Menyambut Tahun Baru Sebenarnya, Tahun Baru Islam!

Oleh : Ferry Aldina


Melihat sosok Nabi Muhammad SAW, mulai dari akhlak, ibadah, dan segala pengorbanan beliau ketika masih hidup akan membuat kita merasa malu terhadap diri pribadi. Betapa bodohnya diri ini yang selalu melakukan kelalaian dalam beribadah dalam menghamba kepada Sang Khalik, selalu sombong atas segala prestasi dan jabatan yang didapat, dan selalu kufur nikmat ketika diberi banyak kenikmatan oleh Allah SWT. Sungguh ironis, ketika dahulu pun Nabi selalu memikirkan umatnya (kita semua) bahkan ketika menjelang akhir hayatnya pun beliau masih memikirkan kita semua. Lantas apa yang sudah kita lakukan untuk menyebarkan nafas-nafas islam yang selalu menebarkan virus kedamaian dan selalu menghadirkan ketenangan bagi siapa yang masuk ke dalam lingkaran jiwa islam? Atau hanya menjadikan islam ini menjadi identitas pribadi saja dan tidak mau merasakan orang lain agar bisa mendapatkan kenikmatan dalam berislam.
Dalam menjelang tahun baru hijriah, 1 Muharram 1433 H maka selayaknya kita mengevaluasi diri (akhlak dan ibadah) kita terhadap Allah dan sesame makhluk-Nya. Tahun baru islam ini merupakan momentum yang sangat berharga untuk selalu dijadikan pembersih hati kita dan selalu menjadikan pribadi dengan semangat perubahan yang baru sehingga akan menjadi suatu ciri khas tersendiri bagi umat islam dalam mencontohkan perayaan tahun baru. Tahun baru bukan merupakan tahun yang berfoya-foya menghamburkan uang untuk membeli petasan tapi tahun baru merupakan ajang pembaharuan diri, masyarakat dan Negara untuk menjadikan pribadinya bersih (hati dan akhlak) dan lingkungan masyarakat yang bersih juga.
Pemerintahan yang bersih adalah pemerintahan yang selalu melakukan upaya perbaikan di sektor strukut pemerintahannya dan selalu memberikan upaya perbaikan untuk rakyat.
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)
So, ikhwah fillah semuanya. Jadikan momentum dalam menjelang tahun baru Hijriah 1 Muharram 1433 Hijriah itu menjadi momentum untuk melakukan pembersihan hati dan prilaku kita untuk selalu beribadan dan beramal kepada-Nya. Dan semoga dengan amalan-amalan yang akan dilakukan nantinya menjadikan kita selalu mendapatkan kasih sayang dari Allah untuk disebarkan kepada orang lain dalam rangka Habluminannas. “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam : 96)
HAMASAH!!!

KETIKA MIMPI ITU HILANG DARI BENAK KITA

Oleh : Ferry Aldina

Ketua Departemen Pengembangan Masyarkat

KAMMI POLBAN MASA JIHAD 2011-2012

Pernahkah kita bermimpi? Kata mimpi ini bukan berarti dalam makna buah tidur tapi mungkin lebih tepatnya adalah sebuah ambisi terhebat yang kita ingin miliki. Ketika kita sudah mendapatkan titik tolak untuk merencanakan mimpi kita, kita sangat bersemangat dalam mengejar mimpi itu tetapi apakah kita hanya menuliskan satu mimpi saja dan kita bisa fokus untuk mendapatkan mimpi itu. Tentu tidak, hal ini sangat mustahil kecuali memang orang yang tidak mempunyai tujuan hidup dan hanya “numpang” tidur, makan, istirahat, dan banyak lagi hal sia-sia yang memang tidak pantas untuk kita sebagai orang yang mempunyai mimpi-mimpi besar dalam hidup ini.

“Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’ (QS.At-Taubah:105)

Kita diharuskan untuk terus bekerja dan bekerja, selama raga ini masih mampu dan masih bisa melakukan hal yang bermanfaat, apalah gunanya waktu kalaulah tidak kita manfaatkan sebaik mungkin. Mungkin setiap orang pernah memikirkan bahwa mimpi yang sudah kita impikan ternyata dianggap hilang dalam benak kita serta percaya dan yakin akan kemampuan kita bahwa tidak akan bisa menggapainya. Sesungguhnya kita bukan penumpuk masalah tetapi pemecah masalah menjadi senyawa-senyawa elektromagnetik yang dapat menarik mimpi itu menjadi  dekat dengan kita. Solusinya mungkin adalah sesuai dengan perkataan Imam Hasan Al-Banna “ Sesungguhnya setiap umat atau kelompok yang membina dan membangun dirinya serta berjuang untuk merealisasikan cita-cita dan membela prinsip-prinsip agama maka umat itu haruslah memilki kekuatan jiwa yang dahsyat yang terekspresikan dalam beberapa hal, yaitu:

  1. 1.    Tekad membaja yang tidak pernah melemah
  2. 2.    Kesetiaan abadi yang tidak mengenal kemunafikan dan pengkhianatan
  3. 3.    Semangat berkorban yang tidak terkotori oleh ketamakan dan kebakhilan
  4. 4.    Pengetahuan dan keyakinan serta penghormatan tinggi terhadap ideologi yang diperjuangkan

Tak dapat dielakkan lagi oleh kita bahwa seseorang memang harus mengatur dirinya supaya tersugestikan untuk tetap istiqamah terhadap cita-cita yang menjadi jalan hidup baginya yang menjadi saksi nanti cita-cita besar yang semula hanya mimpi tetapi menjadi suatu kenyataan yang mustahil dicapai pada awalnya. ALLAHU AKBAR!

Jika kita berkaca pada sejarah nabi ketika Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya berambisi untuk menegakkan Islam di bumi Mekkah dan Madinah, banyak sekali cobaan dari segala bentuk cobaan-mulai dari cemoohan sampai kontak fisik-yang mengganggu dalam menggapai impian besar beliau. Terus apa yang dilakukan oleh Nabi? Apakah berhenti dan memilih mundur? Tetapi tidak kawan, mereka-Nabi dan para sahabat- tetap berjuang mati-matian demi ambisi besar mereka. Keterbuktian akan kesetiaan dan pengorbanan untuk Islam ini memang dapat dilihat dari berbagai perang dengan kaum musyrikin ataupun pengorbanan lainnya. Mereka tidak merasakan tangan mereka sudah putus ketika ditebas musuh dan terus melawan musuhnya sebelum akhirnya ada yang gugur. Mengapa mereka bisa begitu? Karena pikiran mereka sudah tersugestikan dengan sendirinya karena tekad mereka yang begitu gigih dan melakukan pengorbanan yang tidak kenal lelah.

Subhanallah sudah sepatutnya kita belajar dari para terdahulu kita yang sudah berjuang dalam mewujudkan ambisi-ambisinya. Apakah kita mau meneruskan apa yang sudah diperjuangkan dan membuat inovasi demi perubahan yang lebih baik ataukah kita malah menjadi plagiat semata dan malah menjadi tetap memiliki slope yang sama dengan nol atau tetap saja dan tidak ada yang kita usahakan. Sesungguhnya sesuai dengan Surat Muhammad ayat 7 bahwa barangsiapa yang menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya. Ambisi yang besar, cita-cita yang agung, upaya yang maksimal WAJIB kita lakukan dan tentunya jangan sampai usaha yang kita fokuskan untuk menggapai ambisi itu sampai-sampai melupakan Allah. Ingat! Allah adalah pemberi keputusan bukanlah seorang manusia yang beranggapan bisa menggapainya tanpa ada bantuan dari Sang Khalik. Saya tutup uraian ini dengan hadits Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w.

“Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekal padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas-gegas.” (Riwayat Bukhari)

Wallahu’alam bis shawab

Puisi Ibunda Tercinta

Bunda termulia….
Jiwaku rela berkorban tuk bahagiamu.
Kau tanggung derita demi derita saat mengandungku.
Dua tahun lamanya kau tumbuhkan dagingku dengan air susu kesucian.

Kau kokohkan tulangku dengan air susu ketabahan.
Kau alirkan darahku dengan air susu kegigihan.
Kau hidupkan harapanku dengan keteguhan imanmu.
Kau bangun masa depanku dengan untai doamu.

Allah mengasihi setiap tetes air matamu.
Allah memberkati tiap keringat dari tubuhmu.
Allah merahmati setiap jejak tapak kakimu.
Allah mencatat kebaikan dalam tiap hembus nafasmu.

Ibunda…..
Tak pernah kau pedulikan nasib dirimu.
Kau jadikan tubuhmu benteng yang melindungi anakmu.

Ibunda…
Tlah kau berikan hidupmu padaku.
Kini, mudah bagiku mempersembahkan nyawa untukmu.
Andai seluruh dunia berada dalam genggamanku…
Kan kutumpahkan segala isinya di bawah tapak kakimu.

Ingin kutumpahkan air mataku…
Dan bersimpuh di hadapanmu…
Kurangkai kata maaf atas kekuranganku.
Meski kuhidup berjuta tahun…

Kulalui siang dan malam tuk berbakti padamu.
Semua itu takkan mampu membayar setetes susu yang kau berikan padaku…

Kisah 5 Perkara Aneh

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.

Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghadap ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya.”

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, “Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.” Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur ‘Alhamdulillah’.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi itu, “Aku telah melaksanakan perintahmu.” Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku.” Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung elang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, yaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pahanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya. Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghirup bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, “Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini.”

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahwa, “Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu. Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah.”

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah menggunjing orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka menggunjing orang lain. Haruslah kita ingat bahawa menggunjing seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, “Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu.”

Maka berfirman Allah S.W.T., “Ini adalah pahala orang yang menggunjing tentang dirimu.” Dengan ini haruslah kita sedar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan menggunjingkan orang walaupun ia benar.

sumber : didapat dari laptop temen

BIOGRAFI PANGLIMA DAN PASUKAN TERBAIK

Sultan Muhammad Al-Fatih

Panglima Terbaik dan Pasukan Terbaik yang menaklukkan Istanbul (Konstantinopel)

Istanbul atau yang dulu dikenal sebagai Konstantinopel, adalah salah satu bandar termasyhur dunia. Bandar ini tercatat dalam tinta emas sejarah Islam khususnya pada masa Kesultanan Usmaniyah, ketika meluaskan wilayah sekaligus melebarkan pengaruh Islam di banyak negara.

Bandar ini didirikan tahun 330M oleh Maharaja Bizantium yakni Costantine I. Kedudukannya yang strategis, membuatnya punya tempat istimewa ketika umat Islam memulai pertumbuhan di masa Kekaisaran Bizantium. Rasulullah SAW juga telah beberapa kali memberikan kabar gembira tentang penguasaan kota ini ke tangan umat Islam seperti dinyatakan oleh Rasulullah pada perang Khandak.

Para khalifah dan pemimpin Islam pun selalu berusaha menaklukkan Kostantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H di zaman Muawiyah bin Abi Sufian RA. Akan tetapi, usaha itu gagal. Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayah.

Di zaman pemerintahan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk di zaman Khalifah Harun al-Rasyid tahun 190H. Setelah kejatuhan Baghdad tahun 656H, usaha menawan Kostantinopel diteruskan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia) terutama Kerajaan Seljuk. Pemimpinnya, Alp Arslan (455-465 H/1063-1072 M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos, tahun 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk.

Awal kurun ke-8 hijrah, Daulah Usmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi nafas baru kepada usaha umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat di zaman Sultan Yildrim Beyazid saat dia mengepung bandar itu tahun 796 H/1393 M. Peluang yang ada telah digunakan oleh Sultan Beyazid untuk memaksa Kaisar Bizantium menyerahkan Konstantinople secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi, usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Leng.

Selepas Daulah Usmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju dan terarah, semangat jihad hidup kembali dengan nafas baru. Hasrat dan kesungguhan itu telah mendorong Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M) untuk meneruskan usaha menaklukkan Kostantinopel. Beberapa usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi dalam masa yang sama terjadi pengkhianatan di pihak umat Islam. Kaisar Bizantium menabur benih fitnah dan mengucar-kacirkan barisan tentara Islam. Usaha Sultan Murad II tidak berhasil sampai pada zaman anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih, sultan ke-7 Daulah Usmaniyah.

Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan Kostantinopel. Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, dia telah mulai berpikir dan menyusun strategi untuk menawan kota bandar tadi.

Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya. Sejak kecil, dia dididik secara intensif oleh para ulama terulung di zamannya. Di zaman ayahnya, yaitu Sultan Murad II, Asy-Syeikh Muhammad bin Ismail Al-Kurani telah menjadi murabbi Amir Muhammad (Al-Fatih). Sultan Murad II telah menghantar beberapa orang ulama untuk mengajar anaknya sebelum itu, tetapi tidak diterima oleh Amir Muhammad. Lalu, dia menghantar Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan kuasa kepadanya untuk memukul Amir Muhammad jika membantah perintah gurunya.

Waktu bertemu Amir Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh Sultan, Amir Muhammad tertawa. Dia lalu dipukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani. Peristiwa ini amat berkesan pada diri Amir Muhammad lantas setelah itu dia terus menghafal Alquran dalam waktu yang singkat. Di samping itu, Asy-Syeikh Ak Samsettin (Syamsuddin) merupakan murabbi Sultan Muhammad Al-Fatih yang hakiki. Dia mengajar Amir Muhammad ilmu-ilmu agama seperti Alquran, hadis, fikih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya.

Syeikh Semsettin lantas meyakinkan Amir Muhammad bahwa dia adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadis pembukaan Kostantinopel. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad segera menemui Syeikh Semsettin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel. Peperangan itu memakan waktu selama 54 hari. Persiapan pun dilakukan. Sultan berhasil menghimpun sebanyak 250 ribu tentara. Para mujahid lantas diberikan latihan intensif dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah SAW terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan Islam.

Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Di hadapan tentaranya, Sultan Al-Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah SWT. Dia juga membacakan ayat-ayat Alquran mengenainya serta hadis Nabi SAW tentang pembukaan kota Konstantinopel. Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah SWT.

Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Bizantium di sana. Takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” terus membahana di angkasa Konstantinopel. Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah SWT. Mereka memperbanyak shalat, doa, dan zikir.

Hingga tepat jam 1 pagi hari Selasa 20 Jamadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453, serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Tentera Usmaniyah akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Usmaniyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fatih, akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita mereka. ( yus/berbagai sumber )

SEMANGAT JIWAKU TIDAK AKAN GENTAR MELAWAN GORESAN TAKDIR-MU

Oleh : Ferry Aldina

 “Hajar saja! Pasti menang, Ka!”

“Jangan ganggu, ini lagi konsentrasi.” Teman-temanku selalu saja menggangu setiap kali aku dapat giliran main, tidak tahu apa sebabnya yang pasti mereka tidak mau kalah apalagi main denganku, Sang Jagoan kelereng.

Kami selalu bermain di lapangan kecil di halaman rumahku. Kami lewati hari-hari dengan penuh kegembiraan, tidak peduli terik matahari yang terus menyoroti membuat kami seakan seperti pemain teater yang sedang pentas di panggung. Sebenarnya, kami pun lebih dari sekedar pentas di “lapangan kelereng” tapi inilah yang disebut kompetisi, kompetisi yang selalu menunjukkan siapa pemenang dan yang paling “jago” meskipun akhirnya kelereng-kelerengnya dikumpulkan lagi ke Herdi, si pemilik kelereng. Jadi, kalo Herdi di panggil orangtuanya, kompetisi pun berakhir. Memang merusak suasana tapi apa daya, orang tua harus dihormati kalaulah kita tidak mau tergolong anak durhaka.

