HADIAH ISTIMEWA SEORANG ANAK

Keharusan berbakti kepada orang tua memang sudah dipahami oleh kebanyakan orang. Hal itu disebabkan karena setiap jiwa yang dilahirkan dan dibesarkan dengan keringat tanpa batas serta niat yang tulus-dari sepasang makhluk yang tangguh-pasti sudah memahami arti dari balas jasa yang perlu dilakukannya kepada orangtua meskipun pada hakikatnya kita tidak bisa membalas jasanya dengan sekuat apapun usaha kita. Akan tetapi yang perlu digarisbawahi dalam menyikapi pemahaman birul walidain adalah sama halnya ketika kita dihadapkan dengan buah yang sudah matang, mau melakukan “aksi” ataukah mau mendiamkan buah itu dan membuatnya menjadi busuk? Pemahaman adalah pintu gerbang menuju suatu realisasi dakwah, ketika pemahaman-khususnya birul walidain-hanya dijadikan wacana belaka tanpa adanya kerja nyata maka itu tidak ubahnya seperti buah yang sudah matang dan ternyata menjadi busuk karena tidak adanya aksi dari kita sebagai director of change. Director yang nantinya dituntut untuk bisa menyelesaikan masalah di ranah suatu Negara.

Jika kita membicarakan masalah dari suatu negara maka akan didapati kompleksibilitas persoalan yang harus diselesaikan, mulai dari kesenjangan sosial antar masyarakat, maraknya perdagangan ilegal, semakin tinggi angka pengangguran, dan sampai kepada tindak kejahatan yang tidak ada ujungnya. Awalan dari semua permasalahan yang variatif tersebut adalah kurang dibangunnya suatu akhlak yang baik dan teraplikasikan pula dengan baik di tataran kehidupan. Itulah yang menjadi penyebab kediversitasan masalah di negeri ini. Padahal Allah memerintahkan kita untuk selalu berakhlak mahmudah di manapun kita berada, “… Mereka itu bersikap lemah lembut kepada kaum mu’minin dan bersikap keras terhadap kaum kafirin. Mereka berjihad fi sabilillah dan tidak takut celaan orang yang suka mencela. Demikian itulah keutamaan Allah, dikurniakan olehNya kepada siapa yang dikehendakiNya dan Allah adalah Maha Luas kurniaNya serta Maha Mengetahui.” (Q.S.Al-Maidah : 54)

Antara kewajiban dan manfaat

Pembinaan akhlak dan pendewasaan sikap akan terlihat jelas ketika kita hidup berinteraksi dalam komunitas kecil yang terus menerus membimbing kita menjadi lebih baik dan berusaha untuk memberikan yang terbaik pula, yaitu keluarga. Akhlak yang baik adalah modal utama untuk bisa dihargai dan dicintai, ketika paham bahwa mencintai dianggap sebagai ungkapan ketulusan hati dan puncak dari ukhuwah yang kokoh maka setiap orang akan terus merindukan kelezatan cinta suci tersebut.

Dalam suatu komunitas kecil seperti keluarga, kita harus melakukan positioning yang tepat dalam berprilaku. Aturan dan perintah Allah dan RasulNya pun jangan dinomorduakan ketika hidup di sebuah keluarga. Dalam surat Luqman ayat 14 Allah berfirman “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Birul walidain adalah kewajiban kita selaku anak yang harus patuh dan selalu taat terhadap perintah orangtua selama itu tidak menyimpang dari syari’at islam. Akan tetapi, sesungguhnya yang harus dipahami bahwa kita yang seharusnya membutuhkan cinta karena pada hakikat hidup ini adalah keinginan mendapatkan cinta dan ridha dari Allah yang selalu senantiasa menaungi di setiap langkah kita dan nafas kita agar tidak terjerumus ke jurang kehampaan cinta. Jika ridha Allah yang menjadi tujuan utama kita dalam hidup di dunia maka kita pun harus berprilaku kepada orang tua sebaik-baiknya karena Nabi Muhammad SAW pernah bersabda Keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua dan kemurkaan Allah juga bergantung kepada kemurkaan orang tua.” Lebih jauh dari itu, tujuan jangka panjang kita adalah meraih surgaNya dengan ridha dan cintaNya. Diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dan dinyatakan shahih bahwa Nabi pernah bersabda “Orang tua adalah pintu pertengahan menuju Surga. Bila engkau mau, silakan engkau pelihara. Bila tidak mau, silakan untuk tidak memperdulikannya.”.

