Buah dari Buih Pendidikan Masa Kini (Oleh : Ferry Aldina)



Ketika memahami arti dari sebuah pendidikan maka tidak heran banyak orang menafsirkannya sebagai sesuatu yang bisa dikatakan ujung tombak kehidupan, senjata yang terus menjadi modal utama membangun perbaikan diri ataupun menjadi sebuah perhiasan keluarga yang sangat berharga untuk mengepakkan sayapnya menuju cita-cita pribadi dengan membawa nama baik keluarga. Kadang juga disalahartikan bahwa pendidikan merupakan suatu nilai gengsi semata untuk menunjukkan keberhargaan kita di mata orang lain padahal jauh dari itu bahwa pendidikan merupakan suatu kewajiban yang diamanahkan kepada kita untuk mendapatkan bekal sebanyak-banyaknya dalam merubah bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri dan bermartabat di mata dunia. Pendidikan adalah suatu ilmu mendasar yang dapat menghantarkan kita menembus pintu terindah yaitu berupa surgaNya karena dengan atau tidak sadar bahwa Allah telah menunjukkan jalan menuju surga karena ikhtiar kita untuk mencari ilmu.

Pendidikan bisa diklasifikasikan berdasarkan kepentingan ataupun wajah dari suatu elemen fungsional di negeri ini. Orang yang berpendidikan baik adalah ketika bisa menjadikan amanah terbesar seorang anak –setelah menjadi anak yang sholeh- yaitu menjadi anak yang cerdas membanggakan. Memang kondisilah yang menjadikan kita seperti berada di sebuah penjara kesombongan-meskipun tidak semua orang meyakini demikian-yang terus menjadikan perisai diri dari kelemahan kita ataupun suatu kelompok yang menjadikan kita merupakan bagiannya. Akan tetapi, hal itu tidak perlu dipermasalahkan karena terlalu sia-sia jika kita masih memikirkan hati dan niat seseorang untuk mencari ilmu dan pendidikan yang layak, kita jangan melangkahi Allah-meskipun pada hakikatnya tidak bisa- dalam urusan hati karena sesungguhnya Allah yang mengetahui segala isi hati.

Hal yang selalu diingat dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 11 ayat (1) yang menyatakan bahwa “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”. Ini sangat jelas menunjukkan faktor keberhasilan suatu sistem dan kualitas pendidikan ditunjang dari peran maksimal dari pemerintah yang kuasa akan dana dan kebijakan. Tidak ada yang bilang bahwa pendidikan Indonesia sangat memprihatinkan-jika melihat prestasi siswa Indonesia yang menjuarai olimpiade fisika bulan kemarin-tetapi sudut pandang yang diambil adalah sejauh mana bangsa ini bisa meratakan pendidikan yang layak di negeri yang teramat luas dan beragam ini.

Pendidikan sebagai cerminan bangsa merupakan harga mati bagi setiap bangsa itu sendiri, bagaimana bisa mensinergiskan antara pandangan negara lain-melihat prestasi siswa Indonesia di kompetisi dunia-dan kenyataannya masih banyak “PR” yang harus dibenahi dan yang pasti terus terevaluasi mengenai masalah pendidikan, terutama kesempatan pendidikan rakyat karena memang kesempatan ini sudah jauh-jauh dicantumkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat (1) menyatakan bahwa “Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.”

Jika kita membicarakan peringkat pendidikan Indonesia sekarang ini dibandingkan dengan peringkat olahraga yang memang sedang booming apalagi sejak dipercayanya Indonesia menjadi tuan rumah Sea Games 2011. Fakta membuktikan bahwa prestasi kemajuan suatu bangsa masih ditentukan dengan apa yang disebut peringkat dan memang kedua sektor tersebut (pendidikan dan olahraga) sama-sama memiliki peringkat yang dibawah. Hal yang perlu digarisbawahi adalah jika angka prestasi pendidikan Indonesia masih rendah-apalagi menurun-bagaimana jadinya pertanggungjawaban negara-dalam memberikan pendidikan dan penghidupan yang layak kepada rakyatnya-terhadap kepercayaan bangsa lain kepada negara ini, baik disektor pekerjaan, tenaga ahli, ataupun kepercayaan yang menyangkut dunia pendidikan. Ini sangat jelas bahwa pendidikan harus terus menjadi prioritas utama diatas kepentingan apapun.

