Sudah saatnya kita peduli lingkungan..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa anda tahu proyek PLTSa GEDE BAGE (Pembangkit  Listrik Tenaga Sampah)? Apa anda tahu bahaya dari PLTSa? Padahal issue ini sudah beredar dari tahun 2010. Seharusnya kita sudah tahu apa itu PLTSa dan pastinya tahu dampak yang sungguh besar bisa berakibat kepada masyarakat sekitar. Bagi teman-teman yang belum tahu apa itu PLTSa. Mari kita lebih dalam penjelasan tentang PLTSa dan mengapa KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) se-Bandung Raya menolak usulan pemerintah tersebut beberapa bulan lalu.

Asal mulanya dari semakin meningkatnya volume sampah di kota bandung yang menyulitkan pemerintah-pemerintah dalam menemukan solusi cerdas untuk menangani hal tersebut. Program 3R (Reuse, Recycle, Recovery) ternyata belum mampu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah Pemkot Bandung dalam menyelesaikan permasalahan ini. Kemudian munculah issue  PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) yang bisa  mengkonversi sampah menjadi energi listrik. Sebenarnya hal ini sudah di canangkan beberapa  tahun yang lalu oleh pemerintah, namun selalu menemukan permaslahan dalam pelegalan pelaksanannya. Pemerintah menilai PLTSa ini dapat menjadi solusi dari 2 permasalahan yaitu, permasalahan sampah dan krisis energi. Akan tetapi apakah ini merupakan solusi dari permasalahan sampah di kota Bandung?

Sebelum jauh-jauh mengapa PLTSa ditolak, saya akan ajak anda ke proses sistem pembanngkit ini. Mula-mula Sampah yang datang akan dimasukan ke dalam tungku pembakaran, kemudian dibakar pada suhu 850oC-900oC , pembakaran yang menghasilkan panas ini akan memanaskan boiler dan mengubah air didalam boiler menjadi uap. Uap yang tercipta akan disalurkan ke turbin uap sehingga turbin akan berputar. Karena turbin dihubungkan dengan generator maka ketika turbin berputar generator juga akan berputar. Generator yang berputar akan mengahasilkan tenaga listrik yang kan disalurkan ke jaringan listrik milik PLN. Uap yang melewati turbin akan kehilangan panas dan disalurkan ke boiler lagi untuk dipanaskan , demikian seterusnya.Limbah yang dihasilkan adalah  LIMBAH PADAT: Sisa dari pembakaran menghasilkan abu dan debu terbang sebesar 20% dari berat semula, LIMBAH GAS: HCL, H2S, VOC, HAP, uap merkuri, dioksin, CO,LIMBAH CAIR: Teknologi insinerator yang di gunakan akan menghasilkan air yang bau saat pendinginan hasil pembakaran.

Manfaat dari PLTSa adalah Diperkirakan dari 500 – 700 ton sampah atau 2.000 -3.000 m3 sampah per hari akan menghasilkan listrik dengan kekuatan 7 Megawatt. Sampah sebesar itu sama dengan sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti sekarang. Dari pembakaran itu, selain menghasilkan energi listrik, juga memperkecil volume sampah kiriman. Jika telah dibakar dengan temperatur tinggi , sisa pembakaran akan menjadi abu dan arang dan volumenya 5% dari jumlah sampah sebelumnya. Abu sisa pembakaran pun bisa dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan batu bata.

Yang menjadi MASALAH adalah proyek pembangunan PLTSa di Gede Bage tersebut tidak diimbangi dengan kondisi lingkungan Gede Bage, Wilayah Gedebage memiliki permasalah an air. Operasional PLTSa membutuhkan 1,7 juta liter air karena emisi panas hasil pembakaran tidak akan menghilang dengan sendirinya, untuk mendinginkannya dibutuhkan air dengan jumlah yang cukup banyak. Disamping itu proyek pembangunan PLTSa akan memakan banyak biaya  dan Keberhasilan dari proyek ini juga masih diragukan. Kemudian saat pendistribusian sampah ke lokasi PLTSa besar kemungkinan banyak sampah yang tercecer dan sangat mengganggu kesehatan lingkungan. Terakhir yaitu penggunaan teknologi insenerator (alat pembakar sampah) yang dapat menghasilkan gas  yang berbahaya, bahkan tidak memungkinkan kalaulah digunakan teknologi insenerator, masyarakat Gede Bage akan menghirup gas berbahaya tersebut mengingat tata letak Gede Bage yang merupakan daerah cekungan.

Meskipun PLTSa sudah mau direalisasikan, bukan berarti kita hanya diam saja dan tidak melakukan sesuatu untuk lingkungan. Lingkungan itu akan baik jika kita bersikap baik terhadap lingkungan, boleh jadi bencana alam yang sudah melanda bangsa ini karena sikap kita yang masih acuh tak  acuh terhadap kondisi lingkungan. Mulai dari membuang sampah sembarangan, merusak tanaman kecil, bahkan bersikap tidak peduli terhadap lingkungan  sekitarnya.

KAMMI POLBAN baru-baru ini memberikan solusi untuk permasalahan sampah di Ciwaruga, yaitu dengan menerapkan sistem composting. Harga peralatan yang jauh dibawah insenerator ini menjadikan alat ini tidak susah untuk didapatkan (murah jika dibandingkan dengan insenerator), composting ini semoga menjadi penghasilan dari masyarakat sekitar dan bisa meningkatkan pertanian Indonesia karena pupuk kompos yang menjadi hasil dari composting bisa digunakan oleh para petani. KAMMI sudah mempraktekkan alat composting di Ciwaruga dan untuk pelaksanaan lebih lanjut akan dimulai di semester genap dan bagi rekan-rekan yang ingin ikut andil di proyek composting, kami tunggu partisipasinya. Informasi lebih lanjut bisa kunjungi blog : http://www.kammipolban.wordpress.com atau facebook : kammi_ubk@yahoo.com.

Semoga ini menjadi bukti kepada pemerintah  bahwa ada alternatif lain dari pengolahan sampah dengan menggunakan insenerator dan bisa mendapatkan banyak kelebihan dan tentunya mengurangi dampak negative dari bahaya pengelolaan sampah dengan membakar sampah.

Created by : Ferry Aldina

Dept. Pengembangan Masyarakat KAMMI POLBAN

Teknik Kimia 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s