DUA SAHABAT

Alangkah senangnya pagi ini, merahnya matahari menyambutku yang seakan melihatkan pesona kegembiraannya kepada seorang pemuda pembuat jejak-jejak kehidupan dan terus merebut masa depan demi ambisinya. Angin yang terus mendinginkan suasana pikiran ini semakin membuat hati ini damai dan segala masalah yang terus berada di pikiran ini menjadi es yang akan terus mencair. Kuagendakan hari untuk melepaskan penat yang selama ini terus bertubi-tubi menggandrungiku di kehidupan pabrik yang bising, ramai, dan tugas yang berat. Maklumlah pabrik pupuk yang memang sudah jadi cita-citaku ini Alhamdulillah bisa tercapai dan Subhanallah diberi kesempatan menjadi manager adalah suatu tantangan yang harus dihadapi dan dimaksimalkan.

Sabtu ini memang terasa aneh dan tidak seperti biasa, aku pun terus memikirkan apa yang memang tidak harus menjadi bahan pikiran. Kayaknya aku memang harus menenangkan pikiran dulu, ku hamparkan sajadah yang di belakangnya tertulis “Mengenang 100 hari Almarhum Maksum di Bandung, Oktober 2009”. Hatiku terenyuh sesaat mengenang kebaikan-kebaikan beliau, tidak akan pernah kulupa ketika saat mulai kuliah dan beliau terus mengantarku layaknya seorang ayah yang terus menemaniku sampai seminggu kemudiannya aku sendiri pergi ke kampus karena memang beliau sudah rela melepasku. Maklumlah, seorang yang diamanahi kakaknya-Ayahku yang telah meninggal sejak SMA dulu-terus mengkhawatirkan keadaan sepupunya. Sajadah yang selalu setia menjadi tempat sujudku itu mulai luntur dan hari itu akan dicuci dan membuatnya enak dipandang. Lega rasanya pagi yang dilengkapi dengan sholat Dhuha yang menenangkan batin ini. Tiba-tiba sms pun terdengar dan langsung saja kulihat dan sungguh ini sms yang tak kusangka datangnya dari siapa, Ari, nama yang tidak asing lagi dan sudah lama tidak terdengar lagi kabarnya, teman seperjuanganku waktu di lembaga dakwah yang berkecimpung di masyarakat

“Assalamu’alaikum. Gmn kbrnya?? Lg dmana skrg?”

Tak perlu menunggu lama-lama langsung kubalas.

“Wkslm wr wb. Sehat Alhamdulillah akh! Antum gimana? Ana lg di Sumatra. Gimana kbr Bandung?”.

Momen ini memang langka dan mungkin ini keanehan dari pagi yang membuahkan memorial masa dulu teringat kembali. Masih teringat jelas ketika kami berdua terus memikirkan masalah yang dihadapi bersama waktu itu, kondisi kostan kami yang sangat memprihatinkan, maklumlah kostan tahun pertama dan sangat jarang sekali ibu kostan yang datang mengunjungi kami, rumah yang jauh memang jadi alasan beliau untuk jarang ke kosan kami. Geng motor sering kumpul di depan kostan kami dan bahkan sempat suatu ketika tepat didepan mata kami ayunan rantai, tebasan samurai, batu-batu yang berterbangan menambah chaosnya tawuran antar geng motor. Kami berdua terus membicarakan bagaimana solusinya,

“Ana pusing bener apa kita mau paksa mereka sedangkan salahsatu diantara mereka ada anak ibu kost, gimana nih Ri?”

“Ya mungkin kita terpaksa ngomong dulu ke ibu kost, dan mau apalagi mereka sendiri udah buat kita gak nyaman.”  Jawab Ari

Dengan tenang dan pasrah saja aku tanggapi “ Oke lah. Mudah-mudahan ini berhasil”

ALLAHU AKBAR..ALLAHU AKBAR

Lantunan merdu suara adzan menutup perbincangan , hari-hari memang disibukkan dengan obrolan yang sudah makanan pokok kami sampai-sampai waktu tidak terasa bergulir segera berganti bak secepat kilat.

