Kesepian hati, jiwa, dan pikiran

Oleh : Ferry Aldina

sunyi_sepi_sendiri_by_RomanticKills

Keyakinan akan sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat untuk kita adalah suatu sikap yang menjadi keharusan bagi kita dalam mencapai suatu tujuan yang sekiranya bisa dianggap besar. Sungguh sangat aneh seorang manusia yang tidak mempunyai cita-cita hidup, mungkin patut dipertanyakan apakah  dia masih ingin membuat hidupnyai berarti bagi dirinya dan oranglain ataukah tidak. Saya sangat tidak ingin mengungkapkan hal ini tapi mungkin bisa menjadi pembanding dan semoga menjadi pelecut untuk terus mengejar atau memiliki cita-cita. Bagi saya, cita-cita hidup itu jika diorientasikan untuk bertahan hidup maka jika ditanya apakah anda siap jika Allah memberikan kesempatan lagi untuk merasakan nikmatNya hidup di esok hari? Orang yang mempunyai keinginan untuk bertahan hidup mungkin akan mulai mencari cara untuk makan, bekerja, dan mulai mengerjakan segala sesuatu yang dapat mendatangkan segala manfaat baginya serta tidak kalah penting yaitu mengerahkan segala yang dia punya untuk mengejar ambisinya. Sebaliknya jikalau kesempatan seperti itu diberikan kepada orang yang tidak bisa menggunakan dengan baik (tidak punya cita-cita), maka mereka akan merasa cukup dengan segala yang sudah Allah berikan dan tidak mau mengejar cita-cita bahkan akan terbuai dalam kenikmatan yang Allah berikan. Merasa cukup dan tidak mau memikirkan orang lain merupakan ciri orang yang tujuan hidupnya patut dipertanyakan.

Kenyataan dalam hidup berbeda dengan teori yang biasa ditulis dalam buku-buku yang membuat pencerahan pikiran. Sungguh tidak dapat disangkal bahwa memang syetan sangat tidak bosan menyerang kita dari segala arah demi mendapatkan pendamping sebanyak-banyaknya di neraka. Pernahkah kita dalam berjuang di jalan Allah ini mengalami kesepian, baik hati , jiwa ataupun pikiran? Mungkin sebagian besar orang akan mengatakan “Ya”. Memang wajar karena cita-cita atau tujuan hidup kita itu sangat panjang dan akan lebih panjang lagi jika terus menerus merasa kesepian. Tujuan hidup yang membuat kebangkitan umat ini akan terasa berat jika tidak didasari kesungguhan yang tinggi dan ikhlas dalam menjalaninya serta terus ingat bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan orang yang hanya mengharap ridha dariNya.

Kita akan membahas mulai dari hati, benda yang kecil tapi mematikan ini memang sangat vital bagi manusia. Kita terus merasakan kesenangan- kesengsaraan, kepuasan-kemalangan, hati yang sensitive lebih mudah dibolak-balikkan. Terkadang kita kuat tapi terkadang kita bisa tertunduk lemah jika hati ini terkena luka yang susah untuk diobati selama kita belum menjadikan Allah sebagai Pelindung. Dari hati merangkak ke jiwa, tadi secara tidak langsung sudah disebutkan bahwa hati memang pusat dari segala perkara kesepian dan berdampak ke jiwa ini. Jiwa yang tidak didasari dengan tekad yang kuat maka dia tidak akan bisa menopang beban berat yang harus dilakukan untuk kebangkitan umat. Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam prinsipnya pernah mengatakan : “Sesungguhnya, pembentukan umat, pembinan bangsa, pencapaian cita-cita, dan pembelaan prinsip, menuntut agar umat yang mengupayakannya, atau kelompok yang menyerukannya, minimal memiliki kekuatan jiwa, yang terekspresikan dalam beberapa hal : Tekad membaja yang tidak pernah melemah, kesetiaan teguh yang tidak disusupi oleh kemunafikan dan pengkhianatan, pengorbanan besar yang tidak terhalangi oleh ketamakan dan kebakhilan, serta pengenalan, keimanan, dan penghargaan kepada prinsip yang dapat menghindarkan dari kesalahan, penyimpangan, sikap tawar-menawar dalam masalah prinsip, serta tidak tertipu dengan prinsip lainnya”.

Hanya dengan kekuatan jiwa yang didasari dari pilar-pilar dasar diatas, kita bisa mengerahkan segala kemampuan kita dalam mengejar cita-cita atau tujuan hidup yang hakiki .Kekuatan jiwa tersebut merupakan sesuatu yang ukurannya minimal bagi kita yang mempunyai pikiran yang sama dalam membangun umat yang bisa merasakan nikmatnya islam, kedamaian akan kedekatan dengan Sang Pencipta, kesejahteraan hati, dan kepuasaan hidup yang tidak bisa diukur oleh materi.

Jiwa yang kuat memang sudah menjadi modal dasar kita tapi ketika pikiran kita tidak sejalan dengan orang lain maka jangan heran jika kita akan menjadi umat yang terpecah-pecah karena sudah banyak kepala yang mempunyai tujuan yang sama tapi dalam mengaplikasikan dalam mendapatkan tujuan itu sangatlah berbeda dengan apa yang kita inginkan. Maka disini kita harus adakan suatu penyatuan pemahaman, pemahaman yang bagaimana yang kita harus samakan ? Sesungguhnya pedoman kita dalam bergerak adalah Al-Quran dan As-Sunnah, jika cara yang kita lakukan menyimpang dari kedua pedoman tersebut maka tidak salah kalau kita harus meninggalkannya. Sesungguhnya memikirkan cara orang lain dalam berbuat kebaikan sungguh sangat menyita waktu jika memang mereka tidak menyimpang dari Al-Quran dan As-Sunnah. Ada hal lain yang dapat menyukseskan perjuangan islam yang diisyaratkan oleh Imam Al-Banna dalam Risalah Ta’lim. Yaitu, bila umat disibukkan oleh kerja-kerja nyata, maka akan semakin minim perdebatannya.

“Suatu kaum tidak akan tersesat setelah mendapat petunjuk, kecuali karena banyak berdebat” (HR At-Tirmidzi)

 “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”.

Kita memang wajar dalam merasakan kesepian hati, jiwa dan pikiran. Tapi tidak wajar jika kita terus mempertahankan “kewajaran” itu. Mulailah bangkit dari diri sendiri dan mulai merencankan untuk kebangkitan umat. Wallahu’alam bis shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s