Pendidikan sangat berperan aktif dalam menghasilkan generasi yang intelek dan berakhlak mulia. Bagaimana tidak sebuah kompetensi seseorang menjadi sebuah penilaian dalam mengembangkan SDM yang berkualitas sehingga perlu dituntut untuk keseriusan segala pihak dalam memprioritaskan bidang pendidikan di bangsa ini. Baik buruknya suatu pendidikan bangsa bisa dilihat dari sejauh mana SDM bangsa itu bisa bermanfaat untuk bangsanya dan sesungguhnya pendidikan tidak bisa dilepaskan dari sistem kehidupan ini mengingat berkembangnya sumber daya manusia di suatu tempat bergantung terhadap bagaimana pendidikan itu bisa dijadikan kebutuhan pokok individu dalam mengembangkan potensi yang dimiliki serta mencari solusi terhadap permasalahan yang ada di sekitarnya.

Sebuah Masalah Tanpa Batas

Ini menjadi hal yang sangat bosan untuk kita bicarakan karena memang masalah pendidikan seharusnya dapat terselesaikan-mengingat pentingnya sektor ini di kehidupan bangsa-tetapi apa jadinya ketika masalah itu hanya terus menjadi wacana tanpa ada sebuah kerja nyata dalam menjawab permasalahan tersebut. Terlalu sering untuk kita membicarakan masalah korupsi di ranah pendidikan, terlalu sering juga media membicarakan korupsi ini tanpa ada solusi jera yang bisa menghentikan para “koruptor intelek” yang selalu enak meluangkan waktunya dalam menikmati kenikmatan yang bukan haknya.

Coleman dalam bukunya Equality of Educational Opportunity mengemukakan secara konsepsional konsep pemerataan yakni pemerataan aktif dan pemerataan pasif. Pemerataan pasif adalah pemerataan yang lebih menekankan pada kesamaan memperoleh kesempatan untuk mendaftar di sekolah, sedangkan pemerataan aktif bermakna kesamaan dalam member kesempatan kepada murid-murid terdaptar agar memperoleh hasil belajar setinggi-tingginya (Ace Suryadi , 1993 : 31). Ini berarti bukan hanya birokrasi yang bermasalah di bagian keserakahan dalam penggunaan wewenang tetapi masalah sistem pendidikan yang kurang merata bisa diindikasikan menjadi salah satu penyebab kurang berkembangnya pendidikan di Indonesia-dalam hal ini penyetaraan kualitas pendidikan antar tempat. Apalagi dengan letak geografis yang membuat Indonesia terbagi-bagi itu menjadi pendidikan yang tidak merata. Tidak heran kalau media baru-baru ini di Indonesia bagian timur masih terdapat siswa kelas VI SD yang belum bisa baca tulis. Kekurangan pengajar, minimnya sarana, dan kendala transportasi masih dirasakan belum mendapat realisasi pemecahan masalah yang berdampak besar untuk perubahan di bidang pendidikan, terutama di daerah terpencil.

Kesenjangan sosial juga masih belum hilang meskipun ketika semua kesempatan pendidikan itu sama untuk semua kalangan (tanpa memerhatikan masalah financial). Kesenjangan masih menjadi momok menakutkan untuk Si Miskin dalam merasakan indahnya dunia pendidikan, indahnya mendapat ilmu, indahnya memberikan ilmu yang didapat, dan tentunya indahnya menjadi sebuah kebaikan yang tidak kunjung putus sampai liang lahat. Kesenjangan sosial yang membuat demokratisasi dengan slogan education for all menjadi tidak dirasakan oleh sebagian orang, hanya orang yang bermateri saja yang bisa merasakan pendidikan yang didukung dengan fasilitas-fasilitas pendukung guna mengembangkan potensi, seperti internet, perpustakaan kelas, dan lain-lain. Lebih dari itu, banyak orang yang tidak bisa melanjutkan untuk kuliah dengan alasan klasik, yaitu kurang biaya.

Sebenarnya terlalu banyak masalah yang dihadapi di dunia pendidikan tetapi kita pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena ini merupakan sebuah keniscayaan bahwa setiap upaya perubahan pasti akan selalu ada hambatannya, justru ini tugas kita sebagai pemimpin perubahan (director of change). Kita tidak bisa menafikkan tugas kita sebagai pemimpin di bumi ini yang membuat kita harus selalu berusaha memberikan yang terbaik dan solusi real karena Allah SWT berfirman dalam surat Al-An’am ayat 165 “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Bergerak dan tuntaskan perubahan! Ya kata yang harus dipahami oleh semua yang masih peduli untuk kemajuan bangsa, tidak ada yang bisa merekayasa sosial, merancang rencana perbaikan, dan merealisasikan solusi permasalahan di dunia pendidikan selain kita yang masih mempunyai kepedulian untuk bangsa. Kita yang bisa diartikan segala kalangan rakyat peduli penddikan, wakil rakyat yang masih merasakan adanya amanah yang ditanggungnya, dan pemimpin yang semoga selalu mengarahkan kita menuju kesejahteraan rakyat.

