“My Power is My Mother”

Oleh : Ferry Aldina

Do you know why I am still alive? Coz Allah SWT always give me a chance to live in this world. but do you know why I have many ambition in this life? Coz there is my mother who gives me a great spirit. what kind of spirit she “transfer” to me? Maybe it can’t imagine but it could felt to all people who has mother. For this time, I will tell you the power of my life that makes somebody always enthusiastic in everything.

I wanna tell you about motivation. Yeah, it’s very important for our life. Motivation shows your movement and your achievement. Believe it or not! but  somebody who wants to be the best in each situation or to move forward, could have motivation of life. before we through out this written, we have to know what is the different between motivation and inspiration. Motivation refers to what you think can guide you to place in suit condition (istiqamah) for getting the best goal you want. but inspiration is something contagious from your idol or whatever that make you imitate him/her.

According to me, my mother is my power. the power that contains motivation and inspiration. First, although I separated with long distance, I always feel her present in each activity. Because I have principal that I wanna be the best whatever the hurdle, I will face it to get the great future. Motivation is necessary but also it must be controlled. You will be ambitious person if you can’t control the motivation. The goal you want, must have a good planning and strategy. That is combine of  motivation and strategy, it’s a big power.

I just wanna say, do you agree with me about the power of life is mother? maybe some people say disagree with me but I’m sure more fifty percent of the reader is agree with me. Why? I think we have given everything from our mother and she never asks for how we can reply her goodness. So, one thing that we have to do is doing better in my life to make proud of my mother. It’s why I’m sure that all the best thing activity is from mother.

Faedah or the benefit we birul walidain to our mother is :

Abu ‘Amr ash-Shaybani said, “The owner of this house (and he pointed at the house of ‘Abdullah ibn Mas’ud) said, “I asked the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, which action Allah loves best. He replied, ‘Prayer at its proper time.’ ‘Then what?’ I asked. He said, ‘Then kindness to parents.” I asked, ‘Then what?’ He replied, ‘Then jihad in the Way of Allah.’” He added, “He told me about these things. If I had asked him to tell me more, he would have told me more.”

‘Abdullah ibn ‘Umar said, “The pleasure of the Lord lies in the pleasure of the parent. The anger of the Lord lies in the anger of the parent.”

Not only the benefit but it our obligation to respect to our parent,

The Words of Allah Almighty: “We have instructed man to honour his parents.” (29:8)

For finishing my written, I will press to the people who read my written. You won’t reply the goodness of your mother but you can make she happy with your attitude and your successful in this life. The last, I just wanna say, I LOVE YOU MOM…

 

Allah is the best judge

Alhamdulillahirabbil’alamin, ahlan wa sahlan ya akhi/ukhti? in this chance, I want to share about my next article and I hope you can get some learn from this written. If we talk about human so we imagine human is man or woman in directly. But, there is something unique in a human. what is it? it’s not about the strength or weakness but it’s about personality. Each human is the leader, it’s right? I think all of the reader realized it but I want to emphasize about the leader.

Many people should believe that there is a potency to be a leader. Many people also should learn from :

“And [mention, O Muhammad], when your Lord said to the angels, “Indeed, I will make upon the earth a successive authority.” They said, “Will You place upon it one who causes corruption therein and sheds blood, while we declare Your praise and sanctify You?” Allah said, “Indeed, I know that which you do not know.” (QS Al Baqarah : 30)

we have a trust from our God, Allah SWT but how come we prove it? according to me, we have to learn in organization, environment, and school for improving our capacity. then, we will find many problem and we should solve it. Ya, that is a leader, when having a problem,  he/she hard work to find the solution. simply, a leader is someone who can solve the problem in personality and environment.

Don’t forget, a leader have to appreciate the other person who always support him. there is a “Syuro System”. I can’t say it meeting but I enjoy to say “syuro”. some time, the result of syuro is make us disappointed and sad (maybe). but we have to believe that the best decision is from Allah and Allah is the best judge.

“…But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows… ” (QS Al Baqarah : 216)

And I think if our desire is the best decision so we just can pray it can be the result f syuro and it is very easy if Allah change the situation and change the result. I hope it can be true…

This is Who I am…

Oke. I just want you to know about my self. I want to improve my English language cause I have to do it for applying the job (hehe). My full name is Ferry Aldina but you can call me Ferry, Fey, or whatever you want. Just for remember, I don’t wanna hear someone who call me “Aldina” because it sounds same with girl’s name.I was born in Tasikmalya, February 24th 1991. I ever live in Palembang and Bengkulu for a while but I move to my home town in Tasikmalaya before I studied in Junior School.

