Gerobak Tua

Oleh : Ferry Aldina

Seperti biasa waktu tepat menunjukkan pukul tujuh pagi dan tidak seperti biasanya teman-teman kuliah sudah menungguku dan mengosongkan bangku depan untukku. Mungkin memberikan kesempatan untuk selalu menjadi terdepan atau mungkin juga karena mata kuliah yang sudah bisa dibilang angker dan mereka tidak mau jadi korban “keganasannya”, ya dosennya memang killer dan mata kuliahnya “mengerikan”. Langsung aku geser kursi ke belakang meja lalu aku duduk menatap ke depan seakan-akan dosen sudah mengajar mata kuliah yang memang sulit dan butuh kemandirian belajar dari mahasiswanya. Tak mau makan waktu lama, buku yang sudah dipersiapkan sudah ku letakkan diatas meja dan bolpoin baru pun segera ku ambil di saku. Bolpoin yang hampir setiap ku keluarkan itu masih selalu utuh alias semuanya baru karena memang sifat cerobohku atau mungkin terpinjamkan secara “grilya” oleh teman kuliah. Dengan bolpoin yang baru bisa membuat setiap tulisan menjadi semangat baru dan terus tidak akan padam layaknya sasuke dengan jurus amaterasu untuk membunuh killer bee.

“Ngapain ira senyum dewek? Makin hari makin aneh aja.” Sindir Apri, temanku asal Indramayu yang selalu membudayakan bahasa indramayunya sekalipun lingkungan kuliah selalu memakai bahasa sunda.

“opo ira? Gulat karo kula?” kata-kata yang sengaja kulontarkan padahal tidak tahu artinya, ajaran Guru Apri memang selalu kugunakan soalnya katanya aneh tapi enak diucapinnya. Kalimat yang membuat apri bimbang antara marah dan ketawa, dan pada akhirnya malah menasehatiku untuk menggunakan kalimat itu pada tempatnya, tempat orang suka adu jotos dan mancing nafsu marah calon lawan.

Memang sih pertanyaan dari Apri benar juga, kenapa aku jadi keseringan senyum sendiri dan anehnya itu malah membuat pikiran ini nyaman dibanding mikirin tugas dan pekerjaan lain yang sudah mendekati deadline. Dalam kesenyuman itu saya selalu berpikir betapa nikmatnya karunia Allah yang sudah memberikan kesempatan kepada hambaNya untuk mendapatkan pembelajaran yang lebih tinggi. Disinilah, di perguruan tinggi saya seakan bisa merasakan puncaknya dari gunung ilmu ketika sudah melewati lembah SD, SMP, dan bahkan sudah bangkit dari jurang SMA. Ketika duduk di bangku kuliah pun, aku masih teringat ketika lembah SD yang penuh suka cita tanpa duka kulalui dengan sebaskom jagung. Tidak tahu kenapa, kebiasaan berdagang timbul dari ikut-ikutan melihat teman berjualan jagung dan seakan menjadi hobi kami bersama. Menurutku, hobi ini sangat berguna sekali. Aku tidak perlu lagi minta uang jajan toh aku masih punya lebih dari keuntungan dagang jagung. Apalagi kalau ada buku pelajaran yang harus dibeli pun aku tinggal minta tambahan dari ibu dan Alhamdulillah sedikit membantu keuangan keluarga.

“Jagong, Jagong, Jagong!” kata-kata yang sering ku ucapkan ketika ku jajakan dagangan. Dagangan yang selalu laris diserbu ibu-ibu yang setiap ku teriakan dan langsung memanggil dengan nama daganganku-sapaan yang tak kuharapkan-tapi yang kuinginkan mereka menyebutkan minimal dengan sapaan Jang atau Nak. Mungkin salah satu membuat pembeli jadi raja adalah membiarkan mereka memanggil nama kita dengan nama dagangan kita ketika dagang keliling. Dulu itu tidak ada gengsi untuk berdagang, dari mulai SD pun sudah dididik menjadi pekerja keras-disamping suatu keharusan- sehingga ketika dirasa sudah memiliki uang yang lebih, bisa digunakan untuk kebutuhan ilmu (buku, SPP, uang jajan sekolah). Tapi, gak tahu kalau sekarang itu mungkin anak SD gak mau pegang namanya jagung atau dagangan sejenisnya tetapi mereka malah bersemangat ketika diberi play station atau handphone atau apalah yang bisa membuat mereka senang dan sedikit melupakan arti dari kerja keras dan merasakan susahnya mencari uang. Meskipun upah jagung hanya empat ribu untuk empat puluh jagung yang dibawa tetapi alangkah bersyukurnya ketika empat ribu yang selalu dikumpulkan bisa sebanding dengan uang empat ratus ribu untuk bayar uang bangunan pas waktu masuk SMP.