Ada satu hal lagi yang mungkin terlupa oleh kita yaitu sebuah potret anak bangsa yang sangat memerlukan bantuan kita, mereka adalah anak jalanan. Stigma negatif sudah mengakar dan menjadi simbol mereka serta menjadikan mereka tersisihkan di dunia luar, khususnya pendidikan. Mereka ingin seperti anak yang selalu duduk rapi dan mendengarkan pembicaraan gurunya, mereka ingin merasakan apa yang mereka inginkan untuk mewujudkan cita-citanya. Pada akhirnya mereka terpaksa kehilangan kesempatan untuk berpendidikan karena faktor utama mereka adalah kekurangn ekonomi. Jadi tidak heran kalaulah mereka sering berada di jalanan karena mungkin itu yang bisa dilakukan atau boleh jadi tidak ada yang bisa menampung keluhan mereka sehingga semakin jelaslah bahwa pembinaan dan perhatian yang kurang menjadi tugas besar dan evaluasi bersama untuk mewujudkan salah satu cita-cita bangsa, mewujudkan kesejahteraan bangsa dan mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa adanya sikap tebang pilih dan acuh tak acuh kepada rakyat Indonesia yang beragam.

Sebuah Tetes Darah Kehidupan

Warisan bangsa yang tidak diinginkan berupa masalah di berbagai sektor penting di Indonesia dipandang sebagai dua hal yang berbeda, yaitu ketidakmampuan pemerintah yang tidak bisa mengatasinya dan kepercayaan yang harus diupayakan oleh kita dalam menyelesaikan masalah bangsa. Akar masalah bangsa yang sudah tadi disebutkan adalah masalah pendidikan dan butuh upaya real serta mengenai sasaran.

Mulai dari masalah korupsi yang masih saja belum jera ini harus segera ditanggulangi tetapi apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh pemerintah. Upaya yang harus dilakukan adalah sebuah transparansi dan pemantauan yang lebih ketat oleh departemen pendidikan nasional terhadap anggaran pendidikan yang sudah dialokasikan sebesar 20%. Aliran dana inilah yang sering mendapat sorotan dari semua pihak-dalam kebenaran transparansi dananya-termasuk juga pejabat yang ingin mendapatkan kepuasan lebih dari dana tersebut. Oleh karena itu, transparansi dari departemen pendidikan nasional harus memberikan kejelasan aliran dana kepada seluruh pejabat depdiknas mulai dari pusat sampai daerah. Ini diupayakan agar semua aliran dana yang disalurkan dari pemerintah-sesuai dengan alokasi yang sebesar 20%-bisa diketahui oleh seluruh pejabat depdiknas sehingga jika ada kekurangan atau pemotongan dana maka akan segera diketahui. Disamping itu, pemerintah jangan mengesampingkan aspek pemantauan aliran dana dengan membentuk tim khusus yang mengelola dana dari awal pengeluaran sampai kepada sasaran akhir yang berada di daerah terpencil. Tim ini dibentuk berdasarkan kesepakatan bersama dan mempunyai tanggung jawab besar atas kebersihan aliran dana dengan tegas tidak ada potongan yang mengakibatkan pengurangan anggaran pendidikan. Pada akhirnya, pemerintah sebagai penanggungjawab utama juga harus melakukan sikap reaktif kepada orang yang melakukan penyimpangan dana atau melakukan pemotongan dana-meskipun sedikit- sehingga menimbulkan efek jera bagi si pelaku. Sikap reaktif ini berupa pemberhentian kerja-jika kesalahan masih skala kecil (terindikasi)-dan tindakan hukum berupa penjara yang tidak tanggung-tanggung, misalkan lima belas tahun penjara.