I went to study in Senior High School 2 Tasikmalayaa. It’s so far from my house but it’s my challenge to pass it. Now, I study at Chemical Engineering Department, State Polytechnic of Bandung. Maybe, that is not my dream university but I have to thank God because there something amazing why I placed in this place.

By the way, Talk about my dream. Actually, I wanna be a lecture. I’m really confuse to choose my ambition cause I don’t wanna have a real dream, except the lecture. Ambition was changed after I got a “doctrine” from this College. I want to change my ambition. First, I wanna get high salary cause I wanna give some money to repair my home and then I wanna go abroad for study. Maybe that is my dream. I hope It can be true. Amiin.

Mahasiswa, Agent Of Change or Agent Of Charge??


Oleh : Ferry Aldina

Mahasiswa Politeknik Negeri Bandung

Sungguh sangat berat ketika menjadi seorang mahasiswa yang mendapat amanah untuk menjadi agen perubahan. Sungguh sangat celaka ketika amanah yang sudah dipegang tersebut hanya sebagai status paten yang berujung menjadi “status palsu”. Dibalik semua amanah yang disandang oleh mahasiswa, hal yang harus dilakukan oleh seorang mahasiwa adalah bersyukur telah mendapatkan kesempatan langka yang hanya didapat oleh sebagian penduduk Indonesia. Ada yang sudah yakin bahwa seseorang akan mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi karena faktor ekonomi tetapi ada juga yang tidak menyangka bisa mendapatkan kesempatan untuk kuliah.

Akan tetapi yang harus digarisbawahi bahwa tidak semua orang bersyukur ketika sudah menyandang status mahasiswa padahal boleh jadi yang kita dapatkan sekarang-meskipun kita anggap biasa saja- menjadi sangat berarti di mata orang yang memiliki tekad kuat untuk kuliah tetapi terpaksa menghilangkan impiannya dibenaknya ketika kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Kita yang ditakdirkan di zaman sekarang ini sudah tidak bisa merubah kehidupan zaman dahulu, merubah sejarah akan dirasa mustahil tetapi menciptakan sejarah merupakan sesuatu yang pasti.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”. QS Ar-Ra’d:11

Zaman sekarang yang sudah penuh dengan bencana, mulai dari bencana alam sampai bencana akhlak pun terjadi di negari ini. Tidak ada yang menginginkan bencana alam dan apalagi ketika bencana akhlak sudah melanda negeri ini. Bencana akhlak harus diatasi oleh semua pihak tidak terkecuali mahasiswa! Ya, sungguh ironis ketika semua derita negeri ini hanya diratapi sebagai sebuah takdir saja dan tidak ada kemauan dari kita untuk merubahnya. Sungguh, negeri ini tidak butuh retorika tetapi butuh aksi nyata dari salah satu pihak penyokong perubahan bangsa.

Sebuah Fenomena

Ketika kita dihadapkan kepada suatu realita sekarang, media massa sudah menimbulkan banyak ketidakjelasan ketika arah bangsa ini tidak tahu mau dibawa kemana. Realitas yang menjadi ambiguitas inilah yang diperkirakan sudah menjadi wadah income para segelintir orang yang bergelut di dunia informasi. Wallahu’alam tapi nyatanya media massa masih condong sebagai lembaga provokatif dibanding sarana informatif.

Sesuatu yang memang menggelikan adalah ketika pejabat di pemerintahan sudah mencontohkan betapa banyak kasus yang sudah diperbuatnya. Memang tidak semua orang yang melakukan pekerjaan kotor itu tapi yang jelas adalah mereka mengatasnamakan kaum orang tua yang sepantasnya memberikan contoh yang baik kepada kaum muda. Jangan heran ketika generasi dibawah mereka menjadi rusak dan tidak terarah karena memang cerminan para remaja itu adalah cermin yang retak dan susah untuk diperbaiki (kaum tua). Tidak bisa dipungkiri mulai dari orang tua lah yang menjadi otak pembunuhan karakter bagi para remaja.

Berbicara masalah remaja, tidak hanya masalah dampak dari bercermin kepada “kaca yang retak” tetapi faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi ketidakstabilan moral remaja akhir-akhir ini. Lingkungan yang tidak baik akan membuat seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu yang tidak baik juga. Begitupun sebaliknya, seseorang akan selalu terjaga dan terhindar dari perbuatan maksiat ketika lingkungan yang baik pun sudah terkondisikan.