Terlihat dari kejauhan seorang kakek bersandar di kursi depan halaman rumahnya, badannya yang kelihatan masih bugar dengan dadanya yang masih tegap serta perawakannya yang tinggi. Fisik yang terlihat masih sehat itu tidak menunjukkan keadaan yang biasa dialami kakek-kakek pada umumnya. Matanya pun tajam melihat sekeliling, termasuk menuju ke arah kami. Rasanya hati ini ingin menggerakan badan yang masih lelah-selepas bermain-untuk berkenalan dengan kakek itu, namun mata yang selalu tajam seperti mata elang yang akan menerkam mangsanya mengurungkan niat untuk berkenalan dengannya.

Tiba-tiba kakek itu tersenyum. Ini aneh, sangat aneh untuk pertama kalinya kami diberikan senyuman dari kakek itu. Teman-temanku menjadi heran dan saling bertanya satu sama lain.

“Apa ada yang lucu?” bisik salah seorang temanku

“Aku juga tidak tahu, tiba-tiba kakek elang itu tersenyum” balas temanku yang selalu memanggil kakek yang memiliki tatapan tajam itu dengan “kakek elang”

“berarti kita harus kesana!” aku menawarkan kepada teman-teman untuk mencoba berkenalan

“Gila aja kamu, Ka. Mau cari mati?” tolakan dari seorang teman yang wataknya sangat tempramen dan benar-benar takut kepada kakek itu.

Meskipun banyak penolakan dari teman-teman, tekad yang sudah bulat ini tetap membuat ingin terus maju untuk memberanikan diri berkenalan dengan kakek elang itu. Kulangkahkan kakiku, ku simpan jauh-jauh rasa takut dalam hati, mencoba memberikan raut muka yang gembira kepada si kakek. Setelah tiba didepan halaman rumahnya, kakek itu tetap saja tersenyum dan semakin membuat penasaran.

“kek, boleh saya masuk?”

mangga, silahkan masuk saja.” Dengan ramahnya kakek itu langsung memperbolehkan aku masuk ke halaman rumahnya dan tiba-tiba aku semakin yakin bahwa kakek ini wajahnya saja yang menakutkan tapi akhlaknya baik.

Kami tenggelam dalam obrolan-obrolan yang tidak karuan tapi membuat hati ini tenang, tidak tahu kenapa kami seakan seperti kakek dan cucunya yang rindu tidak lama bertemu. Aku langsung teringat tujuanku untuk bertemu kakek elang ini.

“Kek, kalau boleh tahu kenapa tadi kakek tersenyum tidak seperti biasanya?”

“kakek ingat sesuatu, Nak.”

“andai saja kakek bisa mengalami masa kecil seperti kalian.”

“lho kenapa senyum, berarti kakek tidak mengalami masa bahagia seperti kami”

“Justru itu, kakek jadi ikut senang andaikan kakek tidak melihat kalian mungkin saja kakek hanya dibayangi dengan masa-masa silam dulu. Kalian itu ibarat obat penenang kakek.” “semakin aneh saja, aku semakin bingung, Kek!”

Kakek itu pun menjelaskan dengan panjang lebar, bagaimana ketika zaman dulu yang masih serba kekurangan dan sangat memprihatinkan. Inilah yang membuat kakek terus bekerja keras untuk mencari makan dan ditambah lagi perjuangan yang sangat berat ketika harus melawan para penjajah-penjajah yang menindas kakek dan para pejuang lainnya.

***

Seketika itu , aku teringatkan tugas-tugas sekolah yang belum dikerjakan dan menghilangkan lamunan-lamunan nostalgiaku bersama kakek elang, sang pejuang. Ingin rasanya bertemu kembali dengannya tapi umurku yang sudah menginjak usia 16 tahun tidak bisa berbicara ketika Sang Khalik sudah menetapkan batas umur si kakek elang. Sungguh ingin rasanya mendengar kembali wejangan-wejangan si kakek, apalagi ketika kita harus bersyukur dengan keadaan sekarang yang sudah bebas dan tidak ada yang melakukan penindasan secara terang-terangan kepada negara ini.

“Ka, sudah belajar?” Tanya Umi Read more…

Membaca Realitas dari Ambiguitas

Diikutsertakan dalam PERLOMBAAN ESSAI NASIONAL & SAYEMBARA ESSAI RUTIN
Kemerdekaan adalah sebuah kebebasan. Pemahaman terhadap makna kemerdekaan perlu ditinjau kembali karena kadang orang merasa bahwa kemerdekaan adalah sebuah kebebasan semata tanpa didasari rasa memiliki. Kebebasan di zaman modern ini sudah membutakan mata dan menggelapkan realita yang ada dengan hanya menginginkan memuaskan keinginannya tanpa didasari rasa kemanusiaan.
Jika kita melihat sejarah bangsa Indonesia, pers adalah faktor sentral yang harus disorot kemajuan dan kemundurannya. Pers sangat identik dengan media massa (media cetak ataupun media elektronik). Pers semestinya bersyukur dengan kebebasan yang sudah diraihnya. Pengekangan yang dilakukan pada zaman orde baru membuat informasi yang seharusnya disebarluaskan sebagai wacana publik ternyata hanya menjadi sebuah berita basi dan terus basi karena tidak mendapat bumbu kesempatan menyebarkan berita oleh pemerintah. Semua itu berawal pada tahun 1982 ketika Departemen Penerangan mengeluarkan Peraturan Menteri Penerangan No. 1 Tahun 1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Dengan adanya SIUPP, sebuah penerbitan pers yang izin penerbitannya dicabut oleh Departemenn Penerangan akan langsung ditutup oleh pemerintah. Oleh karena itu, pers sangat mudah ditutup dan dibekukan kegiatannya. Pers yang mengkritik pembangunan dianggap sebagai pers yang berani melawan pemerintah dan dapat ditutup dengan cara dicabut SIUPP-nya.
Sesungguhnya media massa mempunyai tugas dan kewajiban – selain menjadi sarana dan prasarana komunikasi – untuk mengakomodasi segala jenis isi dunia dan peristiwa-peristiwa di dunia ini melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud (berita, artikel, laporan penelitian, dan lain sebagainya) – dari yang kurang menarik sampai yang sangat menarik, dari yang tidak menyenangkan sampai yang sangat menyenangkan – tanpa ada batasan kurun waktu. Kondisi sekarang ini membuat media dan realita menjadi layaknya seorang kakak adik, saling membantu dan saling berkaitan. Peranan yang diambil oleh media adalah peran yang dapat mempengaruhi masyarakat dunia dan masyarakat Indonesia khususnya, begitu pun sebaliknya masyarakat harus mempengaruhi perkembangan media sehingga menjadikan media yang informatif dan aspiratif. Oleh karenanya, dalam komunikasi melalui media massa, media massa dan manusia mempunyai hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan karena masing-masing saling mempunyai kepentingan dan masing-masing saling memerlukan. Media massa membutuhkan berita dan informasi untuk publikasinya baik untuk kepentingan media itu sendiri maupun untuk kepentingan orang atau institusi lainnya; di lain pihak, manusia membutuhkan adanya pemberitaan, publikasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Sebuah Fenomena
Masyarakat ternyata masih sangat tergantung oleh media massa, baik media cetak ataupun media elektronik. Masyarakat membutuhkan suatu berita aktual yang bisa menjadi penambah wawasan supaya tidak tertinggal oleh berita. Masalahnya, ketika semua masyarakat terlalu bergantung terhadap media, hal itu menjadikan masyarakat terkesan “ikut-ikutan” terhadap wacana publik yang sedang beredar. Media massa selalu memberikan suatu informasi yang informatif dan problematif. Akan tetapi, itu menjadi bumerang bagi masyarakat sendiri karena ketika satu masalah belum terselesaikan bahkan tidak ada solusi dari seluruh aspek (mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah) dan diganti dengan masalah baru yang lebih hangat maka informasi yang disampaikan sebelumnya oleh media hanya sebagai berita saja yang tidak menghasilkan solusi. Permasalahan yang ada di Indonesia ini bukan untuk dibicarakan atau diberitakan tetapi permasalah tersebut butuh penyelesaian dari semua pihak. Jikalau masyarakat tidak cerdas dan hanya menjadi “budak media” maka akan sulit terwujud tujuan bangsa Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Cerdas dalam arti solutif, cerdas dalam arti kritis, dan cerdas dalam arti memiliki tekad kuat dalam membangun bangsa.