Sebuah hadiah

Sungguh tidak ada yang meragukan janji Allah SWT dan memang menjadi sebuah keharusan bagi hambaNya dalam meyakini setiap janji yang Allah firmankan. Janji yang senantiasa membuat semua hambaNya merasa ingin selalu dekat karena mengharapkan “JannahNya”. Allah tidak akan pernah tidur dan selalu memerhatikan setiap gerak gerik kita. Sikap kita mengasihi sesama atau mendzalimi, bersikap lembut atau berbuat sewenang-wenang, merendahkan hati atau menyombongkan diri, semua itu akan diketahui olehNya karena memang Allah SWT selalu dekat dan menjadi pengawas yang Maha Teliti, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah : 186).

Kecintaan orang tua kepada anaknya tidak perlu ditanyakan lagi tetapi apakah anak bisa mencintai orang tua karena Allah itulah yang menjadi tanda tanya besar sekaligus harapan besar setiap orang tua ketika melahirkan seorang “kader” harapan kebanggaan keluarga. Hadiah istimewa yang layak diberikan kepada orangtua kita adalah sebuah cinta yang tulus nan abadi dengan menunjukkan sikap yang baik dan kaya akan penghormatan kepada mereka. Allah pun sudah memberikan arahannya bagaimana cara bersikap yang baik kepada kedua orang tua,”Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (Q.S. Al Isra : 24)

Cinta berawal dari hati yang senantiasa tumbuh dan berkembang seiring dengan kedewasaan pikiran setiap individu dalam membutuhkan makna cinta sesungguhnya. Sama halnya jika memberikan kecintaan tersebut kepada orangtua. Mahabbah yang tulus diberikan kepada orangtua adalah cerminan seberapa bagusnya kepribadian seseorang untuk hidup di komunitas kecil tersebut. Kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang untuk mencintai orang tuanya karena memang yang memegang kendali adalah hati manusia sebagai penglima dan memiliki kehendak yang berbeda pula tiap orangnya. Sejatinya, seorang panglima mengarahkan semua tentaranya untuk mencintai setiap yang diperintahkan Allah SWT. “Dan Kami berwasiat kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya.” (Q.S. Al-Ankabut : 8). Wasiat yang memang memberikan tawaran yang begitu besar kepada hambaNya yang selalu mengharapkan surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, anggur yang tidak memabukkan, didampingi seorang bidadari setia, dan kenikmatan lainnya yang terlalu indah untuk dibayangkan.

Apakah kita tidak menginginkan kehidupan yang abadi di surga? Apakah kita hanya menjadi pelengkap makhluk di dunia ini? Apakah kita akan membiarkan setiap jerih payah orang tua dalam mendidik dan membesarkan dengan bersikap biasa saja tanpa adanya sikap “memanjakan” keduanya? Mencintai orangtua ibarat sebuah tiket yang tinggal kita putuskan untuk diambil atau diberikan kepada orang lain yang sama-sama mengharapkan surgaNya. Sungguh ini sebuah tawaran yang sangat berarti untuk diambil, ketika ketulusan cinta itu memang diharapkan orangtua sebagai bentuk kesenangan hati tersendiri dan dibutuhkan oleh kita sebagai makhluk yang seharusnya mengabdi kepada Allah dengan salah satunya adalah birul walidain. JanjiNya pun sangat besar, surgaNya yang begitu indah menjadi balasan bagi hambaNya yang selalu mencurahkan cintanya yang tulus untuk sepasang sosok pekerja keras, sosok pemberi spririt, sosok pejuang cinta yang tidak akan luntur, dan sosok yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (Q.S. Al-Baqarah : 25)

Kecintaan kita terhadap orangtualah yang akan membuat kita tersenyum bahagia akan kenikmatan luar biasa yang diberikan Allah. Kenikmatan yang mencakup kenikmatan jasmani dan rohani yang akan didapatkan kelak oleh hambaNya yang selalu memberikan perasaan terbaiknya (cinta) dengan ikhlas berbakti demi membahagiakan orang tuanya didunia. Yang Akhirnya, kebahagiaan orang tua di dunia yang akan mengantarkan kita hidup kekal nan abadi di surgaNya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s