Berdasarkan beberapa data, di antaranya dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan sebanyak 32 persen remaja usia 14 hingga 18 tahun di kota-kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, dan Bandung) pernah berhubungan seks. Hasil survei lain juga menyatakan, satu dari empat remaja Indonesia melakukan hubungan seksual pranikah dan membuktikan 62,7 persen remaja kehilangan perawan saat masih duduk di bangku SMP, dan bahkan 21,2 persen di antaranya berbuat ekstrim, yakni pernah melakukan aborsi. Aborsi dilakukan sebagai jalan keluar dari akibat dari perilaku seks bebas.

Memang begitulah wajah remaja zaman sekarang, tidak ada sikap yang pantas selain berantas dan kikis habis! Tapi bagaimana caranya. Ketika orang tua dan remaja sudah terindikasi masalah yang rumit maka satu-satunya cara untuk meminimalisir permasalahan moral yaitu dengan memproteksi kalangan anak. Kalangan anak memiliki peran sangat sentral terhadap kelanjutan untuk memperbaiki bangsa ini. Sungguh sangat membingungkan ketika kita hanya membuat suatu “teori proteksi dini” tanpa adanya realiasasi. Oleh karena itu, penulis akan sedikit membahas bagaimana cara memproteksi sejak dini (bukan untuk anak saja) agar terhindar dari permasalah akhlak menurut pandangan penulis.

Sebuah Titel yang Ambigu

Paradigma kebanyakan orang tentang proteksi dini adalah hanya kewajiban orangtua saja yang harus mendidik anak-anaknya dengan baik dan selalu memperhatikan sikap anak-anaknya. Sungguh paradigma yang terlalu sempit untuk diejawantahkan. Sejatinya, setiap orang yang berada di muka bumi ini berkewajiban memiliki dan memberikan proteksi sejak dini dari kerusakan moral. Setiap orang juga harus tahu proteksi yang seperti apa yang harus di lakukan oleh setiap orang yang akan memajukan bangsa ini, tidak terkecuali mahasiswa yang harus memiliki peran andil sebagai garda terdepan untuk masalah seperti ini.

Mahasiswa bukan merupakan orang-orang yang hanya disibukkan dengan kewajibannya kuliah, bukan hanya disibukkan mencari kerja, dan juga bukan mencari pasangan hidup dari sejak dini! Mahasiswa yang sering mengisi kapasitas diri dan tidak meluangkan waktunya untuk berusaha merubah masa depannya, itulah mahasiswa yang mempunyai titel agent of charge. Mereka ibarat sebuah handphone yang terus dicharge tanpa memfungsikan handphone tersebut untuk kebermanfaatan  untuk orang lain. Umar bin Khatab pun pernah berkata bahwa kejernihan individu itu tidak baik sedangkan bersama-sama dalam melakukan perubahan adalah sesuatu yanh harus dilakukan.

Agent of change! Agent of change! Agent of change! Sebuah titel yang sudah melekat di dalam dada seorang mahasiswa-mau mahasiswa aktif ataupun pasif-yang seharusnya terealisasikan oleh semua mahasiswa. Jika perubahan yang dimaksud dikaitkan dengan proteksi dini dari kerusakan maka yang harus diingat adalah proteksi yang paling ampuh adalah proteksi dengan fondasi yang kuat, yaitu nilai-nilai agama. Tidak ada fondasi yang lebih kuat selain agama. Penanaman nilai agama mulai dari sejak dini merupakan cara terbaik dalam mempersiapkan pribadi yang terhindar dari pergaulan dan lingkungan yang “menyesatkan”.

Mahasiswa memiliki keistimewaan tersendiri dalam menjalankan perannya untuk memproteksi generasi muda saat ini. keistimewaan mahasiswa yaitu terletak dari segi kebebasannya dalam bergerak atau beramal dan masih dianggap kalangan berpendidikan dan bersih dari pandangan kriminal. Penanaman nilai-nilai agama kepada saudara, lingkungan sekitar (anak dan remaja) merupakan tugas besar dari seorang mahasiswa yang sudah menyandang titel agen perubahan. Sebuah titel yang seharusnya tidak membuat ambigu pendengarnya karena perubahan ke arah yang tidak baik pun bisa disebut agen perubahan. Padahal masyarakat mengharapkan perubahan-perubahan dari berbagai aspek kehidupan demi kesejahteraan yang mereka damba-dambakan. Itu tidak  lain harapan yang disematkan oleh “agen perbaikan” yakni MAHASISWA.

Rekomendasi Penulis

Penulis tidak mau panjang lebar dan tidak mau terlalu berteori untuk masalah yang serius ini. Penulis hanya berharap semua yang diungkapkan bisa direalisasikan oleh seluruh mahasiswa di Indonesia. Penulis hanya akan memberikan saran-saran sederhana yang harus dilakukan seorang mahasiswa yaitu mengenai dua aspek yang akan menjadi targetan seorang mahasiswa nantinya, aspek keluarga dan aspek lingkungan.