Antara Informatif dan Provokatif
Sungguh sulit sekali menentukan pergerakan media massa di Indonesia, apakah media massa sebagai wadah informasi yang berguna bagi masyarakat atau hanya menjadi alat provokasi dari sebuah berita. Di Indonesia, media massa yang bersifat informative dan provokatif masih ada dan terus berkembang. Kita masih sulit membedakan karakteristik dari media massa-informatif atau provokatifkah?-yang beredar di Indonesia. Kejanggalan seperti itu dapat dilihat dari berita yang dibawakannya, media massa terkadang memberikan informasi yang bagus tetapi sering juga media massa memberikan umpan provokasi terhadap pemerintah baik dari segi berita korupsi, kampanye, dan berita-berita lainnya yang sekiranya bisa menarik simpati masyarakat untuk terus memperhatikan salah satu media massa.
Pada awalnya, media massa terbentuk dari keprihatinan terhadap bangsa Indonesia di masa penjajahan dan media massa memiliki peranan penting sebagai alat pemersatu pemuda dalam memperjuangkan hak-hak bangsa Indonesia. Berbeda dengan zaman sekarang, penulis melihat ada dua sisi yang menyebabkan media massa menjadi ambigu untuk dilihat peranannya. Keambiguan tersebut timbul dari faktor kewajiban yang harus dilakukan media massa sebagai sarana informasi kepada khalayak ramai dan faktor keharusan dalam bersaing dengan media massa lainnya yang melakukan pemberitaan secara berlebihan (provokasi) sehingga dapat memberikan income yang meningkat. Dua faktor inilah yang menjadikan keambiguan dalam membaca realitas kehidupan bangsa. Dua hal ini tidak dapat dipungkiri dari setiap media massa, keinginan untuk memberikan informasi membuat setiap media massa melakukan segala cara dalam etika pemberitaannya sehingga tujuan supaya informasi tersampaikan bisa terwujud. Salah satu cara yang masih digunakan oleh media massa adalah memprovokasi masyarakat dengan tulisan atau elektronik (televisi). Di era sekarang ini, penulis melihat media cetak lebih mengarah ke provokasi informasi yang aktual dan untuk media elektronik masih menjadi sumber informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat tetapi tidak sedikit ada “bumbu pedas” yang dilontarkan untuk membuat panasnya suasana berita terkini.
Media cetak lebih mudah untuk memprovokasi masyarakat terhadap isu-isu yang berkembang. Kata-kata memang menjadi senjata ampuh yang bisa menarik minat masyarakat untuk membaca suatu berita, kalau tidak ada kata-kata yang memprovokasi ataupun headline yang persuasif mungkin beritanya tidak akan laku. Jika dibandingkan media cetak, media elektronik lebih ke arah memberikan informasi dibanding dengan provokasi. Hal ini disebabkan oleh kehati-hatian suatu instansi media massa dalam memberikan suatu informasi yang berada di bawah naungan pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Bukan berarti media cetak seenaknya memberikan informasi yang provokatif tetapi media elektronik lebih mudah untuk diawasi dibandingkan dengan media cetak. Faktor penting yang harus diperhatikan sebagai dampak negatif dari adanya pemberitaan melalui elektronik adalah masyarakat seakan mengikuti apa yang sedang berkembang melalui arahan media tetapi tidak diarahkan kepada pemberian solusi yang mendalam terhadap suatu berita yang berkembang. Oleh karena itu, media massa memiliki peranan penting dalam mengubah paradigma berpikir masyarakat dari yang mulanya menerima masalah menjadi menjadi pemberi solusi terhadap permasalahan yang berkembang.

Sedikit Pencerahan
Paradigma berpikir yang masih terpusat pada media massa seharusnya dijadikan kesempatan oleh media massa untuk memberikan kontribusi yang maksimal dalam hal pencerdasan kehidupan bangsa. Media massa bisa memberikan informasi yang edukatif berupa tulisan atau tayangan televisi yang bisa membantu dalam mewujudkan kecerdasan bangsa. Dengan pemberitaan yang berbobot-di sektor pendidikan, ekonomi, dan hukum-maka diharapkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang terus berwawasan dan tidak akan tertinggal dalam masalah informasi. Hal ini tidak mustahil terwujud karena mengingat media massa masih menjadi sumber informasi masyarakat Indonesia sehingga bisa mengalihkan perhatian dari yang semulanya hanya sekedar informasi menjadi informasi yang membangun karakter di sektor ekonomi, pendidikan, dan hukum.
Masyarakat dan media massa adalah penikmat dan pentransfer informasi dari realitas yang berkembang. Jangan sampai realitas yang ada dimasuki dengan sikap ambiguitas media massa yang seakan memberikan berita untuk dikonsumsi dan tidak memberikan peluang untuk beraspirasi atau bahkan memberikan solusi dari masyarakat untuk permasalahan bangsa Indonesia.
Rekomendasi Penulis
Perkembangan media massa yang sudah tidak bisa dibatasi dan sudah bebas untuk mengeluarkan pendapat membuat sebagian media massa menjadikan kesempatan itu menjadi sebuah sarana pencarian income yang meningkat. Penulis menyarankan perlu adanya pengawasan dari pemerintah untuk menjaga kondisi masyarakat agar tidak terbawa arus media massa yang memberitakan informasi yang memang tujuannya hanya memprovokasi informasi saja bukan mentransformasikan informasi terkini. Pemerintah berhak untuk menindaklanjuti kepada media massa yang menambah masalah-akibat dari pemberitaan informasi-dan bukan menjadi penjawab permasalahan yang ada. Oleh karena itu, pemberitaan oleh media massa mengenai kondisi kekinian memang harus dijadikan sarana untuk penyalur aspirasi dari masyarakat untuk pemerintah dan bukan untuk memprovokasi informasi dan mengadudombakan antara pemerintah dan masyarakat.
Penulis juga melihat dari sisi mahasiswa bahwa mahasiswa juga memiliki peranan penting dalam memberikan kontribusinya terhadap berita yang diinformasikan oleh media massa. Penulis melihat mahasiswa melakukan suatu upaya preventif dari keambiguan informasi oleh media massa dalam membaca realitas yang ada. Mahasiswa seharusnya selalu melakukan koordinasi yang baik dalam hal menyikapi permasalahan realita yang ada. Mahasiswa dengan sigap menanggapi isu yang berkembang saat ini dengan melakukan advokasi kepada media massa (jika media massa memberitakan yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan) dan pemerintah dalam upaya purifikasi dan rasionalisasi berita yang disampaikan sebagian media massa yang berusaha memberitakan informasi yang tidak valid dan memang memiliki unsur provokatif. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut memiliki wawasan luas mengenai Indonesia, jiwa sosial yang tinggi, dan solutif dalam menghadapi setiap permasalahan yang berkembang di masyarakat. Karakteristik mahasiswa seperti itulah yang bisa menjadikan bangsa ini maju dan menjadikan masyarakat memiliki paradigma berpikir yang baik dan solutif.