Beberapa hari kemudian, ternyata makin banyak aja geng motor yang ngumpul di kosan kami, kami sudah hilang kesabaran dan segera memanggil ke anak ibu kosan kemudian bicara baik-baik.

“Moga aja setelah kita omongin, mereka bisa sadar dan gak ganggu kita lagi.”

“Iya, ana juga udah bosen harus nutup telinga ini malam-malam,, berisik banget akh kalo malam teh.” Kami terus berharap akan perubahan yang ditunggu esok harinya.

Melakukan perubahan memang tak semudah membalikkan telapak tangan dan tak secepat mengedipkan mata, ternyata mereka masih saja kumpul bahkan tambah banyak. Kita sudah pusing dan bingung dengan semua ini.

“Oke lah kita harus lakukan rencana terakhir! Penggerebekan langsung oleh ibu kost.”

“Iya, langsung ana telepon ibu kost nya.” Seketika itu aku langsung telepon ibu kosan dan sekitar 10 menit kemudian suasana di kostan berubah 180 derajat, kawas gang katincak semuanya tiba-tiba terdiam dan semua langsung bepergian tidak tahu kemana arah perginya.

Alhamdulillah, kami lega dengan semua ini. Tapi, perjuangan kami belum selesai disini. Kami juga memikirkan bagaimana anak-anak Desa ini menjadi anak-anak yang cinta Quran atau menjadi generasi Qurani. Kami pun sepakat dan berkomitmen untuk mengajar anak-anak ba’da magrib sampai Isya. Memang waktu yang tidak lama tapi mudah-mudahan dengan komitmen yang kuat dan didukung keistiqamahan, kami bisa menanamkan nilai cinta Quran kepada anak-anak.

Sebulan, dua bulan, dan setelah sampai bulan ke tiga. Anak-anak mulai merasa bosan dan anak pengajian pun sedikit demi sedikit berguguran,

“Wah, harus ngadain acara nih Ri! Apa ya?” Aku bertanya dengan nada yang lumayan pesimis.

“Tenang akh, beberapa minggu lagi kita bertemu dengan bulan Ramadhan, bulan yang dirindukan oleh semua umat muslim, kita harus tetap bersemangat akh! Tahukan akh, siapa yang menimbulkan penyakit dalam dakwah? Iya, kita sendiri.. kalau kita bisa kuat menjadi sepotong lidi yang bisa menguatkan dan bisa berguna bagi yang lainnya, Subhanallah alangkah nikmatnya dakwah jika kita tetap konsisten dan bisa saling menguatkan.” Penjelasan Ari yang mengingatkan akan urgensi dari dakwah ini.

“Oke lah, kita harus ngadain lomba akh, jangan tanggung-tanggung kita harus ngadain tingkat Desa dan diikuti oleh semua DKM yang ada di desa ini”. Tambah Ari

“Bagus akh, dakwah syabiah kita harus kena ke semua kalangan termasuk anak-anak. Bagusnya pas Ramadhan aja kita ngadainnya. Gimana Ri?”

“Nanti kita syurokan dengan teman-teman, mudah-mudahan mereka setuju.”

Keesokan harinya kami pun melakukan musyawarah dan teman-teman sangat antusias sekali ke agenda ini dan kita sepakat dua minggu setelah awal Ramadhan kita akan melaksanakan agendanya.

Dua minggu yang dijadikan persiapan lomba santri, kami terus memaksimalkan waktu yang sudah semakin terasa cepat. Pagi, siang, dan malam kami memikirkan bagaimana acara ini supaya terkesan dan pesan semangat cinta Quran bisa tersampaikan dengan baik. Undangan mulai tersebar dan pamphlet pun sudah ditempel di semua tempat strategis, harap di maklum kami orang yang serig “berkelana” di Desa ini, tempat yang terpencil pun sudah pernah kami lewati. Mungkin ini salah satu keuntungan menjadi mahasiswa yang kampusnya dekat dengan pedesaan, kami merasa malu jika tidak tahu kepala Desa, ketua RW, bahkan ketua RT jadi dilupakan. Dengan begitu, kami lumayan mengenal beliau-beliau meskipun beliau-beliau tidak sepenuhnya mengenal siapa kami.