Ketika berbicara tentang proteksi sejak dini adalah bagaimana cara kita harus menjadikan semua yang berada di dekat kita menjadi nyaman dengan keberadaan kita dan mendapatkan bekal yang berarti setelah kita tidak ada. Ya, dimulai dengan keluarga, lingkungan yang menjadi miniatur perubahan bangsa. Sebagai seorang mahasiswa, kita harus memberikan contoh yang baik di keluarga. Akhlak yang baik dengan ditopang bekal agama yang kuat adalah faktor utama dapat menjadikan keluarga kita menjadi contoh untuk keluarga yang baik. Lebih spesifik lagi, ketika di sela-sela waktu luang, kita harus memberikan penanaman akhlak kepada saudara-saudara kita. Boleh dengan becanda atau apapun yang membuat kesannya tidak formal sehingga dengan penanaman akhlak sejak dini akan menjadikan seorang anak muda itu terbiasa dan enggan melakukan hal yang tidak baik.

Mahasiswa identik dengan seseorang yang selalu “berpetualang” dalam mencari ilmu demi perubahan nasib yang lebih baik. Boleh disangkal ataupun sebaiknya diakui oleh seluruh mahasiswa. Justru dengan karakter berpetualang itulah mahasiswa seharusnya sadar bahwa tempat sementara yang kita singgahi (kampus, lingkungan kampus, dan lingkungan kostan) merupakan ladang amal kita. Mulai dari yang kecil menuju hal yang besar karena ketika kita tidak terbiasa dengan rintangan kecil yang dihadapi maka rintangan besar pun akan sulit untuk kita atasi.

Mahasiswa memberikan andil yang berarti untuk tempat yang sementara mereka singgahi. Contoh realnya adalah selalu bergaul dengan masyarakat, mulai dari kalangan remaja sampai orang tua. Mulai dari bergabung dengan kehidupan mereka, kita bisa tahu segala permasalahan dan juga kita bisa mengenal sejauh mana pemahaman mereka tentang nilai-nilai agama. Ketika sudah berbaur dengan masyarakat maka mahasiswa mempunyai kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada masyarakat.

Beberapa tahapan yang harus dilakukan adalah mendekati DKM masjid sekitar dan mulai membangun kerja sama dalam upaya memakmurkan masjid terlebih dahulu. Setelah itu, kita mulai mengajak anak-anak sekitar masjid untuk mengenalkan pentingnya ibadah dan akhlak dengan metode ngajar ngaji, metode kursus gratis, atau ide lain yang membuat anak-anak mengikuti program-program yang kita rencanakan. Konsistensi dan komitmen dari mahasiswa merupakan faktor utama keberhasilan penanaman nilai agama terhadap anak-anak usia dini.

Tahapan yang harus dilakukan selanjutnya adalah berupaya mengaktifkan organisasi-organisasi kepemudaan di daerah (dimana mahasiswa tinggal sementara). Kita tidak mungkin bergerak menjadi struktur di organisasi kepemudaan tetapi kita hanya menjadi “pemanas gerakan” untuk organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna. Kita bisa menjadi pemicu semangat dan sekaligus pendamping setiap agenda-agenda yang dilaksanakan. Selama proses pendampingan berlangsung maka kita bisa menanamkan nilai-nilai agama pada setiap agenda yang kita lakukan. Bermula dari anak-anak kemudian remaja dan berujung kepada pejabat atau tokoh-tokoh setempat yang mempunyai kewenangan tinggi untuk memberikan keputusan-keputusan yang memiliki tujuan untuk kesejahteraan umat.

Berjuang sendirian itu tidak mustahil untuk menang tetapi butuh waktu lama untuk mendapatkan kemenangan tersebut, apakah kita harus menunggu lama untuk perubahan yang lebih baik? pastinya TIDAK. Jadi, sangat butuh kerja sama antar mahasiswa dan elemen di masyarakat untuk senantiasa mewujudkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia. Semoga dengan ketulusan hati dan kerja sama setiap elemen di negeri ini bisa menyelesaikan permasalahan akhlak dengan dimulai dengan menanamkan nilai-nilai agama yang menjadi dasar dari segala perubahan.

Keleluasaan dalam bergerak dan melakukan aktivitas-aktivitas merupakan harga mati bagi mahasiswa untuk menjadikan mereka menempatkan posisinya di garda terdepan dalam mewujudkan perubahan bangsa. Mulai dari penanaman akhlak pada usia dini kemudian merambat ke tataran remaja dan pada akhirnya memanfaatkan kekuasaan untuk melakukan keputusan-keputusan yang adil dan selalu mementingkan kepentingan umat. Semua itu sangat bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuatan berekspresi dan kekuatan dalam bertindak, yakni MAHASISWA. Wallahu’alam bis shawab.