Jangan-Jangan Kita Tidak Bertemu Dengan Bulan Ramadhan

By : Ferry Aldina

Segala puji hanya milik Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah segala macam kebajikan. Shalawat serta salam mudah-mudahan tercurah kepada orang yang diutus Allah, dengan membawa petunjuk dan agama yang haq sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan sebagai hujah atas semua manusia, yaitu imam kita, Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Sungguh tidak terasa kita sudah memasuki bulan Sya’ban dan sebentar lagi kita akan masuk ke bulan yang penuh hikmah, bulan yang semua umat muslim menunggu kehadirannya, yaitu bulan Ramdhan. Para sahabat terdahulu sangat-sangat merindukan bulan ini, tidak ada bulan yang didalamnya dilipatgandakan segala bentuk pahala kecuali di bulan Ramdhan. Allah SWT mewajibkan puasa di bulan ini bukan tanpa sebab, bukan hanya sekedar perintah saja melainkan banyak sekali hikmah didalamnya.

“Hai orang-orang ang beriman, telah diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa” Q.S. Al-Baqarah : 183

Hikmah di bulan Ramadhan diantaranya :

  1. Tazkiyah an-nafs (Pembersihan Jiwa).

Mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya di bulan Ramdhan merupakan suatu bentuk pelatihan diri dari menjaga hawa nafsu demi menyempurnakan ibadah di bulan Ramdhan dan berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan.

  1. Meningkatkan aspek kejiwaan.

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan : ketika berbuka ia berbahagia dengan berbukanya itu, ketika bertemu dengan Tuhannya, ia berbahagia dengan puasanya itu” HR. Bukhari dan Muslim

  1. Pembiasaan kesabaran

Sudah menjadi pengalaman kita beberapa tahun kemarin bahwa bulan Ramdhan merupakan bulan yang menuntut kita untuk sabar dalam menghadapi segala macam cobaan di bulan Ramadhan. Dan buah dari kesabaran itu adalah :

“Puasa bulan kesabaran dan tiga hari dalam setiap bulan dapat melenyapkan kedengkian dalam dada” HR. Bazzar dari Ali dan Ibnu Abbas, dan Thabrani dan Baghawy dari Namr bin Tulab

  1. Puasa dapat menurunkan nafsu ke lawan jenis.

Islam tidak melarang untuk suka kepada lawan jenis, islam tidak melarang hati untuk mengungkapkan rasa kasih sayang kepada seseorang. Akan tetapi yang harus diperhatikan adalah interaksi antar lawan jenis, ini merupakan fenomena yang sering terjadi dan memang tidak harus terjadi. Kenapa? Pasti sudah jelas kalau ketika berkhalwat (berdua-duaan antar lawan jenis) akan ditemani syetan sebagai teman ketiganya. Ya, memang setan itu licik dan selalu memanfaatkan segala bentuk kesempatan sekecil apapun untuk menjerumuskan kita ke hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, obat yang paling mujarab untuk menurunkan gelora syahwat kepada lawan jenis yang belum halal yaitu :

“Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu maka nikahlah. Sesungguhnya ia lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sedangkan barangsiapa tidak mampu maka berpuasalah, karena sesungguhnya puasa itu ‘pengebirian’ baginya” HR Bukhari

  1. Bulan yang penuh ampunan, bulan yang penuh hikmah, dan bulan yang ditutupnya pintu neraka.

Dosa-dosa kita sudah tidak bisa terhitung akan tetapi nikmat-Nya terus saja mengalirkan bagaikan air yang tidak berhenti memberikan kehidupan untuk semua makhluk. Sungguh diri yang banyak dosa ini tidak pantas untuk membalas segala kenikmatan yang diberikan dengan berbuat kemaksiatan. Ramadhan adalah momentum kita untuk terus berbuat kebaikan, bertobat dari segala kemaksiatan yang telah dilakukan, dan yang paling penting adalah memperbanyak amalan-amalan baik untuk terus berusaha dalam memperbaiki diri menjadi pribadi yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setelah kita tahu hikmah puasa, yang menjadi pertanyaan besar adalah APAKAH KITA YAKIN AKAN BERTEMU DENGAN BULAN YANG PENUH HIKMAH TERSEBUT? APAKAH KITA YAKIN AKAN MENDAPATKAN HIKMAH-HIKMAH PUASA SEDANGKAN UMUR KITA TIDAK TAHU SAMPAI KAPAN?

Boleh jadi umur kita hanya sampai dibulan Sya’ban (bulan sebelum ramdhan) atau mungkin umur kita sampai minggu ini atau bahkan umur kita cukup hanya untuk hari ini saja. Wallahu’alam, Allah yang mengatur umur kita dan kita pun tidak tahu kapan kita meninggalkan dunia ini.

Sungguh menjadi sebuah peringatan bagi kita bahwa jangan sampai kita menunggu bulan Ramdhan untuk melakukan kebaikan tanpa memikirkan umur kita apakah bisa bertemu dengannya atau tidak? Justru dengan menunggu bulan Ramdhan lah kita harus meningkatkan amalan-amalan kita di bulan sebelumnya sebagai bentuk :

  1. Meningkatkan amalan kita dalam memperbanyak pahala
  2. Menjadikan renungan bahwa boleh jadi kita tidak sampai ke bulan yang penuh hikmah
  3. Sebagai persiapan diri untuk menghadapi bulan Ramdhan jika kita diberikan kesempatan oleh Allah SWT

Sebagai penutup, semoga kita semua diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu dengan bulan yang penuh hikmah, bulan yang penuh pahala..

Anggaplah hari ini adalah hari terakhir kita untuk hidup di dunia ini dengan banyak melakukan kebaikan karena lamanya hidup kita tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT. Wallahu’alam bis shawab.

Karena Saya Mencintai Islam

Oleh  Ferry Aldina

Ketua departemen pengembangan masyarakat kammi polban 2010-2011

Seketika diantara kita pernah berpikir bahwa kenapa kita ditakdirkan menjadi seorang muslim dan kita dilahirkan oleh rahim seorang ibu yang beragama islam. Sungguh, ketika kita menyadari bahwa islam itu memberikan banyak kenikmatan terhadap diri kita maka selayaknyalah kita harus banyak bersyukur dan selalu merenungkan bagaimana jika kenikmatan tersebut hilang. Akan tetapi justru yang menjadi masalah disini adalah bagaimana kita bisa menyadari bahwa islam itu memang memberikan kenikmatan kepada kita, baik kenikmatan ruhiyah, jasadiyah, ataupun yang lainnya. Banyak orang yang berstatus muslim tetapi akhlak dan tingkah lakunya tidak mencirikan bahwa itu muslim. Banyak orang yang berstatus muslim tetapi kemaksiatan selalu dilakukan. Bangsa Indonesia harus menyadari akan potensi kebangkitan islam di negeri ini, mengapa demikian? Karena Negara yang memiliki mayoritas muslim memiliki peluang yang besar untuk menjadikan rakyatnya memiliki akhlak yang baik serta aplikasi nilai-nilai islam dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sekali-kali menganggap islam itu agama yang keras! Agama yang parsial! Sesungguhnya tidak ikhwahfillah, islam adalah agama yang menyeluruh, islam mengatur semua aspek kehidupan mulai dari bangun tidur sampai tidur pun semuanya terdapat dalam aturan islam. Imam syahid Hasan Al-Banna dalam Ushul ‘Isyrin (20 Prinsip Hasan AL-Banna) menyebutkan “Islam adalah agama yang menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih saying dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.