***

“kita akan berbicara pengolahan air di suatu industri dan perlu diingat oleh kalian bahwa pengolahan limbah industri tidak akan dibahas dalam mata kuliah ini karena sebagai mahasiswa Teknik Kimia iu kalian harus mengerti terlebih dahulu sistem pengolahan air karena sistem pengolahan air yang baik akan menentukan pemrosesan bahan baku menjadi suatu produk yang bernilai guna…”

Arahan dosen yang penuh semangat mengajari mata kuliah Pengolahan Air Industri memang sungguh dirasakan oleh anak desa sepertiku yang dulunya tidak bermasalah dengan masalah air karena air di desaku tinggal ambil di sumur dan langsung dipakai buat cuci, minum, dan konsumsi lainnya. Di kuliah ini, mataku menjadi terbuka lebar-lebar yang mulanya berawal dari suatu kesempitan berpikir menjadi sebuah gambaran luas tentang dunia industri, masih tak bisa dibayangkan aku bisa belajar bersama orang-orang hebat, orang-orang yang mempunyai mimpi-mimpi ke depannya tapi aku masih merasa terlalu senang dengan keadaanku yang sudah merasa puas untuk bisa sampai kuliah. Padahal, di kuliah lah aku harus memulai merencanakan hidup sebenarnya dan lebh berbakti kepada orangtua dan masyarakat.

“kita sekelompok bae lah buat artikel Pengolahan Air Industri Gula, gimana?” ajakan Apri yang membuyarkan lamunanku dalam mengingat keistimewaan nikmat Allah yang diberikan kepadaku. Sungguh hamba ini kurang bersyukur atas nikmat yang Engkau berikan.

“oke lah Pri, tapi kapan kita mulai kerja kelompoknya?”

“Nanti malam aja”

“Seriusan Pri!, baru aja dikasih tugas setengah jam tadi!”

“Time is money and time is like a sword. You’ll be killed if you just stay calm and do nothing for the time.”

“Wess, hebat bahasa inggrisnya Pri!”

“Bukan hebat tahu! Tapi kudu ngerti opo sing ngomong tadi”

“Oke-oke Pri, siap lah. Nanti malam aku ke kosan kamu.”

“Kayaknya udah jam istirahat”

Langsung aku pergi dengan membawa perut yang lapar ke bapak yang jualan makanan kecil di depan gerbang SMP Negeri 1 Singaparna. Dagangan yang selalu didambakan setiap anak dan memang rasanya tidak ada bandingannya. Tapi jajan makanan yang enak itu memang susah apalagi jajanan favorit anak SMP. Baru aja bel bunyi, anak-anak langsung antri depan gerobak tua yang sudah tidak bisa ditebak warnanya apa tapi mungkin bisa dikatakan seperti lukisan abstrak yang coba ditempatkan di gerobak, hampir dua puluh orang berjajar di depan gerobak dan mungkin setiap ada yang sudah beli bukan menjadi berkurang tapi malah nambah yang ngantrinya. Allah memang pengatur rezeki dan mudah-mudahan selalu memberikan kemudahan untuk mencari rezeki kepada bapak itu. Alhamdulillah mungkin nasibku memang mujur, ketika orang lain berebut ke gerobak tua demi mendapatkan satu porsi jajanan tapi aku tidak usah repot-repot berlari-larian ditengah keramaian, berdesak-desakan dengan orang lain karena gerobak tua yang selalu jadi sasaran jajanan utama siswa SMP itu selalu disimpan dengan baik di rumahku. Ya, memang itu jualan ayahku. Setiap malam aku yang selalu membantu membuat jajanan yang selalu diperebutkan anak sekolahan dan kalau untuk memakannya, aku memang sudah terlalu sering jadi kalau misalkan lapar, langsung buat sendiri aja porsinya yang lebih besar.

Sudah tidak diragukan lagi semangat dan pengorbanan mereka untuk anaknya. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah putus asa, dan selalu berusaha memberikan kebahagiaan yang sebanyak-banyaknya untuk anak tercinta tanpa memikirkan fisik yang sudah lelah dan melewati batas kemampuan fisik seorang tentara sekalipun.

“Kok udah ada dosen lagi?” gumamku dalam hati. Memang bayangan waktu SMP masih teringat dan selalu menimbulkan keheranan ketika kuliah itu jam istirahatnya selalu “ditabrak”, dosen memang memegang kekuasaan. Toh, kitalah yang membutuhkan ilmu jadi kita harus patuh aja ke dosen yang mau ngajarnya kapan dan dimanapun dosen mau.