Alhamdulillah hari pelaksanaan lomba sudah dimulai, kebetulan juga aku jadi MC dan Subhanallah sekali 300 peserta memadati masjid yang dijadikan lomba. Masjid sudah tidak bisa menampung anak-anak, kami pun mendiskusikannya.

“Gimana nih kalau kita pindahin sebagian ke Balai Desa? Tempatnya juga tidak terlalu jauh dari masjid kok.”

“Iya Gak apa-apa. Siap-siap buat mobilisasi peserta aja.” Kami terus koordinasi selama berlangsungnya acara. Itu membuat kami lumayan lelah dan terus memutar otak.

Acaranya memang di setting satu hari dan memang butuh ekstra ketat penjagaan 300 anak-anak pengajian yang dikumpulkan di acara lomba ini. Sorenya, kami mengumumkan semua juara dan Alhamdulillah semua anak bisa semangat dan bisa menikmati acara lomba ini. Semoga yang dikatakan selama aku jadi MC bisa menjadi semangat para peserta untuk terus mencintai Al-Quran. Amin

Kami terus mengonsistenkan diri ini untuk terus mengajar meskipun acara lomba sudah selesai. Kami pun kerjasama dengan lembaga Desa dan juga DKM Desa dalam melaksanakan agenda-agenda yang sekiranya bisa membantu kepada masyarakat. Keinginan kuat kami adalah membangun karang taruna yang dijadikan tempat para pemuda setempat dalam membuat agenda dalam mengatasi permasalahan masyarakat. Pemuda memang sudah menjadi penggerak dimanapun mereka berada, apalagi di tempat mereka tinggal yang menjadikan hal itu merupakan sesuatu keharusan dalam menuju perubahan yang lebih baik.

Mungkin, rencana ini belum ditakdirkan. Membuat karang taruna memang butuh proses yang tidak sebentar. Kami pun tidak kehabisan ide dan terus menggagas untuk membuat ikatan remaja masjid untuk remaja setempat. Alhamdulillah, itu bisa terealisasikan. Meskipun baru bisa melaksanakan satu agenda yaitu, Peringatan Isra Mi’raj tetapi masih banyak yang mereka ingin lakukan, seperti Riydhah, Peringatan hari besar, dan banyak lagi.

***

“Akh, gimana perkembangan Ikatan Remaja Masjid Al-Hikmah?”

“Oh, teman-teman Al-Hikmah terus eksis di Desa Ciwaruga akh. Alhamdulillah, sekarang anggotanya tidak lagi dua orang tapi sekarang sudah dua puluh orang. Ana sangat senang akh lihat semangat mereka.”

Kami terus berbagi pengalaman di setiap sms yang seakan sudah tidak ada lagi jarak yang memisahkan antara Sumatra dan Jawa. Kenangan semasa jadi mahasiswa memang waktu yang sungguh menjadi kenangan yang terus tergambar di memori pikiran ini. Semoga estafet dakwah yang kami lakukan semasa mahasiswa di masyarakat dulu bisa berlanjut sampai sekarang. Mahasiswa memang harus memiliki akademik yang bagus tapi sungguh ironis seorang mahasiswa hanya bisa menjadi penonton ketika dia harus bergerak tetapi dia malah “penikmat abadi” dari kekacauan yang terjadi didepan mata mahasiswa. Oleh karena itu, mahasiswa harus kerja keras demi mencapai akademik dan leadership yang bagus dengan kuliah yang serius dan berorganisasi yang baik.

 

 

6 thoughts on “DUA SAHABAT

  1. Kunjungan balasan.
    Suatu anugrah dan sekaligus tantangan bila menjadi manager.
    Tingkatan yang tinggi di dunia kerja.

    Semakin tinggi jabatan maka akan semakin besar tanggung jawab dan amanah yang diembannya.

    Trims sob sudah mau berkunjung..

  2. Long time no see.. Alhamdulillah Ferry udah sukses..
    Semoga Allah senantiasa melindungi Ferry dimana pun berada..
    Semoga selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan..
    Semangat terus untuk menulis..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s