Islam adalah agama yang tidak membebankan manusia dalam segi apapun justru dengan kita menjadikan islam sebagai pegangan hidup kita maka Insyaallah kita akan merasakan kenikmatan hidup. Islam menjamin kesejahteraan, keamanan, dan kepedulian tinggi terhadap sesama.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maa’idah : 3)

Ketika kita sudah tahu bahwa islam memberikan banyak kenikmatan kepada kita, lalu apa yang harus kita lakukan terhadap agama yang selalu menaungi diri kita baik di kondisi senang atapun sedih. Yang pertama yang dilakukan adalah mencintai Allah sebagai sumber pemberi kenikmatan dan telah menyempurnakan agama islam sehingga kita bisa merasakan sungguh kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan apapun tersebut. Bentuk cinta kita kepada Allah diantaranya dapat diwujudkan dengan melakukan kewajiban yang sudah Allah berikan dan tidak sekali-kali mendekatkan diri dengan hal-hal yang berbau kemaksiatan. Dengan kita mencintai Allah, maka sungguh kita tidak akan rugi bahkan ketika Allah mencintai kita, Subhanallah kita akan merasakan bahwa kenikmatan itu tidak henti-hentinya Allah berikan.

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai seseorang hamba, lalu memanggil Jibril kemudian berfirman: “Sesungguhnya Saya mencintai si Fulan, maka cintailah ia.” Jibril lalu mencintainya. Seterusnya Jibril memanggil pada seluruh penghuni langit lalu berkata: “Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu semua si Fulan itu.” Orang itupun lalu dicintai oleh para penghuni langit. Selanjutnya diletakkanlah penerimaan – kecintaan itu baginya dalam hati para penghuni bumi. Dan jikalau Allah membenci seseorang hamba, maka dipanggillah Jibril lalu berfirman: “Sesungguhnya Saya membenci si Fulan itu, maka bencilah engkau padanya.”Jibril lalu membencinya,kemudian ia memanggil semua penghuni langit sambil berkata: “Sesungguhnya Allah membenci si Fulan, maka bencilah engkau semua padanya.” Selanjutnya diletakkanlah rasa kebencian itu dalam hati para penghuni bumi.”

Komitmen dalam berdakwah juga merupakan menjadi suatu bentuk kecintaan kita kepada Allah. Dakwah adalah cinta, ketika kita mencintai islam maka kita secara langsung akan tergerak hatinya untuk melakukan segala bentuk kebaikan dimanapun berada sehingga orang yang berada di sekitar kita menjadi tahu bahwa islam adalah agama yang memang sempurna. Dakwah bukan hanya sekedar teori tapi dakwah adalah praktek, sungguh teori memang tidak selalu berbanding lurus dengan praktek maksudnya teori mengharuskan kita untuk tetap istiqamah dalam berdakwah meskipun banyak sekali cobaan, gangguan, dan rintangan yang selalu membuat kita lupa akan komitmen kita sebagai muslim sejati yang membuat kita ragu untuk terus bergerak, teapi dalam prakteknya keistiqamahan tidak bisa dibuat dengan spontanitas tetapi harus diyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa kita hidup untuk islam, islam yang mencakup aspek kehidupan yang membuat kita selalu menanamkan nilai islam baik di dunia kuliah, kerja, rumah tangga ataupun yang lainnya dan meyakini bahwa praktek di lapangan merupakan suatu bentuk ibadah (itu tidak bisa dipungkiri ketika kita niat hanya untuk Allah dalam menjalankan segala aktivitas). Sugesti dan pemahaman memang sinkron dalam masalah ini, sugesti dibutuhkan ketika kita khilaf untuk menjadikan dakwah sebagai bentuk cinta kita terhadap islam dan Al-Khaliq. Padahal Allah sudah memberikan Al-Quran untuk dijadikan pedoman hidup kita, disana banyak sekali makna cinta kita terhadap islam dan mengharuskan kita untuk terus memperjuangkan islam.

“Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS At-Taubah : 41)

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad : 7)

Semoga sedikit ulasan diatas menjadikan kita umat yang terus menjalankan risalah dakwah Nabi Muhammad SAW dan semoga kita termasuk orang-orang yang dicintai Allah SWT. Afwan jiddan banyak kekurangan dalam penulisan. Wallahu’alam bis shawab.

Gerobak Tua

Oleh : Ferry Aldina

Seperti biasa waktu tepat menunjukkan pukul tujuh pagi dan tidak seperti biasanya teman-teman kuliah sudah menungguku dan mengosongkan bangku depan untukku. Mungkin memberikan kesempatan untuk selalu menjadi terdepan atau mungkin juga karena mata kuliah yang sudah bisa dibilang angker dan mereka tidak mau jadi korban “keganasannya”, ya dosennya memang killer dan mata kuliahnya “mengerikan”. Langsung aku geser kursi ke belakang meja lalu aku duduk menatap ke depan seakan-akan dosen sudah mengajar mata kuliah yang memang sulit dan butuh kemandirian belajar dari mahasiswanya. Tak mau makan waktu lama, buku yang sudah dipersiapkan sudah ku letakkan diatas meja dan bolpoin baru pun segera ku ambil di saku. Bolpoin yang hampir setiap ku keluarkan itu masih selalu utuh alias semuanya baru karena memang sifat cerobohku atau mungkin terpinjamkan secara “grilya” oleh teman kuliah. Dengan bolpoin yang baru bisa membuat setiap tulisan menjadi semangat baru dan terus tidak akan padam layaknya sasuke dengan jurus amaterasu untuk membunuh killer bee.

“Ngapain ira senyum dewek? Makin hari makin aneh aja.” Sindir Apri, temanku asal Indramayu yang selalu membudayakan bahasa indramayunya sekalipun lingkungan kuliah selalu memakai bahasa sunda.

“opo ira? Gulat karo kula?” kata-kata yang sengaja kulontarkan padahal tidak tahu artinya, ajaran Guru Apri memang selalu kugunakan soalnya katanya aneh tapi enak diucapinnya. Kalimat yang membuat apri bimbang antara marah dan ketawa, dan pada akhirnya malah menasehatiku untuk menggunakan kalimat itu pada tempatnya, tempat orang suka adu jotos dan mancing nafsu marah calon lawan.

Memang sih pertanyaan dari Apri benar juga, kenapa aku jadi keseringan senyum sendiri dan anehnya itu malah membuat pikiran ini nyaman dibanding mikirin tugas dan pekerjaan lain yang sudah mendekati deadline. Dalam kesenyuman itu saya selalu berpikir betapa nikmatnya karunia Allah yang sudah memberikan kesempatan kepada hambaNya untuk mendapatkan pembelajaran yang lebih tinggi. Disinilah, di perguruan tinggi saya seakan bisa merasakan puncaknya dari gunung ilmu ketika sudah melewati lembah SD, SMP, dan bahkan sudah bangkit dari jurang SMA. Ketika duduk di bangku kuliah pun, aku masih teringat ketika lembah SD yang penuh suka cita tanpa duka kulalui dengan sebaskom jagung. Tidak tahu kenapa, kebiasaan berdagang timbul dari ikut-ikutan melihat teman berjualan jagung dan seakan menjadi hobi kami bersama. Menurutku, hobi ini sangat berguna sekali. Aku tidak perlu lagi minta uang jajan toh aku masih punya lebih dari keuntungan dagang jagung. Apalagi kalau ada buku pelajaran yang harus dibeli pun aku tinggal minta tambahan dari ibu dan Alhamdulillah sedikit membantu keuangan keluarga.