Semenjak kuliah, aku sudah tidak bisa merasakan apa namanya itu jam istirahat, jam jajan, atau jam-jam yang suka terus dinantikan kedatangannya. Ingatan SMP mulai sudah harus dilupakan dan sekarang tinggal fokus untuk mendapatkan nilai yang bagus dan kerja di tempat yang hebat. Itulah tujuan awalku mengapa memilih Politeknik menjadi pilihan kuliah disamping karena cepat beres (hanya tiga tahun) dan cepat kerja. Tujuan  awalku tidak akan pernah berubah tapi akan ditambahi bumbu-bumbu pelengkap untuk membuat kelezatan dari tujuanku menjadi lebih enak dan sedap.

“Simpan semua buku yang ada diatas meja ke dalam tas kalian dan siapkan selembar kertas, bolpoin dan kalkulator. Kita Kuis sekarang!” Dengan santainya memberikan instruksi yang membuat semua mahasiswa kalang kabut dan tidak bisa berpikir apa-apa lagi kecuali menuruti perintah sang dosen. Jadi, tidak heran kalau mahasiswa dituntut mandiri, disiplin, dan kerja keras. Inilah salah satu ujian terberat mahasiswa sejenius apapun kalau diberikan kuis dadakan tanpa belajar dan diibaratkan menjadi pertarungan insting seorang penembak jitu dalam menyelesaikan kuis dadakan. The only way to get a good score.

Beginilah jadi mahasiswa berkurikulum extra padat, saking padatnya tugas dan laporan juga ditambah waktu kuliah yang sangat padat. Jangankan mempersiapkan kuis atau ujian, tugas laporan beres pun rasanya lega seakan tidak ada beban dan seringkali rehat sejenak dari tugas dan jarang sekali untuk belajar.

Memang sudah menjadi takdir hidupku di Politeknik, sistem perkuliahan yang selalu padat dan akan selalu padat sebelum mahasiswa tersebut lulus dari Politeknik. Kalaulah dulu tidak memilih Politeknik, mungkin aku bisa mendapatkan waktu luang yang lebih banyak. Aku bisa meluangkan waktu untuk menyalurkan hobi menulis dan bermain futsal. Sungguh sangat sulit untuk menyalurkan kedua hobiku itu, memang sebuah kenikmatan terbesar bagiku ketika bisa menghasilkan karya tulis di saat sistem perkuliahan yang selalu menghambat pembuatan karya tulisku.

***

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, aku pun melakukan rutinitas sholat Dhuha seperti biasa dan mengakhirinya dengan memohon kemudahan rezeki. Belum sempat selesai sholat Dhuha, nada sms yang berdering selama dua kali pun mengganggu konsentrasi ibadahku. Rasa penasaran pun timbul ketika selesai berdo’a. aku pun langsung melihat handphone dan terlihat bacaan dua pesan diterima.

Pesan pertama dari Ikhsan, teman SMA ku

“Selamat Fer, kamu diterima di Politeknik Negeri Bandung Jurusan Teknik Kimia” pesan sangat menggembirakan dan membuatku sedikit lega karena kekhawatiran untuk diterima atau tidaknya di perguruan tinggi terjawab sudah”. Aku pun langsung membaca pesan yang kedua,

“kamu harus traktir kita dong! Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia udah nerima kamu, tinggal registrasi doang! Pokoknya kita gak rela kalo gak ditraktir.hehe” Pesan kedua yang malah membuatku bingung untuk memilih perguruan tinggi mana yang menjadi tempatku mencari pencerahan, perubahan, dan pembentukan jati diri.

Pikiranku bertambah pusing mengingat surat dari Institut Teknologi Telkom sudah tergeletak tak tersentuh lagi di meja belajarku. Memang sudah dipastikan Jurusan Teknik Industri IT Telkom sudah tidak akan diambil, tapi menjadi suatu kewajiban mensyukuri apa yang sudah diberikan Allah tapi apa daya takdir Allah telah menunjukkan jalan kepadaku. Allah memang sungguh maha baik dan maha adil, Allah selalu tahu yang terbaik bagi hambaNya. Politeknik Negeri Bandung menjadi tempat berlabuh dan tempat perjuangan hidupku menjadi seorang mahasiswa.

Akhirnya kuis dadakan pun selesai. Instinglah yang berbicara bukan hanya ingatan kuliah dari dosen. Berbagai keluhan sudah mulai keluar dari mulut semua mahasiswa di kelasku, ada yang yakin bisa, ada yang terus ngeluh, dan juga ada yang pasrah saja karena semuanya di isi dengan instingnya tanpa sedikit pun ingat mata kuliahnya. Sungguh lucu dan memang moment yang tidak akan dilupakan.