BISNIS YANG DIJAMIN 1000% BERHASIL

Oleh Ferry Aldina

Ketua Departemen Pengembangan Masyarakat KAMMI POLBAN Masa Jihad 2011-2012

Sungguh menjadi suatu hal yang lumrah dan tidak aneh juga ketika orang lain berfikir bahwa bagaimana supaya bisnis itu berhasil, bagaimana bisnis itu bisa meraup keuntungan yang sangat besar dan memang kemungkinan yang bisa menjadi latar belakang orang lain untuk berbisnis adalah mendapatkan harta yang banyak. Tidak ada yang melarang untuk berbisnis dan bahkan untuk mencari rezeki pun Diriwayatkan oleh Ibrahim Al-Harbi dalam Gharib Al-Hadits dari hadits Nu’aim bin ‘Abdirrahman, Nabi bersabda

“Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan.”

Siapa sih orang yang tidak mau untung dalam berbisnis? Siapa juga yang mau merasakan pahitnya rugi? Banyak pepatah bilang kalau mau berhasil, ya bersakit-sakit dahulu. Itu SANGAT BENAR! (menurut penulis). Akan tetapi sebagai seorang muslim, alangkah baiknya kita juga harus banyak merenungkan dan banyak mengingatkan tentang Firman Allah SWT.

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” QS. As-Shaff : 10-11

Surga merupakan tempat peristirahatan bagi setiap insan yang ingin mendambakan pertemuan dengan Rabbnya. Jika kita memang menginginkan sesuatu yang manis, maka kita harus merasakan dulu yang pahit karena memang sesungguhnya Surga itu bukan untuk orang yang bersantai-santai di dunia dan selalu merasakan “manisnya” dunia.

Hayu Beramal Jama’i

Mau sholeh sendirian?? terus teman-temang dan orang lain didekat anda bagaimana? mau merelakan mereka terjerumus kepada jurangnya surga dunia? Sungguh tidak ada yang mau seperti itu. Sebagai seorang muslim yang selalu menyeru kebaikan maka sejatinya kita selalu mengobarkan api semangat dakwah jihad menuju perubahan yang lebih baik. Kerja yang sangat panjang ini akan menjadi sedikit ringan jikalau kita selalu bekerja sama dalam setiap agenda dakwah, tak ada yang dapat menyangkalnya ketika banyak orang itu lebih baik daripada cuma segelintir orang yang bekerja sehingga kerja dakwah pun bisa lebih sistematis. Islam tidak dipisahkan oleh sekat daerah, tidak dipisahkan oleh fanatisme organisasi, tidak pula dipisahkan oleh suku , karena islam sudah diikatkan dengan tali yang tidak bisa dipisahkan oleh siapapun, yakni IKATAN AKIDAH. Dimanapun dia yang menyatakan bahwa Allah sebagai Tuhannya dan Nabi Muhammad SAW maka kita harus selalu menganggap bahwa dial ah saudara kita.

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” Al-Hujurat : 10

Seketika itu setelah memahami arti dari pentingnya beramal jama’i maka menjadi suatu keputusan besar kita bahwa UKHUWAH adalah yang paling penting. Mari selalu menjadikan modal IMAN dan UKHUWAH itu melekat di dada ini dan selalu melakukan “perniagaan” yang dijamin 1000% berhasil karena kita akan selalu surplus di dunia dan akhirat karena sungguh menjadi Dzat yang Maha Pemberi Rezeki dan Pemberi Kenikmatan selalu berada di dekat kita.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” QS. Al-Baqarah : 186

Wallahu’alam bis shawab

Menyambut Tahun Baru Sebenarnya, Tahun Baru Islam!

