Bukan Hanya Sekedar Tulisan

Bukan Hanya Sekedar Tulisan

Oleh : Ferry Aldina

Ketua Dept. Pengembangan Masyarakat KAMMI POLBAN

“Kenyataan esok hari adalah mimpi hari ini” said Imam Syahid Hasan Al-Banna

Cukuplah kata-kata itu menjadi pembuka dari tulisan ini dan merangsang untuk membuat tulisan-tulisan lain. “Hidup adalah sebuah cerita maka jadikan hidup ini menjadi cerita yang bisa dikenang” said my lovely mother. Menurut saya, deskripsi dari cerita yang dikenang adalah menjadikan hidup ini menjadi lebih bermakna dan tentunnya dengan menyebarkan virus kebaikan. Sungguh berat untuk menulis artikel ini karena memang sebelumnya tulisan yang biasa dibuat adalah untuk konsumsi pribadi tetapi ini adalah artikel pertama yang akan membuat saya terus dan terus berusaha melakukan perbaikan.

Seperti yang tadi saya katakan bahwa tulisan itu pertamanya untuk konsumsi pribadi, mungkin semua yang menjadi untaian kata dalam sebuah artikel itu menjadikan diri ini terbebas dari dunia luar yang bukan berarti terisolir tetapi menjadikan diri ini penguasa word seutuhnya. Menjadi seorang penulis merupakan hal terbebas yang pernah saya lakukan, diri ini menjadi tidak ada pengganggu dan sungguh hidup ini terasa indah. Penulis bisa mengungkapkan segala perasaan, ide, solusi, atau yang lainnya yang sekiranya bisa dituangkan ke sebuah tulisan-tulisan. Tidak heran kalau misalkan banyak orang senang sekali membuat tulisan karena memang menjadi bentuk ekspresi dari pikirannya, hati, ataupun hanya iseng saja.

Alasan pertama yang ditulis diatas adalah alasan mengapa begitu senang, bebas, dan bahagianya menulis. Sungguh ringan beban ini jika tulisan itu sudah selesai dan siap dipublikasikan. PUBLIKASIKAN? Ternyata alasan diatas semuanya tidak sepenuhnya benar, kenapa? Karena dengan mempublikasikan ke khalayak ramai mungkin orang akan menilai tulisan kita dan boleh jadi kita dapat dampak dari apa yang kita tuliskan. Beberapa tahun lalu, kita sudah pernah dengar berita yang cukup mengehebohkan yaitu ketika seorang ibu yang menuliskan keluhannya tentang pelayanan rumah sakit yang dirasanya tidak layak dan gara-gara tulisannya, dia menjadi tahanan sebagai pertanggungjawaban terhadap apa yang dituliskannya. Mungkin ini berbeda hubungannya dengan apa yang kita bicarakan, Penulis dan hukum. Akan tetapi menyebarluaskan fakta memang harus didasari aturan-aturan tertentu.

Ketika tangan sudah bergerak dengan cepat dan lincah untuk menuliskan sesuatu –apapun itu-maka kata-kata yang akan dimasukkan ke tulisan pun terasa lancar dan semuanya seakan menjadi sebuah respon getaran magnetik yang tidak diketahui apa penyebabnya. Itulah salah satu kenikmatannya menjadi seorang penulis, yang tidak biasa menjadi biasa, yang tidak bisa menjadi bisa, dan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Kenapa demikian? Awalnya kita tidak tahu apa yang harus ditulis-memang yang paling susah dalam menulis adalah mengawali tulisan- tetapi setelah mendapatkan sense untuk melanjutkan tulisan dan mendapatkan suasana yang cocok untuk mengeluarkan ide-ide, tulisan yang akan dibuat akan terasa lancar.

Tantangan dalam menulis

Ketika sudah dijelaskan pada awalnya bahwa latar belakang menulis itu merupakan konsumsi pribadi, maka sebagian orang pasti merasa belum cukup jika belum ada tantangannya. Tantangan yang bisa membuat orang menjadi beban tanggung jawab dimana yang dituliskan itu harus berdasarkan data ataupun jikalau argumentasi pribadi yang memang harus di pertanggungjawabkan. Seorang penulis juga merasakan kenikmatan menulis itu adalah melewati tantangan yang dihadapi, misalkan menulis dengan tema yang ditentukan (kalaulah hanya curhat, anak SD pun bisa) dan membuat semua orang mengerti apa arti dari tulisan kita dan memahamkan dengan pemahaman secara global (dapat dipahami berbagai kalangan). Berat rasanya jika tuntutan tema tersebut jika tidak bisa dituangkan atau dituliskan oleh kita. Mengapa? Karena itu terjawab hanya satu hal yaitu kurangnya persiapan. Persiapan yang tentunya wajib dilakukan oleh seorang penulis (di media massa, blog, note,dll.) adalah baca buku. Tidak ada menyangkal bahwa sumber ilmu terdapat dari buku, memang dunia ini sudah di era globalisasi yang penuh dengan teknologi canggih (seperti internet) tetapi saya sangat yakin bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan lembaran demi lembaran buku bacaan. Ketika kita menulis dengan tema yang ditentukan maka itu salah satu tantangan kepada kita sejauh manakah wawasan kita dan sejauh mana kita sudah bisa memahami arti dari menjadi seorang penulis (karena inti dari menulis adalah aplikasi dari membaca buku) dan sungguh aneh jika penulis sejatinya tidak mengambil tantangan.

Menerima resiko

Kesenangan lain dari menjadi penulis adalah ketika kita sudah finishing tulisan. Ternyata sudah beberapa lama memikirkan kata-kata dan membolak-balik referensi maka sungguh tidak dapat disangka kerjaan kita pun beres. Apalagi jika kita terus melakukan rutinitas menulis maka kita pun akan terus merasakan banyak kesenangan dalam menulis.

Tulisan tidak jauh berbeda dengan pembicaraan, pembicaraan punya resiko untuk dikritisasi begitu juga tulisan. Kita harus menerima resiko bahwa tulisan kita itu belum layak untuk di baca atau cocok untuk dinikmati sendiri saja. Kritik sangat penting untuk penulis, apalagi jika (penulis yang dikritik) tahu bahwa dengan kritik itu dia bisa terus belajar dan menyadari bahwa semua yang ditulisnya atau pengetahuannya masih perlu diperluas karena ilmu itu luas dan seluas apapun kita menuangkannya dalam sebuah tulisan, itu tidak akan menyempitkan ruang ilmu yang sudah luas dan bertambah luas. Wallahu’alam bis shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s