Aspek pemerataan pendidikan juga harus menjadi bahan pemikiran dan penyelesaian bersama, bagaimana segi kesempatan belajar semua kalangan bisa diperhatikan, bagaimana fasilitas pendukung di dunia pendidikan-baik sarana ataupun kurikulum pembelajaran yang disesuaikan- bisa teratasi, dan yang paling penting adalah semua daerah-khususnya daerah terpencil-bisa menikmati dunia pendidikan sehingga masalah buta huruf didaerah pelosok sudah tuntas terselesaikan. Langkah nyata yang harus dilakukan adalah penyejahteraan guru harus menjadi pokok utama penyelesaian masalah. Pemerintah harus segera membersihkan anggaran pendidikan yang sekarang gaji guru masih 80% dari anggaran pendidikan sehingga perlu ada upaya real dari pemerintah ini (mengkhususkan anggaran gaji guru tanpa disatukan dengan anggaran pendidikan) untuk mewujudkan kesejahteraan guru. Kemudian dalam pemerataan pendidikan, guru sangat berperan sentral dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat di bidang pendidikan. Peran sentral ini maksudnya menyebarkan pengajaran-ilmu pendidikan tentunya-kepada seluruh masyarakat dimanapun berada. Depdiknas mendata semua guru di Indonesia dan daerah-daerah yang membutuhkan bantuan pengajar. Dengan pengarahan dari depdiknas kemudian diadakannya penelusuran tempat ke berbagai daerah terpencil sehingga output dari pengarahan depdiknas yang berupa kesiapan dan kesediaan dari seluruh pengajar di Indonesia untuk bisa mendedikasikan dirinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Setelah tersebarnya pengajar, maka dibutuhkan pemberian kurikulum yang memang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jika masyarakat membutuhkan tentang baca tulis-meskipun harus tuntas di seluruh daerah-maka harus bersedia memberikan pembelajaran tersebut dan begitu juga dengan masyarakat yang memang sudah modern dan menginginkan pengetahuan yang lebih maka pengajar harus sudah siap sedia memberikan bimbingan dan pengajarannya.

Pemerintah juga harus segera menuntaskan masalah kesenjangan sosial antara si miskin dan si kayak arena memang ini masih dirasakan sampai sekarang. Sejatinya, pemerintah memberikan sedikit ruang untuk mereka yang memiliki keinginan kuat untuk belajar lagi berprestasi dan atau mempunyai kekurangan ekonomi. Ruang dimana kesempatan belajar dengan fasilitas seperti RSBI pun bisa dirasakan oleh kalangan bawah, ruang dimana semua calon mahasiswa bisa merasakan nikmatnya bangku kuliah. Pemerintah sebaiknya selalu melakukan pendataan siswa mulai dari tingkat dasar sampai tingkat jenjang perguruan tinggi mengenai ketidakmampuannya dalam memperoleh kesempatan belajar karena masalah ekonomi yang lemah.

Ketidakadilan juga masih dirasakan oleh rakyat jelata, khususnya dunia anak jalanan. Pengajar yang berencana disebar di pelosok negeri juga harus menyediakan waktu, jasa, dan perhatiannya kepada kerasnya di dunia jalanan. Kerasnya mereka akan menimbulkan kelembutan hati mereka untuk terus mencari sebanyak-banyak ilmu dan memang mereka sangat membutuhkan hal itu. Satu-satunya cara untuk mensejahterakan kaum jalanan adalah terjun langsung memberikan pelayanan dari segala pihak-pemerintah, pengajar,organisasi yang care anak jalanan-dan yang paling penting adalah pemerataan pendidikan bisa dirasakan oleh semua kalangan. Konsepan yang jelas mengenai pembinaan anak jalanan (terus continue memberi pengarahan pendidikan, akhlak, dan moril), komitmen yang kuat pihak-pihak terkait, dan tentunya penyediaan dana dari pemerintah sehingga terealisasi cita-cita bangsa.

Dalam menyongsong Indonesia yang bermartabat, Indonesia yang sejahtera dan Indonesia yang bisa memegang teguh untuk terciptanya keadilan di mata rakyat dan Allah SWT, maka salah satu jalannya adalah dengan terus mengedepankan kepentingan pendidikan dan masalah pendidikan menjadi fokus utama semua pihak (mahasiswa, pemerintah, dan organisasi terkait) sehingga kecerdasan bangsa dan kesejahteraan rakyat yang menjadi tujuan kita bersama bisa lebih dekat untuk diraih. Masalah pendidikan ibarat buih yang terus menerus ada jika kita terus menggelutinya setiap waktu tanpa adanya sebuah realisasi solusi-malah menjadi rencana saja-sehingga buih tersebut menjadi menggelembung dan membesar. Buih pendidikan yang dirasakan bisa saja menjadi buah matang yang bisa dimanfaatkan oleh semuanya. Jangan sampai kita hanya terus berharap dengan menghadirkan buah tanpa adanya kerja nyata untuk mengkonversi buih pendidikan menjadikan buah yang matang untuk dinikmati. Buah tersebut timbul ketika kita bisa mengatasi masalah pendidikan yang ada dengan penuh perjuangan dan pengorbanan untuk terciptanya perubahan yang lebih baik karena Imam Syafi’i pun pernah berkata bahwa berlelah-lelah kalian berjuang maka manisnya perjuangan akan terasa kemudian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s