Oleh : Ferry Aldina


Melihat sosok Nabi Muhammad SAW, mulai dari akhlak, ibadah, dan segala pengorbanan beliau ketika masih hidup akan membuat kita merasa malu terhadap diri pribadi. Betapa bodohnya diri ini yang selalu melakukan kelalaian dalam beribadah dalam menghamba kepada Sang Khalik, selalu sombong atas segala prestasi dan jabatan yang didapat, dan selalu kufur nikmat ketika diberi banyak kenikmatan oleh Allah SWT. Sungguh ironis, ketika dahulu pun Nabi selalu memikirkan umatnya (kita semua) bahkan ketika menjelang akhir hayatnya pun beliau masih memikirkan kita semua. Lantas apa yang sudah kita lakukan untuk menyebarkan nafas-nafas islam yang selalu menebarkan virus kedamaian dan selalu menghadirkan ketenangan bagi siapa yang masuk ke dalam lingkaran jiwa islam? Atau hanya menjadikan islam ini menjadi identitas pribadi saja dan tidak mau merasakan orang lain agar bisa mendapatkan kenikmatan dalam berislam.
Dalam menjelang tahun baru hijriah, 1 Muharram 1433 H maka selayaknya kita mengevaluasi diri (akhlak dan ibadah) kita terhadap Allah dan sesame makhluk-Nya. Tahun baru islam ini merupakan momentum yang sangat berharga untuk selalu dijadikan pembersih hati kita dan selalu menjadikan pribadi dengan semangat perubahan yang baru sehingga akan menjadi suatu ciri khas tersendiri bagi umat islam dalam mencontohkan perayaan tahun baru. Tahun baru bukan merupakan tahun yang berfoya-foya menghamburkan uang untuk membeli petasan tapi tahun baru merupakan ajang pembaharuan diri, masyarakat dan Negara untuk menjadikan pribadinya bersih (hati dan akhlak) dan lingkungan masyarakat yang bersih juga.
Pemerintahan yang bersih adalah pemerintahan yang selalu melakukan upaya perbaikan di sektor strukut pemerintahannya dan selalu memberikan upaya perbaikan untuk rakyat.
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)
So, ikhwah fillah semuanya. Jadikan momentum dalam menjelang tahun baru Hijriah 1 Muharram 1433 Hijriah itu menjadi momentum untuk melakukan pembersihan hati dan prilaku kita untuk selalu beribadan dan beramal kepada-Nya. Dan semoga dengan amalan-amalan yang akan dilakukan nantinya menjadikan kita selalu mendapatkan kasih sayang dari Allah untuk disebarkan kepada orang lain dalam rangka Habluminannas. “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam : 96)
HAMASAH!!!

KETIKA MIMPI ITU HILANG DARI BENAK KITA

Oleh : Ferry Aldina

Ketua Departemen Pengembangan Masyarkat

KAMMI POLBAN MASA JIHAD 2011-2012

Pernahkah kita bermimpi? Kata mimpi ini bukan berarti dalam makna buah tidur tapi mungkin lebih tepatnya adalah sebuah ambisi terhebat yang kita ingin miliki. Ketika kita sudah mendapatkan titik tolak untuk merencanakan mimpi kita, kita sangat bersemangat dalam mengejar mimpi itu tetapi apakah kita hanya menuliskan satu mimpi saja dan kita bisa fokus untuk mendapatkan mimpi itu. Tentu tidak, hal ini sangat mustahil kecuali memang orang yang tidak mempunyai tujuan hidup dan hanya “numpang” tidur, makan, istirahat, dan banyak lagi hal sia-sia yang memang tidak pantas untuk kita sebagai orang yang mempunyai mimpi-mimpi besar dalam hidup ini.

“Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’ (QS.At-Taubah:105)

Kita diharuskan untuk terus bekerja dan bekerja, selama raga ini masih mampu dan masih bisa melakukan hal yang bermanfaat, apalah gunanya waktu kalaulah tidak kita manfaatkan sebaik mungkin. Mungkin setiap orang pernah memikirkan bahwa mimpi yang sudah kita impikan ternyata dianggap hilang dalam benak kita serta percaya dan yakin akan kemampuan kita bahwa tidak akan bisa menggapainya. Sesungguhnya kita bukan penumpuk masalah tetapi pemecah masalah menjadi senyawa-senyawa elektromagnetik yang dapat menarik mimpi itu menjadi  dekat dengan kita. Solusinya mungkin adalah sesuai dengan perkataan Imam Hasan Al-Banna “ Sesungguhnya setiap umat atau kelompok yang membina dan membangun dirinya serta berjuang untuk merealisasikan cita-cita dan membela prinsip-prinsip agama maka umat itu haruslah memilki kekuatan jiwa yang dahsyat yang terekspresikan dalam beberapa hal, yaitu:

  1. 1.    Tekad membaja yang tidak pernah melemah
  2. 2.    Kesetiaan abadi yang tidak mengenal kemunafikan dan pengkhianatan
  3. 3.    Semangat berkorban yang tidak terkotori oleh ketamakan dan kebakhilan
  4. 4.    Pengetahuan dan keyakinan serta penghormatan tinggi terhadap ideologi yang diperjuangkan

Tak dapat dielakkan lagi oleh kita bahwa seseorang memang harus mengatur dirinya supaya tersugestikan untuk tetap istiqamah terhadap cita-cita yang menjadi jalan hidup baginya yang menjadi saksi nanti cita-cita besar yang semula hanya mimpi tetapi menjadi suatu kenyataan yang mustahil dicapai pada awalnya. ALLAHU AKBAR!