***

Sebagai anak laki-laki pertama di keluarga, menjadi sebuah beban tersendiri untuk menjadi pribadi yang mandiri dan terus kerja keras. Seharusnya tidak ada kata menyerah dan tidak ada kata mundur dalam kamus hidup seorang anak laki-laki, karena memang semua yang dilakukan adalah pure untuk dirinya dan orang lain. Jikalau dia sudah takut akan tantangan hidup, apalagi dengan ancaman mati yang selalu datang tiap saat mungkin sudah “mati sebelum waktunya”. Kita harus merubah mainset berpikir seorang laki-laki. Semua yang namanya laki-laki itu beruntung, bebas, dan memiliki asa yang tinggi. Tantangan hiduplah yang membuat laki-laki itu terus hidup dalam merajut benang keberanian, kearifan, dan kesuksesan. Tak ada yang tidak bisa dilakukan kaum laki-laki, lahan yang biasa dilakukan wanita pun bisa lebih dibuat sempurna oleh laki-laki. Sudah banyak beredar koki-koki handal di seluruh dunia ini dan semuanya itu mayoritas laki-laki.

Didikan menjadi pekerja keras membuatku beruntung ketika dihadapkan pada suatu keadaan yang harus membuatku survive dan tidak layak untuk menyerah. Ketika keuangan menipis, ketika banyak memikirkan keluarga, dan ketika memikirkan kuliah. Itu semua menjadi tantangan tersendiri untuk membuatku bebas bergerak dalam menyelesaikan masalah, tidak ada batasan selagi sesuai norma dan tidak ada halangan selagi kita ada tekad.

***

Selepas kuis dadakan itu rasanya ingin merehatkan sejenak pikiran ini dengan membaca buku. Kuambil buku di tas, ku cari halaman terakhir yang kubaca dan mulailah aku meneruskan membaca buku-buku islam, buku-buku yang sangat jarang dibaca sebelumnya dan seharusnya terus tidak dilupakan untuk dibaca sebagai penambah ilmu disamping ilmu perkuliahan.

Semua orang bisa leluasa untuk melakukan hobinya, menggiatkan aktivitas, dan meraih mimpi tanpa ada batasan. Itu semua ada pada diri seorang laki-laki, jiwa yang tidak akan tidak dibatasi dalam bergerak dalam konteks seorang pemimpin perubahan. Mimpi yang tinggi yang ditopang dengan ide besar bisa dicapai dengan kepemimpinan yang adil dan tangguh. Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya selama masih ada makhluk yang bernama laki-laki di muka bumi ini.

 Menjadi pemimpin adalah jabatan yang belum pernah dirasakan dan tidak pernah terbayangkan. Sungguh kompetensi diri ini dibangun ketika di luar perkuliahan. Organisasi menjadi suatu wadah kreativitas dan peningkatan kualitas seseorang, apalagi laki-laki yang berorganisasi dan apalagi ketika seorang laki-laki bisa menadi pemimpin organisasi. Aku masih belum sadar kalau anak laki-laki yang berawal dari gerobak tua ayahnya bisa menjadi seorang pemimpin, ketua Departemen Pengembangan Masyarakat KAMMI Politeknik Negeri Bandung. Sedikitpun tidak mau meremehkan jabatan yang sudah diberikan.

Gerobak tua memberikan pelajaran besar ketika kau bisa mengendalikan kendaraanmu-meskipun sudah tidak layak-maka terasa hasil yang bisa dirasakan. Kerja keras dan semangat juang adalah kunci keberhasilan dari pemimpin, pemimpin yang bisa membimbing dan terus memberikan contoh yang baik serta bebas bergerak dalam menginisiasi setiap agenda. Sosok pemimpin tersebut memang pantas untuk seorang laki-laki.

Gerobak tua menjadi saksi bisu dalam sejarah pembangunan diri dan perekonstruksi sejarah anak desa menjadi pemimpin yang memiliki amanah untuk mengembangkan masyarakat dalam organisasinya yang kemudian tidak akan lupa akan sejarah dan terus berusaha menjadi orang yang bermanfaat dimanapun berada.

Matahari pun sudah mulai di atas kepala, tidak nampak ciri-ciri akan turun hujan seperti biasanya. Angin pun tiba-tiba menjadi sepoi-sepoi padahal  kemarin bisa membuat daun kelapa berterbangan. Musim hujan di bulan April ini memang tidak bisa diprediksi, mungkin nanti malam ataukah pagi akan turun hujan lebat. Cuaca yang membuat suasana kampus semakin ramai dan ditambah kabar gembira dari sang ketua kelas,

“Dosennya ngasih tugas. Jadi kalian hari ini dibebaskan asal tugasnya selesai besok”

Bagaikan manisnya teh ditambah lagi segelas susu, kondisi yang membuat semua mahasiswa seperti kami menjadi senang dan bisa menyelesaikan tugas-tugas yang sudah mulai dekat tanggal deadline.

“ Ayo Pri, ngerjain dimana tugasnya?”

“Kita ke perpus dulu aja gimana?”

“Oke.”

 

2 thoughts on “Gerobak Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s