“Jagong, Jagong, Jagong!” kata-kata yang sering ku ucapkan ketika ku jajakan dagangan. Dagangan yang selalu laris diserbu ibu-ibu yang setiap ku teriakan dan langsung memanggil dengan nama daganganku-sapaan yang tak kuharapkan-tapi yang kuinginkan mereka menyebutkan minimal dengan sapaan Jang atau Nak. Mungkin salah satu membuat pembeli jadi raja adalah membiarkan mereka memanggil nama kita dengan nama dagangan kita ketika dagang keliling. Dulu itu tidak ada gengsi untuk berdagang, dari mulai SD pun sudah dididik menjadi pekerja keras-disamping suatu keharusan- sehingga ketika dirasa sudah memiliki uang yang lebih, bisa digunakan untuk kebutuhan ilmu (buku, SPP, uang jajan sekolah). Tapi, gak tahu kalau sekarang itu mungkin anak SD gak mau pegang namanya jagung atau dagangan sejenisnya tetapi mereka malah bersemangat ketika diberi play station atau handphone atau apalah yang bisa membuat mereka senang dan sedikit melupakan arti dari kerja keras dan merasakan susahnya mencari uang. Meskipun upah jagung hanya empat ribu untuk empat puluh jagung yang dibawa tetapi alangkah bersyukurnya ketika empat ribu yang selalu dikumpulkan bisa sebanding dengan uang empat ratus ribu untuk bayar uang bangunan pas waktu masuk SMP.

***

“kita akan berbicara pengolahan air di suatu industri dan perlu diingat oleh kalian bahwa pengolahan limbah industri tidak akan dibahas dalam mata kuliah ini karena sebagai mahasiswa Teknik Kimia iu kalian harus mengerti terlebih dahulu sistem pengolahan air karena sistem pengolahan air yang baik akan menentukan pemrosesan bahan baku menjadi suatu produk yang bernilai guna…”

Arahan dosen yang penuh semangat mengajari mata kuliah Pengolahan Air Industri memang sungguh dirasakan oleh anak desa sepertiku yang dulunya tidak bermasalah dengan masalah air karena air di desaku tinggal ambil di sumur dan langsung dipakai buat cuci, minum, dan konsumsi lainnya. Di kuliah ini, mataku menjadi terbuka lebar-lebar yang mulanya berawal dari suatu kesempitan berpikir menjadi sebuah gambaran luas tentang dunia industri, masih tak bisa dibayangkan aku bisa belajar bersama orang-orang hebat, orang-orang yang mempunyai mimpi-mimpi ke depannya tapi aku masih merasa terlalu senang dengan keadaanku yang sudah merasa puas untuk bisa sampai kuliah. Padahal, di kuliah lah aku harus memulai merencanakan hidup sebenarnya dan lebh berbakti kepada orangtua dan masyarakat.

“kita sekelompok bae lah buat artikel Pengolahan Air Industri Gula, gimana?” ajakan Apri yang membuyarkan lamunanku dalam mengingat keistimewaan nikmat Allah yang diberikan kepadaku. Sungguh hamba ini kurang bersyukur atas nikmat yang Engkau berikan.

“oke lah Pri, tapi kapan kita mulai kerja kelompoknya?”

“Nanti malam aja”

“Seriusan Pri!, baru aja dikasih tugas setengah jam tadi!”

“Time is money and time is like a sword. You’ll be killed if you just stay calm and do nothing for the time.”

“Wess, hebat bahasa inggrisnya Pri!”

“Bukan hebat tahu! Tapi kudu ngerti opo sing ngomong tadi”

“Oke-oke Pri, siap lah. Nanti malam aku ke kosan kamu.”

“Kayaknya udah jam istirahat”

Langsung aku pergi dengan membawa perut yang lapar ke bapak yang jualan makanan kecil di depan gerbang SMP Negeri 1 Singaparna. Dagangan yang selalu didambakan setiap anak dan memang rasanya tidak ada bandingannya. Tapi jajan makanan yang enak itu memang susah apalagi jajanan favorit anak SMP. Baru aja bel bunyi, anak-anak langsung antri depan gerobak tua yang sudah tidak bisa ditebak warnanya apa tapi mungkin bisa dikatakan seperti lukisan abstrak yang coba ditempatkan di gerobak, hampir dua puluh orang berjajar di depan gerobak dan mungkin setiap ada yang sudah beli bukan menjadi berkurang tapi malah nambah yang ngantrinya. Allah memang pengatur rezeki dan mudah-mudahan selalu memberikan kemudahan untuk mencari rezeki kepada bapak itu. Alhamdulillah mungkin nasibku memang mujur, ketika orang lain berebut ke gerobak tua demi mendapatkan satu porsi jajanan tapi aku tidak usah repot-repot berlari-larian ditengah keramaian, berdesak-desakan dengan orang lain karena gerobak tua yang selalu jadi sasaran jajanan utama siswa SMP itu selalu disimpan dengan baik di rumahku. Ya, memang itu jualan ayahku. Setiap malam aku yang selalu membantu membuat jajanan yang selalu diperebutkan anak sekolahan dan kalau untuk memakannya, aku memang sudah terlalu sering jadi kalau misalkan lapar, langsung buat sendiri aja porsinya yang lebih besar.

Sudah tidak diragukan lagi semangat dan pengorbanan mereka untuk anaknya. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah putus asa, dan selalu berusaha memberikan kebahagiaan yang sebanyak-banyaknya untuk anak tercinta tanpa memikirkan fisik yang sudah lelah dan melewati batas kemampuan fisik seorang tentara sekalipun.

“Kok udah ada dosen lagi?” gumamku dalam hati. Memang bayangan waktu SMP masih teringat dan selalu menimbulkan keheranan ketika kuliah itu jam istirahatnya selalu “ditabrak”, dosen memang memegang kekuasaan. Toh, kitalah yang membutuhkan ilmu jadi kita harus patuh aja ke dosen yang mau ngajarnya kapan dan dimanapun dosen mau.

Semenjak kuliah, aku sudah tidak bisa merasakan apa namanya itu jam istirahat, jam jajan, atau jam-jam yang suka terus dinantikan kedatangannya. Ingatan SMP mulai sudah harus dilupakan dan sekarang tinggal fokus untuk mendapatkan nilai yang bagus dan kerja di tempat yang hebat. Itulah tujuan awalku mengapa memilih Politeknik menjadi pilihan kuliah disamping karena cepat beres (hanya tiga tahun) dan cepat kerja. Tujuan  awalku tidak akan pernah berubah tapi akan ditambahi bumbu-bumbu pelengkap untuk membuat kelezatan dari tujuanku menjadi lebih enak dan sedap.

“Simpan semua buku yang ada diatas meja ke dalam tas kalian dan siapkan selembar kertas, bolpoin dan kalkulator. Kita Kuis sekarang!” Dengan santainya memberikan instruksi yang membuat semua mahasiswa kalang kabut dan tidak bisa berpikir apa-apa lagi kecuali menuruti perintah sang dosen. Jadi, tidak heran kalau mahasiswa dituntut mandiri, disiplin, dan kerja keras. Inilah salah satu ujian terberat mahasiswa sejenius apapun kalau diberikan kuis dadakan tanpa belajar dan diibaratkan menjadi pertarungan insting seorang penembak jitu dalam menyelesaikan kuis dadakan. The only way to get a good score.

Beginilah jadi mahasiswa berkurikulum extra padat, saking padatnya tugas dan laporan juga ditambah waktu kuliah yang sangat padat. Jangankan mempersiapkan kuis atau ujian, tugas laporan beres pun rasanya lega seakan tidak ada beban dan seringkali rehat sejenak dari tugas dan jarang sekali untuk belajar.