Jika kita berkaca pada sejarah nabi ketika Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya berambisi untuk menegakkan Islam di bumi Mekkah dan Madinah, banyak sekali cobaan dari segala bentuk cobaan-mulai dari cemoohan sampai kontak fisik-yang mengganggu dalam menggapai impian besar beliau. Terus apa yang dilakukan oleh Nabi? Apakah berhenti dan memilih mundur? Tetapi tidak kawan, mereka-Nabi dan para sahabat- tetap berjuang mati-matian demi ambisi besar mereka. Keterbuktian akan kesetiaan dan pengorbanan untuk Islam ini memang dapat dilihat dari berbagai perang dengan kaum musyrikin ataupun pengorbanan lainnya. Mereka tidak merasakan tangan mereka sudah putus ketika ditebas musuh dan terus melawan musuhnya sebelum akhirnya ada yang gugur. Mengapa mereka bisa begitu? Karena pikiran mereka sudah tersugestikan dengan sendirinya karena tekad mereka yang begitu gigih dan melakukan pengorbanan yang tidak kenal lelah.

Subhanallah sudah sepatutnya kita belajar dari para terdahulu kita yang sudah berjuang dalam mewujudkan ambisi-ambisinya. Apakah kita mau meneruskan apa yang sudah diperjuangkan dan membuat inovasi demi perubahan yang lebih baik ataukah kita malah menjadi plagiat semata dan malah menjadi tetap memiliki slope yang sama dengan nol atau tetap saja dan tidak ada yang kita usahakan. Sesungguhnya sesuai dengan Surat Muhammad ayat 7 bahwa barangsiapa yang menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya. Ambisi yang besar, cita-cita yang agung, upaya yang maksimal WAJIB kita lakukan dan tentunya jangan sampai usaha yang kita fokuskan untuk menggapai ambisi itu sampai-sampai melupakan Allah. Ingat! Allah adalah pemberi keputusan bukanlah seorang manusia yang beranggapan bisa menggapainya tanpa ada bantuan dari Sang Khalik. Saya tutup uraian ini dengan hadits Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w.

“Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekal padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas-gegas.” (Riwayat Bukhari)

Wallahu’alam bis shawab

Puisi Ibunda Tercinta

Bunda termulia….
Jiwaku rela berkorban tuk bahagiamu.
Kau tanggung derita demi derita saat mengandungku.
Dua tahun lamanya kau tumbuhkan dagingku dengan air susu kesucian.

Kau kokohkan tulangku dengan air susu ketabahan.
Kau alirkan darahku dengan air susu kegigihan.
Kau hidupkan harapanku dengan keteguhan imanmu.
Kau bangun masa depanku dengan untai doamu.

Allah mengasihi setiap tetes air matamu.
Allah memberkati tiap keringat dari tubuhmu.
Allah merahmati setiap jejak tapak kakimu.
Allah mencatat kebaikan dalam tiap hembus nafasmu.

Ibunda…..
Tak pernah kau pedulikan nasib dirimu.
Kau jadikan tubuhmu benteng yang melindungi anakmu.

Ibunda…
Tlah kau berikan hidupmu padaku.
Kini, mudah bagiku mempersembahkan nyawa untukmu.
Andai seluruh dunia berada dalam genggamanku…
Kan kutumpahkan segala isinya di bawah tapak kakimu.

Ingin kutumpahkan air mataku…
Dan bersimpuh di hadapanmu…
Kurangkai kata maaf atas kekuranganku.
Meski kuhidup berjuta tahun…

Kulalui siang dan malam tuk berbakti padamu.
Semua itu takkan mampu membayar setetes susu yang kau berikan padaku…

Kisah 5 Perkara Aneh

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.

Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghadap ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya.”

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, “Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.” Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur ‘Alhamdulillah’.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi itu, “Aku telah melaksanakan perintahmu.” Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku.” Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung elang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, yaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pahanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya. Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghirup bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, “Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini.”

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahwa, “Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu. Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah.”

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah menggunjing orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka menggunjing orang lain. Haruslah kita ingat bahawa menggunjing seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, “Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu.”

