah dan masyarakat.
Penulis juga melihat dari sisi mahasiswa bahwa mahasiswa juga memiliki peranan penting dalam memberikan kontribusinya terhadap berita yang diinformasikan oleh media massa. Penulis melihat mahasiswa melakukan suatu upaya preventif dari keambiguan informasi oleh media massa dalam membaca realitas yang ada. Mahasiswa seharusnya selalu melakukan koordinasi yang baik dalam hal menyikapi permasalahan realita yang ada. Mahasiswa dengan sigap menanggapi isu yang berkembang saat ini dengan melakukan advokasi kepada media massa (jika media massa memberitakan yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan) dan pemerintah dalam upaya purifikasi dan rasionalisasi berita yang disampaikan sebagian media massa yang berusaha memberitakan informasi yang tidak valid dan memang memiliki unsur provokatif. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut memiliki wawasan luas mengenai Indonesia, jiwa sosial yang tinggi, dan solutif dalam menghadapi setiap permasalahan yang berkembang di masyarakat. Karakteristik mahasiswa seperti itulah yang bisa menjadikan bangsa ini maju dan menjadikan masyarakat memiliki paradigma berpikir yang baik dan solutif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s