Memang sudah menjadi takdir hidupku di Politeknik, sistem perkuliahan yang selalu padat dan akan selalu padat sebelum mahasiswa tersebut lulus dari Politeknik. Kalaulah dulu tidak memilih Politeknik, mungkin aku bisa mendapatkan waktu luang yang lebih banyak. Aku bisa meluangkan waktu untuk menyalurkan hobi menulis dan bermain futsal. Sungguh sangat sulit untuk menyalurkan kedua hobiku itu, memang sebuah kenikmatan terbesar bagiku ketika bisa menghasilkan karya tulis di saat sistem perkuliahan yang selalu menghambat pembuatan karya tulisku.

***

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, aku pun melakukan rutinitas sholat Dhuha seperti biasa dan mengakhirinya dengan memohon kemudahan rezeki. Belum sempat selesai sholat Dhuha, nada sms yang berdering selama dua kali pun mengganggu konsentrasi ibadahku. Rasa penasaran pun timbul ketika selesai berdo’a. aku pun langsung melihat handphone dan terlihat bacaan dua pesan diterima.

Pesan pertama dari Ikhsan, teman SMA ku

“Selamat Fer, kamu diterima di Politeknik Negeri Bandung Jurusan Teknik Kimia” pesan sangat menggembirakan dan membuatku sedikit lega karena kekhawatiran untuk diterima atau tidaknya di perguruan tinggi terjawab sudah”. Aku pun langsung membaca pesan yang kedua,

“kamu harus traktir kita dong! Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia udah nerima kamu, tinggal registrasi doang! Pokoknya kita gak rela kalo gak ditraktir.hehe” Pesan kedua yang malah membuatku bingung untuk memilih perguruan tinggi mana yang menjadi tempatku mencari pencerahan, perubahan, dan pembentukan jati diri.

Pikiranku bertambah pusing mengingat surat dari Institut Teknologi Telkom sudah tergeletak tak tersentuh lagi di meja belajarku. Memang sudah dipastikan Jurusan Teknik Industri IT Telkom sudah tidak akan diambil, tapi menjadi suatu kewajiban mensyukuri apa yang sudah diberikan Allah tapi apa daya takdir Allah telah menunjukkan jalan kepadaku. Allah memang sungguh maha baik dan maha adil, Allah selalu tahu yang terbaik bagi hambaNya. Politeknik Negeri Bandung menjadi tempat berlabuh dan tempat perjuangan hidupku menjadi seorang mahasiswa.

Akhirnya kuis dadakan pun selesai. Instinglah yang berbicara bukan hanya ingatan kuliah dari dosen. Berbagai keluhan sudah mulai keluar dari mulut semua mahasiswa di kelasku, ada yang yakin bisa, ada yang terus ngeluh, dan juga ada yang pasrah saja karena semuanya di isi dengan instingnya tanpa sedikit pun ingat mata kuliahnya. Sungguh lucu dan memang moment yang tidak akan dilupakan.

***

Sebagai anak laki-laki pertama di keluarga, menjadi sebuah beban tersendiri untuk menjadi pribadi yang mandiri dan terus kerja keras. Seharusnya tidak ada kata menyerah dan tidak ada kata mundur dalam kamus hidup seorang anak laki-laki, karena memang semua yang dilakukan adalah pure untuk dirinya dan orang lain. Jikalau dia sudah takut akan tantangan hidup, apalagi dengan ancaman mati yang selalu datang tiap saat mungkin sudah “mati sebelum waktunya”. Kita harus merubah mainset berpikir seorang laki-laki. Semua yang namanya laki-laki itu beruntung, bebas, dan memiliki asa yang tinggi. Tantangan hiduplah yang membuat laki-laki itu terus hidup dalam merajut benang keberanian, kearifan, dan kesuksesan. Tak ada yang tidak bisa dilakukan kaum laki-laki, lahan yang biasa dilakukan wanita pun bisa lebih dibuat sempurna oleh laki-laki. Sudah banyak beredar koki-koki handal di seluruh dunia ini dan semuanya itu mayoritas laki-laki.

Didikan menjadi pekerja keras membuatku beruntung ketika dihadapkan pada suatu keadaan yang harus membuatku survive dan tidak layak untuk menyerah. Ketika keuangan menipis, ketika banyak memikirkan keluarga, dan ketika memikirkan kuliah. Itu semua menjadi tantangan tersendiri untuk membuatku bebas bergerak dalam menyelesaikan masalah, tidak ada batasan selagi sesuai norma dan tidak ada halangan selagi kita ada tekad.

***

Selepas kuis dadakan itu rasanya ingin merehatkan sejenak pikiran ini dengan membaca buku. Kuambil buku di tas, ku cari halaman terakhir yang kubaca dan mulailah aku meneruskan membaca buku-buku islam, buku-buku yang sangat jarang dibaca sebelumnya dan seharusnya terus tidak dilupakan untuk dibaca sebagai penambah ilmu disamping ilmu perkuliahan.

Semua orang bisa leluasa untuk melakukan hobinya, menggiatkan aktivitas, dan meraih mimpi tanpa ada batasan. Itu semua ada pada diri seorang laki-laki, jiwa yang tidak akan tidak dibatasi dalam bergerak dalam konteks seorang pemimpin perubahan. Mimpi yang tinggi yang ditopang dengan ide besar bisa dicapai dengan kepemimpinan yang adil dan tangguh. Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya selama masih ada makhluk yang bernama laki-laki di muka bumi ini.

 Menjadi pemimpin adalah jabatan yang belum pernah dirasakan dan tidak pernah terbayangkan. Sungguh kompetensi diri ini dibangun ketika di luar perkuliahan. Organisasi menjadi suatu wadah kreativitas dan peningkatan kualitas seseorang, apalagi laki-laki yang berorganisasi dan apalagi ketika seorang laki-laki bisa menadi pemimpin organisasi. Aku masih belum sadar kalau anak laki-laki yang berawal dari gerobak tua ayahnya bisa menjadi seorang pemimpin, ketua Departemen Pengembangan Masyarakat KAMMI Politeknik Negeri Bandung. Sedikitpun tidak mau meremehkan jabatan yang sudah diberikan.

Gerobak tua memberikan pelajaran besar ketika kau bisa mengendalikan kendaraanmu-meskipun sudah tidak layak-maka terasa hasil yang bisa dirasakan. Kerja keras dan semangat juang adalah kunci keberhasilan dari pemimpin, pemimpin yang bisa membimbing dan terus memberikan contoh yang baik serta bebas bergerak dalam menginisiasi setiap agenda. Sosok pemimpin tersebut memang pantas untuk seorang laki-laki.

Gerobak tua menjadi saksi bisu dalam sejarah pembangunan diri dan perekonstruksi sejarah anak desa menjadi pemimpin yang memiliki amanah untuk mengembangkan masyarakat dalam organisasinya yang kemudian tidak akan lupa akan sejarah dan terus berusaha menjadi orang yang bermanfaat dimanapun berada.

Matahari pun sudah mulai di atas kepala, tidak nampak ciri-ciri akan turun hujan seperti biasanya. Angin pun tiba-tiba menjadi sepoi-sepoi padahal  kemarin bisa membuat daun kelapa berterbangan. Musim hujan di bulan April ini memang tidak bisa diprediksi, mungkin nanti malam ataukah pagi akan turun hujan lebat. Cuaca yang membuat suasana kampus semakin ramai dan ditambah kabar gembira dari sang ketua kelas,

“Dosennya ngasih tugas. Jadi kalian hari ini dibebaskan asal tugasnya selesai besok”

Bagaikan manisnya teh ditambah lagi segelas susu, kondisi yang membuat semua mahasiswa seperti kami menjadi senang dan bisa menyelesaikan tugas-tugas yang sudah mulai dekat tanggal deadline.

“ Ayo Pri, ngerjain dimana tugasnya?”

“Kita ke perpus dulu aja gimana?”

“Oke.”

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.