Maka berfirman Allah S.W.T., “Ini adalah pahala orang yang menggunjing tentang dirimu.” Dengan ini haruslah kita sedar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan menggunjingkan orang walaupun ia benar.

sumber : didapat dari laptop temen

BIOGRAFI PANGLIMA DAN PASUKAN TERBAIK

Sultan Muhammad Al-Fatih

Panglima Terbaik dan Pasukan Terbaik yang menaklukkan Istanbul (Konstantinopel)

Istanbul atau yang dulu dikenal sebagai Konstantinopel, adalah salah satu bandar termasyhur dunia. Bandar ini tercatat dalam tinta emas sejarah Islam khususnya pada masa Kesultanan Usmaniyah, ketika meluaskan wilayah sekaligus melebarkan pengaruh Islam di banyak negara.

Bandar ini didirikan tahun 330M oleh Maharaja Bizantium yakni Costantine I. Kedudukannya yang strategis, membuatnya punya tempat istimewa ketika umat Islam memulai pertumbuhan di masa Kekaisaran Bizantium. Rasulullah SAW juga telah beberapa kali memberikan kabar gembira tentang penguasaan kota ini ke tangan umat Islam seperti dinyatakan oleh Rasulullah pada perang Khandak.

Para khalifah dan pemimpin Islam pun selalu berusaha menaklukkan Kostantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H di zaman Muawiyah bin Abi Sufian RA. Akan tetapi, usaha itu gagal. Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayah.

Di zaman pemerintahan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk di zaman Khalifah Harun al-Rasyid tahun 190H. Setelah kejatuhan Baghdad tahun 656H, usaha menawan Kostantinopel diteruskan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia) terutama Kerajaan Seljuk. Pemimpinnya, Alp Arslan (455-465 H/1063-1072 M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos, tahun 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk.

Awal kurun ke-8 hijrah, Daulah Usmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi nafas baru kepada usaha umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat di zaman Sultan Yildrim Beyazid saat dia mengepung bandar itu tahun 796 H/1393 M. Peluang yang ada telah digunakan oleh Sultan Beyazid untuk memaksa Kaisar Bizantium menyerahkan Konstantinople secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi, usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Leng.

Selepas Daulah Usmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju dan terarah, semangat jihad hidup kembali dengan nafas baru. Hasrat dan kesungguhan itu telah mendorong Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M) untuk meneruskan usaha menaklukkan Kostantinopel. Beberapa usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi dalam masa yang sama terjadi pengkhianatan di pihak umat Islam. Kaisar Bizantium menabur benih fitnah dan mengucar-kacirkan barisan tentara Islam. Usaha Sultan Murad II tidak berhasil sampai pada zaman anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih, sultan ke-7 Daulah Usmaniyah.

Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan Kostantinopel. Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, dia telah mulai berpikir dan menyusun strategi untuk menawan kota bandar tadi.

Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya. Sejak kecil, dia dididik secara intensif oleh para ulama terulung di zamannya. Di zaman ayahnya, yaitu Sultan Murad II, Asy-Syeikh Muhammad bin Ismail Al-Kurani telah menjadi murabbi Amir Muhammad (Al-Fatih). Sultan Murad II telah menghantar beberapa orang ulama untuk mengajar anaknya sebelum itu, tetapi tidak diterima oleh Amir Muhammad. Lalu, dia menghantar Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan kuasa kepadanya untuk memukul Amir Muhammad jika membantah perintah gurunya.

Waktu bertemu Amir Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh Sultan, Amir Muhammad tertawa. Dia lalu dipukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani. Peristiwa ini amat berkesan pada diri Amir Muhammad lantas setelah itu dia terus menghafal Alquran dalam waktu yang singkat. Di samping itu, Asy-Syeikh Ak Samsettin (Syamsuddin) merupakan murabbi Sultan Muhammad Al-Fatih yang hakiki. Dia mengajar Amir Muhammad ilmu-ilmu agama seperti Alquran, hadis, fikih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya.

Syeikh Semsettin lantas meyakinkan Amir Muhammad bahwa dia adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadis pembukaan Kostantinopel. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad segera menemui Syeikh Semsettin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel. Peperangan itu memakan waktu selama 54 hari. Persiapan pun dilakukan. Sultan berhasil menghimpun sebanyak 250 ribu tentara. Para mujahid lantas diberikan latihan intensif dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah SAW terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan Islam.

Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Di hadapan tentaranya, Sultan Al-Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah SWT. Dia juga membacakan ayat-ayat Alquran mengenainya serta hadis Nabi SAW tentang pembukaan kota Konstantinopel. Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah SWT.

Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Bizantium di sana. Takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” terus membahana di angkasa Konstantinopel. Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah SWT. Mereka memperbanyak shalat, doa, dan zikir.

Hingga tepat jam 1 pagi hari Selasa 20 Jamadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453, serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Tentera Usmaniyah akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Usmaniyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fatih, akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita mereka. ( yus/berbagai sumber )

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.